Wajo: Menatap ke Depan

0
519
- Advertisement -

Kolom Hafid Abbas

Di tengah-tengah suasana bulan suci ramadhan, masyarakat Wajo telah menyambut pula hari jadinya yang ke-624 bertepatan dengan hari ketujuh puasa (29 Maret 2023). Hari jadi ini terlihat pula sebagai hari bersejarah bagi seluruh umat manusia, karena bertempatan (historic co-incident) dengan suasana Hari Kebahagiaan Internasional (United Nations International Day of Happiness), 20 Maret yang telah dicanangkan oleh PBB melalui sidang umumnya pada 28 Juni 2012.

Sejarah umat manusia memperlihatkan bahwa tidak ada satu pun masyarakat, bangsa atau peradaban yang terus menerus maju atau terus menerus tertinggal. Ada pasang surut kehidupan. Kerajaan Romawi, Malaka, Inggeris mengalami hal yang sama. Mungkin saat ini masyarakat kita berada pada titik terendah dalam fase perjalanan peradabannya, namun ini tidak berarti kita tidak bisa bangkit menjadi masyarakat yang maju dan sejahtera.

Peradaban Inca misalnya, pernah menguasai lebih 3000 mil pantai Peru hingga ke kawasan Pasifik, hanya bertahan kurang dari 100 tahun lalu hancur. Begitu pula Uni Soviet, negara adidaya, maju dan sejahtera, tetapi ternyata bisa juga hancur dan hilang dari peta dunia, terpecah menjadi 15 keping-keping negara baru pada 26 Desember 1991. Demikian pula Yugoslavia, negara yang relatif maju, stabil dan sejahtera, namun juga pada 4 Februari 2003 pecah menjadi tujuh keping negara baru.

- Advertisement -

Sebaliknya ada pula bangsa kecil, yang tidak memiliki sumberdaya alam yang memadai, bahkan tidak memilki sumber air minum, tapi kini menjadi negara maju dan sejahtera. Singapura, (773 km persegi), misalnya, berukuran 3,5 kali lebih kecil dibanding kebesaran wilayah Kabupaten Wajo (2.506 km persegi), namun bangsa ini tercatat sebagai negara dengan tingkat pendapatan penduduknya kedua tertinggi di dunia atau berpendapatan rata-rata Rp 165 juta sebulan (2022). Begitu juga Malta, negara kecil berukuran 316 km persegi di sebelah selatan Eropa, atau seperdelapan dari luas wilayah Wajo, namun penduduknya (520 ribu) berpendapatan rata-rata Rp 70,4 juta sebulan.

Begitu juga tingkat kebahagiaan satu masyarakat, bangsa atau peradaban, mengalami fase pasang surut, ada kalanya maju, mundur atau mendatar. Jika melihat laporan PBB (World Happiness Index 2022), dari 146 negara, tiga negara paling bahagia di dunia, terbebas dari korupsi, bersih, pekerja keras, disiplin, sejahtera adalah Finlandia dengan skor 7,84, kemudian disusul Denmark (7,62) dan Swiss (7,57) di urutan ketiga. Sebaliknya yang paling menyedihkan adalah Afghanistan di urutan terendah 146 (2,5), Malaysia di peringkat 79 (5,38) dan Indonesia di urutan 80 (5,38).

Yang menarik adalah Finlandia yang sudah enam kali berturut turut berada di peringkat teratas sebagai negara paling bahagia di dunia, apa indikatornya.

Ternyata semua persyaratan itu ada dan tumbuh dalam khasanah nilai-nilai masyarakat Bugis pada umumnya dan Wajo pada khususnya.

Pertama, masyarakat Finlandia lebih mementingkan bekerjasama dibanding dengan bersaing. Nilai-nilai itu tumbuh dan ditanamkan sejak dini di jenjang pendidikan dasarnya. UNESCO mengangkat model pendidikan Finlandia sebagai kasus. Finish education model is encapsulated in its values of neither giving homework to student everyday nor conducting regular tests and exams. Instead, it is listening to what the kid want and treating them as independent thinkers of society (UNESCO, 2018).

Anak-anak Finlandia amat bahagia menjalani pendidikannya karena mereka tidak diberi pekerjaan rumah, tidak dipaksa untuk bersaing, tapi mereka diberi kesempatan bermain lebih lama atau bersama keluarga.

Ternyata Finlandia telah tercatat sebagai negara dengan mutu terbaik pendidikannya di dunia (weforum, 10/09/2018). Filosofi pendidikannya yakni memberinya kebahagiaan mengembangkan segala petensi anak secara maksimal sesuai dengan kemampuannya.

Model pendidikan di Finlandia, sebenarnya juga tumbuh di lingkungan Pondok Pesantren Asadiyah di Wajo. Dalam perjalanan sejarahnya yang panjang sejak 1928, dan kini terus berkembang dan sudah memiliki lebih 400 cabang di seluruh tanah air, nilai-nilai kebersamaan itu tumbuh dalam khasanah kehidupan pendidikannya. Bagi masyarakat Wajo semangat kebersamaan itu dikenal dengan 3S (Sipakatau, Sipakainge dan Sipakalebbi), serta berpegang teguh pada Agama.

Kedua, masyarakat Finlandia memiliki tingkat kesenjangan sosial yang amat rendah. Taraf kesejahteraan kehidupan masyarakatnya merata. Keadaan ini mirip dengan struktur kehidupan sosial ekonomi Wajo. Pertumbuhan ekonomi kabupaten Wajo mencapai 6,67 % (BPS, 2021), terlihat ketiga tertinggi di Sulawesi Selatan, berada setelah Bantaeng 8,86% dan Gowa 7,77%.

Salah satu penggerak ekonomi masyarakatnya adalah kerajinan sutra. Kota Sengkang sudah dikenal oleh masyarakat luas di seluruh wilayah nusantara sebagai kota sutra sejak berabad-abad silam. Karenanya, tidaklah mengherankan jika Wajo telah menikmati tingkat pendapatan yang merata dan relatif tinggi yakni Rp58,83 juta (BPS 2021) atau dua kali lebih tinggi dibanding Gowa di angka Rp27,45 juta (2021), dan Bantaeng Rp46,8 juta (2019).

Di Wajo, industri rumah tangga tumbuh pesat, merata dan mengakar kokoh di semua strata. Ibu-ibu rumah tangga umumnya terampil menenun sutra menjadi kain sutra yang berkualitas tinggi dengan beragam corak dan motif keindahannya.

Ketiga, masyarakat Finlandia banyak menikmati waktu sengganggnya dengan aneka ragam keindahan alam negaranya. Warga Helsinki misalnya, dalam hitungan menit, mereka bisa bersama keluarga ke taman-taman kota, atau ke pulau terdekat. Di negara ini terdapat lebih 40 taman-taman nasional (national park) sebagai taman rekreasi untuk melayani seluruh warganya yang berjumlah 5,6 juta (2022).

Mirip dengan Finlandia, Wajo juga memiliki sejumlah keindahan alam yang menjadi kebanggaan tersendiri bagi warganya. Keindahan alam itu juga telah memberi daya pikat tersendiri bagi para wisatawan dalam dan luar negeri. Danau Tempe misalnya, yang luasnya 350 km per segi, dikelilingi dengan barisan pegunungan yang hijau dengan aneka ragam spesies flora dan fauna di sekitarnya termasuk berbagai jenis burung yang berhabitat di kawasan danau ini, adalah salah satu contoh warisan alam (natural heritage), aset sosial ekonomi yang telah mengangkat taraf kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakat Wajo.

Pada 2003, ketika saya masih Dirjen Perlindungan HAM, Duta Besar Jepang Yutaka Iimura mengajak saya berkunjung ke Wajo. Alasannya, ayahnya pernah tinggal di Pesanggarahan, di Bukit Danau Tempe. Iimura sengaja membawa sejumlah foto yang diambil dari album peninggalan ayahnya di Tokyo. Ternyata ayahnya pernah tinggal di tempat ini ketika Perang Dunia II, sebagai Tentara Jepang. Semasa hidupnya, ayahnya sering bercerita atas keindahan Danau Tempe.

Selain Danau Tempe masih banyak lagi destinasi wisata alam dan buaya di daerah ini sebagai aset yang tidak ternilai bagi peningkatan taraf kesejahteraan dan kebahagiaan seluru warga masyarakat Wajo.

Keempat, Finlandia tercatat sebagai negara paling bahagia di dunia karena sangat aman. Dalam kehidupan masyarakatnya sehari-hari, sepanjang tahun tidak merasakan adanya gangguan keamanan. Warga hidup dalam keadaan rukun dan damai. Ini terwujud karena ketatapemerintahannya (good governanace) berjalan dengan baik, pemerintahannya terbebas dari korupsi sehingga kepatuhan masyarakatnya terhadap hukum amat tinggi.

Jika dibanding dengan kota-kota dan kabupaten lain di tanah air, Wajo termasuk kategori kabupaten yang sangat aman. Data kasus kejahatan di Wajo pada 2022 mencapai 338 kasus (selebes.com 30/12/2022), sementara di Makassar terdapat 25.367 kasus. Wajo terlihat 75 kali lebih aman dari Makassar (Fajar, 01/01/2023).

Salah satu faktor pendukung terwujudnya suasana aman ini adalah kehadiran Wajo sebagai kota dan tujuan pendidikan agama Islam dari hampir semua wilayah di tanah air.

Terakhir, Finlandia memberi layanan pendidikan gratis di semua jenis, jenjang dan jalur pendidikan. Begitu juga layanan kesehatan terbaik diperuntukkan kepada siapa pun warga negara Finlandia secara gratis.

Selamat Hari Jadi Wajo ke 624, semoga kelak menjadi kabupaten dan kota yang maju, sejahtera dan bahagia dan kelak dapat setara dengan kota mana pun di tanah air.

Penulis Ketua Senat UNJ

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here