Sitti Aminah Merantau ke Negeri Seberang

0
99

Kolom Fiam Mustamin

SISWI Sitti Aminah disapa dengan Mina teman sekelasku di Sekolah Rakyat (SR) di kampung. Mina panggilan sehari harinya, anak yang ramah periang berkulit putih bersih rambut hitam lebat berombak
menjadi pujuaan di kelasku bahkan satu sekolah memperhatikannya. Mengapa ?

Mina anak cerdas meski bukan juara kelas dan ia juga aktif dalam kegiatan kesenian seperti membaca sanjak/puisi/ berdeklamasi dan menari.

Di dalam menyemarakkan perayaan ulang tahun kemerdekaan ia memenangkan lomba cerdas tangkas yang materinya tentang hari hari bersejarah, tokoh-tokoh pergerakan dan pejuang untuk Indonesia merdeka.

Mina juga tergolong anak yang rajin membantu orang tuanya yang kehidupannya bertani.

Di sekolah itu ada beberapa kakak kelas siswi yang menjadi sorotan siswa karena pesonanya.

Mereka mereka itu tergolong anak berada (pedagang, punya sawah dan kebun) dan turunaan arung (bangsawan). Saya sebut antara lain Anggarimi, Jufriah, Zukfikar, Sahrani, Hamsinah, Andi Mega kembar.

Teman teman laki-laki sepermainan antaranya Guntur Hodi, Sudirman Djide, Andi Base Sondo, Mustomo Amir, Mustari, Nori, Sudirman Takkalasi, Sodding Mannahali dan lain yang sudah lupa namanya.

Setamat SR Mina bertekad ikut merantau bersama pamannya Beddu sekeluarga dengan cita-cita meraih peluang untuk membahagiakan orangtuanya.

Dalam batinnya Mina berdoa ingin mengantarkan kedua orangtuanya menunaikan ibadah haji di usianya yang semakin tua.

Karena itulah di tempat rantau yang jauh menyeberang laut, Mina tetap bersekolah, sembari membantu bibinya sampai menjelang masuk perguruan tinggi.

SEKIAN lama Mina berpisah dengan orangtua, adik-adiknya serta teman-teman sekolah dan sepengajiannya

Kerinduan yag begitu dalam tak bisa Mina sembunyikan ketika bulan ramadhan dan hari raya Lebaran.

Mina mengingat semua dimasa kanak itu, shalat tarwih dan subuh dengan ceramah dari imam masjid.

Persiapan menjelang hari raya Lebaran dengan mendandani perabot rumah, membuat aneka kue serta masakan khas Lebaran.

Mina merasa suasana puasa dan Lebaran di kampung halaman kelahirannys tak bisa ditukar ditempat lain.

Mina membenarkan kata-kata bijak bahwa hujan emas di negeri rantau tetap lebih baik di kampung sendiri.

Bukan itu saja, Mina menerawang jauh di kampung yang telah ditinggalkan. Ia mengingat sungai tempat mencuci pakaian dan mandi berenang dan mengambil ikan kecil dipindahkan ke sumur atau ke gentong/bempa di di ujung tangga dasar rumah panggung.

Rindu ke sawah disaat pembajakan yang dihela oleh sepasang sapi, di saat seperti itu sering menemukan telor bebek di pinggir pematang/ petawu, dan di musim padi berbuah/ manddongi mengusir burung yang akan memàngsa buah padi sertà pada saat panen/ maringngala memotong batang buah padi dengan alat yang disebut pakkaweng/katto katto.

Bersama teman sepengajiannya Mina mencari dan mengumpulkan kayu bakar untuk guru ngajinya.

Menjelang ujian akhir SMA di rantau, Mina menerima khabar bundanya/indonya sakit.

Hati Mina bimbang antara pulang yang sudah direncanakan rindunya dengan ibundanya atau menunggu ujian akhir.

Hatinya mengatakan pulanglah … cukup ayahandanya/ ambonya berpulang tanpa kehadiriannya tiga tahun silam.

Di tengah laut dengan perahu layar pengankut barang, Mina terombang ambing besarnya gelombang laut.

Mina nampak begitu gelisah dan pusing lalu tertidur di dek terbuka di hempas angin dan cipratan air laut.

Di tengah lautan itu antara sadar, Mina di alam mimpinya : melihat Indonya melambai lambai dengan senyum tanpa kata-kata … menyambut kedatangan anak gadisnya yang juga sudah lama dirindukannya.

Sayup terdengar azan subuh masjid dekat rumah panggung Mina, kemudian berganti dengan lafal tahlil beruntun ; lailaha illahlah … suara itu kemudian beralih ke rumah Mina.

Mina tersentak dan terjaga … ia menenangkan diri dan istigfar beberapakali mengatur nafasnya lalu mengingat mimpinya barusan.

Setelah Mina merasa tenang dan memastikan apa yang dimimpikan itu, Mina bangun duduk tertunduk melafalkan; Inna lillahi wainna ilahi rajiun.

Mina beranjak mengambil wudhu lalu shalat yang dalam sujudnya, Mina menumpahkan segala doa untuk Indonya yang diyakini sudah berpulang.

Entah berapa lama Mina bersujud dengan air mata yang tumpah ke sajadah.

Mina meyakini dan membesarkan hatinya bahwa sesungguhnya ia telah dipertemukan kembali dengan indonya sekalipun itu di alam ruh mimpi.

Diatas pusara Indonya yang berdampingan dengan Ambonya, Mina menyiramkan dan meletakkan potongan daun pandang lalu mengangkat tangan berdoa menunduk ke pusara nisan kayu seolah ia bercakap dengan ; indoku … anakmu Mina datang menunaikan bhakti kepada orangtua …kepada keluarga dan kampung … anakmu Mina akan selalu menjaga amanahmu dan mendoakan di alam kubur sampai di akhirat kita dipertemukan aamiin … Siti Aminah.

Beranda Inspirasi Ciliwung 15 Deptember 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here