Untung Ada Internet di Tengah Wabah Korona

0
147

Kolom Amsal Bakhtiar

Sulit dibayangkan kalau tidak ada internet ketika sekitar 7,5 milyar manusia di kulit bumi ini dilarang keluar rumah, tidak boleh berkumpul, dan berdekatan apalagi bersentuhan. Virus korona berukuran super kecil, yang kemudian disebut Covid-19 menjadi penyebabnya. Sejak virus korona merebak di Wuhan China Desember 2019, masyarakat dunia mulai ketakutan karena penyebarannya yang sangat cepat dan menimbulkan kematian yang cepat pula. Sampai saat ini belum ada vaksin untuk mencegahnya kecuali dengan cara menjaga jarak secara fisik, menjaga kebersihan, dan meningkatkan asupan untuk meningkatkan imun tubuh. Berbagai analisa bermunculan untuk mencari penyebab munculnya virus tersebut, mulai dari analisa teologis, historis, sampai ilmiah. Namun, semua analisa tidak ada yang mampu menjelaskan asal muasal dan cara mengobatinya dengan memuaskan bahkan sang virus tetap saja berkeliaran dengan bebas di seluruh penjuru dunia.

Sebagai makhluk sosial, tentu terasa sekali penderitaan yang dialami oleh umat manusia, terutama dalam melakukan kegiatan sehari-hari, yaitu belajar, bekerja, belanja beribadah dan sebagainya.  Akibatnya, semua orang harus berdiam diri dan semua aktivitas di atas dilakukan di rumah. Rumah biasanya untuk masak, istirahat dan berkomunikasi dengan anggota keluarga, namun karena virus Covid-19 semua kegiatan beralih ke rumah. Ibaratnya, rumah menjadi tempat all in one, yakni semua kegiatan dilakukan di satu tempat. Di rumah bertemu dengan orang-orang yang sama, sehingga komunikasi pun lama kelamaan tidak intensif dan produktif. Bahkan dalam beberapa hal dapat terjadi salah paham dalam berkomunikasi.

Di tengah-tengah kegalauan tersebut, untung ada internet (internet of things), yang  merupakan evolusi tahap keempat dari kemajuan peradaban manusia. Dengan internet, hubungan yang tadi terputus dengan dunia di luar rumah dapat terhubung kembali dan bahkan semakin intensif. Rapat dan diskusi serta belajar dengan menggunakan berbagai aplikasi, seperti Zoom dan Google dan sebagainya semakin meningkat. Ada info yang mengatakan bahwa seiring dengan semakin meningkatnya aktivitas online, pendapatan pendiri  Zoom naik 66 triliun rupiah. Internet ternyata memberikan oase bagi manusia untuk melakukan fungsi sosial dan aktivitas lainnya.

Dengan beralihnya berbagai aktivitas ke rumah diharapkan akan lebih mempererat hubungan kekeluargaan, seperti orang tua semakin dekat dengan anak begitu juga anak dengan kakak atau adik atau dengan anggota keluarga yang lain. Namun, kenyataan tidak sesederhana harapan tersebut karena terlalu sering bertemu dalam ruangan yang terbatas memiliki persoalan tersendiri. Satu minggu pertama mungkin masih biasa dan dapat dinikmati, tetapi memasuki minggu kedua sudah mulai bosan dan pikiran melayang-layang ke berbagai hal. Minggu ketiga kebosanan semakin kentara dan kesabaran benar-benar diuji karena keinginan keluar rumah semakin kuat. Memasuki minggu keempat, muncul halusinasi yang bermacam-macam, mulai dari tingkat ringan sampai berat. Pada posisi ini ketahanan mental seseorang diuji, apakah dia mampu melewati masa-masa sulit ini atau tidak. 

Tidak hanya persoalan kebosanan yang muncul, tetapi kehadiran internet ternyata merupakan “candu” baru yang hadir di tengah anggota keluarga. Tujuan utama dari internet dan gawai pintar adalah mendekatkan yang jauh, seperti berkomunikasi dengan anggota keluarga yang jauh dan mendapatkan informasi dengan cepat, tetapi kenyataannya dapat menjauhkan yang dekat. Anggota keluarga lebih sering berkomunikasi dengan anggota di luar rumah dibandingkan dengan yang di dalam rumah. Perkiraan bisa sampai 70 persen anggota keluarga berkomunikasi dengan orang-orang di luar rumah sedangkan yang di dalam rumah tinggal 30 persen dan itu pun waktu makan, beribadah, main bersama.

Dari kenyataan di atas, jelas bahwa satu sisi internet memberikan kemudahan untuk melakukan kegiatan dan berkomunikasi, tetapi sisi lain menimbulkan ketergantungan yang tinggi pada internet dan perangkatnya. Kalau persoalan ini tidak diantisipasi dengan baik, bisa saja manusia sebagai makhluk sosial menjadi makhluk yang  tidak sosial. Dia tidak peduli dengan lingkungan sosial dan hanya asyik dengan diri dan gawai pintarnya. Padahal, dalam kondisi seperti sekarang, kekuatan solidaritas sosial dan empati sangat dibutuhkan. Bangsa sedang menunggu uluran dan bantuan semua lapisan masyarakat, terutama para orang kaya, pejabat tinggi negara untuk membantu bangsa yang sedang “sakit”.

Tidak ada bangsa yang merasa dirinya paling hebat dan kuat, semua tunduk pada hukum/perintah korona, yaitu jaga jarak fisik, jaga kebersihan, dan tingkatkan imun tubuh. Korona ternyata mampu memaksa semua negara untuk mengucurkan dana yang sangat besar untuk tunduk pada hukum makhluk super kecil ini.  Korona juga mampu mendisiplin miliaran manusia untuk kembali pada pelajaran Taman Kanak-kanak (TK), yaitu mencuci tangan. Bahkan dapat dikatakan bahwa “perintah” korona lebih ampuh daripada perintah presiden sekalipun. Melanggar perintah korona berakibat jatuh sakit dan dapat berujung pada kematian, tetapi melanggar perintah presiden hanya diberi sanksi yang tidak begitu berat.

Jelas kehadiran korona menjadi pelajaran yang amat penting bagi umat manusia tentang betapa kecilnya dirinya dibandingkan dengan alam semesta.  Hal ini menunjukkan bawa semakin meningkatkan kesadaran kita betapa Tuhan yang Maha Pencipta menyadarkan kita semua agar tidak sombong dan angkuh. Ketinggian ilmu dan teknologi serta kekayaan ternyata tidak menjamin semua masalah mampu diatasi. Dalam posisi ini manusia harus sadar bahwa dia adalah makhluk yang rentan dan sekaligus mengakui ada Zat yang Maha Tidak Rentan. Kesadaran seperti ini membawa optimisme bagi umat beragama, yakni tetap berjuang melawan penyakit dan menyerahkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Dua macam optimisme tersebut menjadi dasar bagi umat beragama untuk tidak mudah frustrasi dan panik. Pertama, optimisme tetap berusaha sekuat mungkin untuk mencari obat penangkal korona. Buktinya para ilmuan dan laboratorium di semua negara berusaha untuk mencari obat korona. Diharapkan dengan kehadiran korona ilmu dan teknologi pengobatan semakin maju. Kedua, optimisme kepasrahan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, Pemilik Semua Kehidupan karena segala kejadian di permukaan bumi ini ada hikmahnya. Banyak kasalehan yang terlihat ketika wabah korona, antara lain ibadah umat beragama semakin meningkat, kehadiran Tuhan semakin terasa, dan kegalauan dapat diobati dengan doa. 

Akhirnya, untung ada internet adalah bagian kecil saja dari katup pengaman dari kegalauan yang dibuat oleh korona.  Katup pengaman yang lain adalah keyakinan bahwa korona makhluk Tuhan yang tentu ada hikmahnya bagi umat manusia. Kesiapan mental untuk tidak panik dan tetap waspada adalah bagian yang tidak terpisahkan dari katup pengaman dalam menghadapi wabah korona. Semoga internet tidak mati untuk menshare tulisan ini dengan iringan doa semoga korona kembali ke gua tempat asalnya agar kita dapat hidup normal kembali dan mudik setelah korona mudik, dadaaa.

Ciputat, 18 April 2020

Penulis, Dosen Pascasarjana UIN Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here