Pencinta Sejati Paling Sadis (1)

0
174

Pena : Sipil Institute

Selamat dan tetap semangat sahabat. Di tengah kehidupan sosial yang tercabik-cabik, rasa kemanusiaan diperkosa, tali temali silaturahmi digunting-gunting, dipotong-potong, denyut nadi kehidupan saudara-saudara kita di bawah berhenti, tersumbat, oleh serangan covid-19 yang membabi buta. Jiwaku menjadi liar memberontak dalam sunyi, mataku pun basah dalam kekeringan rasa #dirumahaja.

Seorang sahabat seperjuangan di ibu kota yang memahami liar dan tajamnya mata penaku bertanya, kenapa Sipil Institute belum mengeluarkan tulisan-tulisannya yang mengkritisi serangan virus corona. Kalau sudah hampir dua bulan sang virus membakar ketakutan, Sipil Institute belum tertarik menulisnya, itu karena masih bingung apakah ini virus yang muncul secara alami atau justru ada tangan-tangan Iblis yang mendesainnya. Karena itu Sipil Institute lebih tertarik menjahit waktu dan menyulam masa Social Distancing (PSBB) ini dengan merekontruksi ulang tulisan bersambung “Petarung Cinta Sejati”  seperti berikut ini.

Maha karya La Galigo adalah salah satu karya sastra terbesar di jagad ini, bisa jadi adalah naskah klasik terpanjang yang pernah dihasilkan umat manusia. Tersusun sekitar 300.000 larik sajak dengan berbagai cerita berangkai. Menurut peminat sastra Nirwan Ahmad Arsuka (Kompas 1/2/2000), dari segi jumlah larik saja, La Galigo sudah melampaui lebih panjang satu setengah kali epos terbesar anak benua India yang kerap dianggap terpanjang di dunia “Mahabharata”.

Alkisah, seorang putra mahkota Kerajaan Luwuk bernama Sawerigading tengah gembira bermain bola raga (maraga) di halaman istana. Di kalangan lingkungan istana, sang putra mahkota dikenal punya hobbi dan piawai memainkan bola sebesar buah kelapa itu yang terbuat dari anyaman rotan. Suatu waktu ketika lagi riang maraga, tanpa sengaja bola raganya ketendang tinggi sampai memecah salah satu jendela kaca di lantai dua istana. 

Ketika Sawerigading menengok ke atas mengikuti arah bola, terlihatlah seorang gadis di lantai dua istana yang kecantikannya melebihi kecantikan semua bidadari di langit biru. Seketika kecantikan sang gadis itu mencabut seluruh fungsi-fungsi pancaindra Sawerigading. Matanya yang tajam tidak mampu lagi melihat benda selain raut wajah putih seputih kapas itu. Telinganya tidak mampu lagi mendengar suara selain bisikan kalbunya yang mendayu-dayu. Bibirnya tak sanggup lagi menyebut sepata kata pun selain decak kagum tak terbahasakan dalam kebisuannya. Kedua kakinya yang selama ini lincah memainkan bola raga tak mampu lagi ia gerakkan. Hatinya pun yang selama ini kokoh laksana batu karam kini meleleh mencair terus mengalir menelusuri urat nadinya hingga tenggelam di muara rindunya. 

Rindu tak terbatas ke dara kelewat cantik yang menghabiskan waktu dengan mabuk mandi dan bercakap dengan segala jenis burung. Seorang makhluk langit yang dititipkan ke bumi. Sang putra mahkota telah jatuh cinta kepada gadis yang membuat seluruh ruang dan waktu memancarkan cahaya karena kecantikannya. Makhluk paling paling cantik dan paling cendekia dalam seluruh kosmologi Bugis.

Pangeran muda itu sesungguhnya sudah punya beberapa isteri, tetapi setelah melihat kecantikan gadis itu lumpuh semua ingatannya. Tidak pernah merasakan cinta sekuat dan sedalam ini sebelumnya. Inilah cinta sejatinya yang dicari dan diperjuangkan, walau harus menghancurkan hukum dan segala jenis norma. Baginya cinta adalah hukum atau norma itu sendiri. Sehingga ketika sedang jatuh cinta, tidak ada lagi hukum atau norma yang berlaku, karena hukum atau norma tertinggi adalah CINTA itu sendiri. 

Sejak melihat sepintas kecantikan wajah gadis itu, sukmanya terbang dan rohnya memberontak memporak-porandakan kenyataan. Karena itu dengan berbagai cara Sawerigading terus mencari jalan untuk menemui dan memiki cinta gadis pujaannya. Namun seluruh arah mata angin tertutup rapat tak memberinya celah.

Kenapa Sawerigading sang pustra mahkota yang perkataannya adalah hukum tak terbantahkan, tetapi susah memiliki cinta sang gadis yang selama ini tinggal di lantai dua istana? Siapakah sesungguhnya gadis itu yang tidak mudah mabuk dalam gelombang cinta sang pengeran muda bermata elang itu?

(Bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here