Tips Lebaran Sehat: Jaga Pola Makan, Silaturahmi dan Tidak Menularkan Virus

0
49

Masak menu Lebaran secukupnya agar habis dalam satu hari. Hindari masakan yang  terlalu lama pengolahannya.

PINISI.co.id- Ahad besok, 24 Mei atau 1 Syawal 1441 H umat Islam akan merayakan Idul Fitri di tengah pandemi. Pastinya Lebaran identik dengan makanan yang serba lezat dan berkalori tinggi. Sebagian orang meluapkan keinginannya untuk menyantap apa saja di meja makan setelah sebulan penuh berpuasa. Padahal, pada hari kemenangan itu, penting kiranya untuk tetap menjaga pola makan.

Menyikapi hal itu, Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi; Komunitas Literasi Gizi (Koalizi); Literasi Sehat Indonesia (Lisan); Departemen Kesehatan BPP. KKSS, dan www.sadargizi.com., kembali mengadakan diskusi virtual Lebaran Sehat 1441 H, (21/5/20). Kolaborasi ketiga lembaga yang bergerak dalam literasi dan promosi kesehatan ini, mengaitkan sehat dan kesehatan pada Hari Lebaran., dengan Ns. Syarifudin, M.Sc. sebagai pemandu.

Penyelenggara diskusi dr. Zaenal Abidin mengajak semua orang, entah tokoh masarakat, pemuka agama, bahkan pejabat publik, berusaha untuk memiliki pengetahuan dan pemahaman serta berperilaku sehat sehingga dapat menjadi teladan terhadap masyarakat lain. “Sehat dan kesehatan itu merupakan nikmat Allah SWT., anugerah Tuhan terbesar kedua setelah nikmat beriman kepada-Nya,” kata Zaenal.

Zaenal mengutarakan, banyak cara untuk memberi makna terhadap Lebaran Sehat ini. Antara lain, mampu mengatur pola makan dan menjaga silaturrahim. Termasuk, tidak tertular dan tidak menularkan Covid 19.

- Advertisement -

Dalam pandangan Dr. Tirta Prawita Sari, M.Sc., Sp.GK, dua hal yang krusial dalam mengatur pola makan saat Ramadhan, yaitu pola makan yang luar biasa berbeda selama sebulan.

Karakteristik menu saat Lebaran biasanya tinggi gula, tinggi lemak jenuh dan trans tinggi sodium, rendah serat, tinggi energy, rendah zat mizi mikro: vitamin dan mineral. “Menu Lebaran tinggi energi dan kalori, sebab setiap jenis menu melalui proses pengolahan yang lama dan rumit. Dan, setiap jenis menu menggunakan banyak bahan. Bahan yang digunakan mengandung kalori yang tinggi untuk setiap itemnya,” ucap dosen Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta dan Ketua Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi ini.

Tirta memberikan tip agar menu yang akan dihudangkan, proses pengolahan harus sederhana, dan tidak boleh lama. Dicontohkan semisal memasak opor ayam, dengan mengganti santan dengan susu cair, yogurt atau produk lain. Tak perlu menumis bumbu. “Kurangi garam, atau gunakan garam diet. Buang kulit ayam. Jika masing menggunakan santan, pisahkan santan. Beri 1 atau 2 sendok makan ke dalam piring sebelum makan. Atau sirup. Sirup atau minuman bersoda disarankan untuk diganti dengan es teh manis stevia,” urainya.

Jadi, kata Tirta, agar tetap sehat maka  sejatinya makanlah dengan gembira,  makan saat lapar datang, berhentilah bila lapar sudah tidak terasa. “Jika bosan, carilah kegiatan lain, jangan letakkan toples kue di depan Anda, sebaiknya simpan di lemari. Gunakan gula substitusi serfta mengganti santan dengan substitusi atau ganti menu,” jelasnya.

Selanjutnya kunyah perlahan dan beri waktu kepada tubuh, meinum air yang banyak, pastikan dikonsumsi bersama semangkuk sayuran rebus/acar/kimchi. Sayuran minimal 3 porsi perhari, memakan alpukat, extra virgin olive oil atau almon panggang. Jika tidak ada kontra indikasi, minum suplemen omega 3. Jangan lupa memakan buah potong, maksimal 3 porsi, minum yogurt/kefir water/air cuka apel/makanan fermentasi lainnya.

Kemudian, kita disarankan untuk tetap bergerak, serta memaafkan diri jika melakukan kesalahan dalam mengonsumsi makanan yang tidak sehat dan segera bertobat jika berjanji hanya akan mengonsumsi makanan pada hari itu saja.

Tirta berpesan, Lebaran hanya satu hari yaitu hanya 1 Syawal saja, sehingga memasak menu lebaran secukupnya agar habis dalam satu hari. Jangan berlebihan. Dan jangan memanasi makan berulang-ulang. Untuk kue Lebaran, Tirta menyarankan disimpan di lemari, keluarkan dalam toples kecil. Ambil secukupnya. Maksimal 3 jenis kukis dan 1 buah perhari.

Menjaga Silaturahim

Menurut ustas Abul Hayyi Nur, S.Pd.I, S.Sos, Lebaran Sehat dimaksud adalah Idul Fitri saat 1 hari saja yaitu tanggal 1 Syawal, sebagai tanda berakhirnya puncak ibadah Ramadhan, yaitu puasa dengan segala larangannya, dan menghidupkan malam Ramadhan yang berbeda perlakuan dari malam-malam lainnya.

“Sebenarnya, puasa juga fokus kepada sehatnya rohani bukan hanya fisik semata. Maka ada ungkapan berpuasalah kalian maka akan ada sehat didalamnya, walau pun ini ada yang mengkategorikan hadist yang dhoif atau lemah. Terlepas dari itu semua ungkapan ini bisa kita rasakan bersama dari hasil puasa wajib Ramadhan,” kata Pimpinan Pesantren Syafarifiyah Rorotan, Jakarta Utara, ini.

Bagi Abul, sehat itu adalah sebuah hasil yang didapatkan dari proses kebersihan diri kita sehingga kita hidup sesuai anjuran agama melalui Al-Qu’ran dan Hadist Rasulullah. Maka dalam kitab klasik atau kontemporer Fiqhi pasti kita dapati yang  bahas paling awal ada Bab Thoharoh (kebersihan). Islam itu sungguh-sungguh dalam hal ini sampai ada hadist menjelaskan bahwa Kebersihan itu sebagian dari iman.

“Dalam kitab kajian Fiqhi klasik maupun kontemporer menitik beratkan kepada cara hidup bersih secara fisik, namun Islam bukan hanya mengajarkan kebersihan secara fisik namun juga kebersihan rohani harus diperhatikan, maka untuk kebersihan rohani, dibahas dalam kitab Tauhid atau Aqidah dalam Islam. Terlebih lagi dalam masa-masa pandemi, kita semua di wajibkan menjaga kebersihan lingkungan,” paparnya.

Tidak Menularkan Covid-19

Akan halnya Henry Surendra, SKM., MPH, Ph.D) mengemukakan bahwa, WHO masih memberi peringatan bahwa pandemi virus belum berakhir. Hal ini dengan ditemukannya tren global mencapai angka tertinggi kasus covid-19. Di Indonesia, tren kasus baru masih terus meningkat. Hal ini dikarenakan jumlah tes dengan PCR juga meningkat.

Henry juga menyoroti kebijakan pemerintah yang tidak konsisten dalam pencegahan dan pengendalian covid 19 dan berpengaruh terhadap ketidakpatuhan masyarakat. “Sebelumnya mudik dilarang, 34 bandara dihentikan penerbangannya, namun belakangan ini dibuka kembali dan boleh pulang kampung dengan syarat-syarat tertentu,” ujar peneliti Epidemiologi Eijikman ini.

Menurut data WHO, Henry menjelaskan bahwa salah satu aspek yang paling penting untuk mengalahkan Covid-19 adalah melakukan banyak tes. Pertanggal 18 Mei 2020, dibandingkan negara lain yang sukses menanggulangi Covid-19, Indonesia hanya melakukan 1 tes per 1000 populasi. Indonesia hanya memeriksa 8 orang untuk menemukan 1 kasus positif. Dan di Indonesia yang diperiksa adalah orang-orang yang sudah memiliki gejala berat.

Situasi di Indonesia saat ini, belum memungkinkan untuk melonggarkan PSBB dan upaya pengendalian penularan. Sehingga Henry mengharapkan peran serta masyarakat dalam penularan covid-19 di masyarakat. Protokol pencegahan penularan yang tepat adalah physical dan social distancing, menggunakan masker, menjaga higienitas tangan dan membatasi mobilisasi.

Sebaliknya Ust. Dr. dr. Muh. Khidri Alwi, M.Ag (Dosen FKM. UMI Makassar) yang menyampaikan tema Mengendalikan Nafsu Setelah Ramadhan”, menjelaskan, bahwa untuk mengukur kadar sehat seseorang, tidak hanya dilihat dari badan fisiknya yang prima, tetapi juga jiwa yang stabil, dalam hal ini kemampuannya dalam mengendalikan nafsu. Nafsu ini, dalam al-Qur’an biasa disebut “nafs ammarah bis-suu”. Nafsu yang selalu mengajak ke hal-hal negatif. Salah satu nafsu itu adalah nafsu perut.

Dikatakan, nafsu  perut yang bertetangga dengan syahwat (terutama nafsu di bawah perut)  adalah “tokoh utama” yang melahirkan malapetaka terbesar umat manusia dalam melakoni hidupnya di dunia ini. Nafsu ini adalah salah satu peletak dasar terjadinya musibah dari dosa-dosa yang dilakukan manusia. 

“Dan, seperti biasanya hampir semua berujung dengan komplikasi ke nafsu bawah perut yang melahirkan tamak, serakah, haus kekuasaan, gila harta, gila wanita dan berbagai penyakit-penyakit qalbu lainnya,” katanya.

Perut yang “rakus” tidak hanya mendatangkan keluhan fisik yang setiap saat dapat menimbulkan berbagai penyakit gastrointestinal. Tetapi lebih dari itu sangat mempengaruhi aktifitas psikis (jiwa) dan rohani. (Man)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here