Kolektif Kolegial, Model Kepemimpinan yang Diusung Muchlis Patahna

0
231
Mencari solusi model kepemimpinan KKSS yang diinisiasi Jaenal Mappe. Muchlis Patahna (kanan) menawarkan sistem kolektif kolegial dalam ber KKSS.

PINISI.co.id- Kandidat terkuat Ketua Umum Badan Pengurus Pusat KKSS H. Muchis Patahna SH, apabila terpilih menjadi ponggawa warga Sulawesi Selatan di rantauan, akan mengusung KKSS dengan model kepemimpinan kolektif kolegial. Jadi kontra dengan model terpusat dan sentralistik dalam satu komando,  namun kebijakan organisasai diputuskan lewat musyawarah dan peran pengurus  terbagi dalam kebersamaan, sehingga beban tidak dipikul oleh ketua umum sendiri.

“Misalnya dalam pembiayaan organisasi, kita tidak sepenuhnya mengandalkan ketua umum, tapi menumbuhkan semangat berbagi, gotong royong. Berat sama dipikul ringan sama dijinjing,” kata Muchlis yang pernah menjadi Sekjen KKSS.

Muchlis mengibaratkan organisasi KKSS tidak dikelola dengan manajemen tukang cukur atau tukang sate yang dikerjakan sendiri. “Tukang sate itu, dia yang belanja, dia mengerat daging, dia yang menusuk dan memanggang, dia pula yang menyajikan sekaligus memungut uangnya,” jelas Wakil Ketua Umum KKSS ini.

Ketua Makassar Golf Club Jakarta (MGCJ) ini juga bakal menempatkan pengurus pada kompetensinya dan memampukan segenap potensinya sehingga KKSS lebih efektif karena semua elemen aktif bekerja.  

Model kepemimpinan yang ditawarkan Muchlis merupakan antitesa dari sistem yang digunakan Sattar Taba dalam memimpin KKSS selama ini. Betapa tidak, Sattar kerap mengungkapkan di depan pengurus bahwa ia menghabiskan dana sebesar Rp 12 milyar selama lima tahun kepemimpinannya. Ini lantaran sejak menakodai KKSS, Sattar sering tidak membolehkan beredar proposal yang dihimpun dari warga apabila ada event besar yang dihelat KKSS.

Sementara hitungan Muchlis Pathana dan Andi Jamaro Dulung — dua kandidat yang akan bersaing menjadi ketua umum KKSS — anggaran KKSS dalam lima tahun mencakup biaya bulanan kesekretariatan, kunjungan konsolidasi ke daerah, tidak sampai 3 miliar dalam satu periode kepengurusan. “Ini pun pembiayaan dipungut dari pengurus, kemitraaan, dan simptasin KKSS. Sementara dana abadi bisa dikolek lewat fundraising,” tambah Muchlis.

Pengumpulan dana itu sering dipraktikkan Muchlis ketika ada musibah yang menimpa warga KKSS. Dalam waktu cepat, Muchlis langsung menginisiasi dana hingga 1 miliar lebih sewaktu tsunami menerjang Sulawesi Tengah 2018. Demikian juga kerusuhan di Wamena, lewat MGCJ yang ia pimpin dan juga KKSS, dapat mengumpulkan dana ratusan juta dari warga dalam waktu singkat.  

“Ini lantaran sistem kepemimpinan kolegial, sehingga semua warga bisa berpartisipasi dan merasa memiliki organisasi KKSS,” pungkas Muchlis.

[Lip]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here