Sumpah Maha Dahsyat Latemmamala

0
321


Kolom Ruslan Ismail Mage

Soppeng memiliki sejarah cemerlang dimasa lalu. Soppeng merupakan bekas Kota Kerajaan masa lampau yang memiliki wilayah kekuasaan dan pengaruh yang cukup luas. Karena itu Soppeng parnah manjadi daerah utama di Sulawesi Selatan yang terkenal ke pelosok-pelosok wilayah, bahkan beberapa negara. Dalam banyak sumber di jelaskan bahwa sejarah Soppeng diawali dengan munculnya “Tomanurung” dalam istilah bahasa Indonesia dikenal sebagai orang yang muncul seketika.

Saat itu, masyarakat Soppeng tengah dilanda kegetiran dan kemiskinan yang menyebabkan rakyat mengalami penderitaan dan kelaparan. Untuk mengatasi itu berkumpullah tokoh-tokoh masyarakat “tudang sipulung” mencari solusi mengatasi masalah kelaparan dan penderitaan masyarakat Soppeng.
Sementara musyawarah berlangsung, tiba-tiba dua ekor burung kakak tua (dalam bahasa Bugis dikenal sebagai “cakkelle”) ramai memperebutkan setangkai padi yang berisi bulir-buliranya.

Perilaku burung kakaktua ini menarik perhatian seluruh peserta pertemuan hingga menyebabkan musyawarah terganggu. Arung Bila kemudian menyuruh Matoa Tinco untuk menghalau dan mengikuti cakkelle tersebut yang terbang menuju Sekkanyili. Ditempat inilah ditemukan seorang berpakaian indah sedang duduk di atas batu, yang pada akhirnya diangkat menjadi Raja Soppeng pertama dan diberi gelar “Latemmamala Manurung’e Ri Sekkanyilik”.

Di era Kesultanan Soppeng (1300-1957) M ketika Latemmamala sebagai Datu pertama di Soppeng yang menjalankan tata pemerintahan kerajaan Soppeng, kehidupan rakyat bersatu padu dan mengalami kemakmuran. Salah satu kunci utama keberhasilan Latemmamala menjalankan pemerintahannya yang memakmurkan rakyatnya adalah konsistensinya menjalankan sumpahnya sebagai pemimpin di depan rakyatnya.

Saat itu ketika Latemmamala menerima pengangkatan dengan gelar DATU Soppeng, Latemmamala mengangkat sumpah di atas Batu yang diberi nama “Lamung Patue”. Sambil memegang segegenggam padi, Latemmamala mengucapkan sumpah dengan kalimat yang artinya : “isi padi ini tak akan masuk melalui tenggorokan saya bila berlaku curang dalam melakukan pemerintahan selaku datu Soppeng.

Subhanallah! Inilah sumpah seorang pemimpin yang paling menggetarkan bumi, dan menggoncangkan jiwa-jiwa rakyat yang dipimpinnya. Sumpah seorang pemimpin yang hanya menjadikan rakyat sebagai satu-satunya majikan yang harus diladeni. Sumpah seorang pemimpin yang 24 jam waktunya bertasbih untuk kepentingan rakyatnya. Sumpah seorang pemimpin yang menyadari benar kalau sekecil apa pun kepemimpinannya akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Tuhannya. Sehingga sejatinya setiap pemimpin harus melakukan sumpah Latemmamala.

Sumpah Latemmamala ini mendapat justivikasi (pembenaran) dari seorang filosof Perancis abad ke-14 Nicholas de Farand yang mengatakan : “Membangun negara dengan penuh kepalsuan dan kebohongan adalah laknat bagi peradaban masa depan negeri.” Hal ini kembali dipertegas oleh mantan presiden Amerika Serikat paling tangguh Theodore Roosevelt yang mengatakan : Jika anda berhasil menipu dibawah keremangan malam, Anda akan ketahuan dibawah sorotan lampu.

Kalau semua pemimpin di Indonesia (presiden, gubernur, bupati, walikota) melakukan Sumpah Latemmamala ini, dipastikan negara mejadi kuat, tangguh, dan makmur (disegani secara politik, dihormati secara ekonomi, dan dihargai secara budaya). Begitu pula pembangunan infrastruktur di setiap provinsi, kabupaten dan kota akan menjadi berkembang. Terjadi distribusi keadilan dan ekonomi yang merata kepada seluruh warga bangsa. Negara tidak perlu lagi KPK karena para pemimpin sudah bersih dari korupsi, takut dimakan sumpah Latemmamala yang maha dahsyat ini. Saya menyebut maha dahsyat, karena sumpah ini adalah sumpah mati bagi seorang pemimpin untuk menjadikan rakyat satu-satunya majikan yang wajib dilayani. Kenapa sumpah mati? Karena kalau dilanggar, isi padi (beras) tidak akan masuk dalam tenggorokannya. Itu bararti tidak bisa makan, dan akhirnya bisa mati.

Menuju Pemilukada serentak 9 Desember 2020, adakah pemimpin daerah terpilih yang berani melakukan “Sumpah Latemmamala” ini? Paling tidak, Kabupaten Soppeng yang akan melaksanakan Pemilukada, pemimpin terpilihnya bisa melakukan Sumpah Latemmamala untuk menginspirasi pemimpin terpilih daerah-daerah lain melakukan sumpah yang sama. Sumpah Latemmamala ini sangat penting, agar rakyat kecil yang selama ini hanya
dijadikan obyek kapanye politik bisa merasakan nikmatnya menjadi rakyat yang dihargai dan disayangi pemimpinnya.

Penulis : Akademisi, inspirator dan penggerak, Founder Sipil Institute Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here