Selain Kritisi IKA, Agenda PPSP DKI Makassar Santuni Anak Yatim

1
401

PINISI.co.id- Pertemuan bulanan pengurus dan anggota alumni PPSP Makassar wilayah DKI dan Jabodetabek, mengagendakan sejumlah program yang diharapkan tercapai dalam waktu dekat ini. Selain itu, kepengurusan IKA PPSP dikritisi mengingat selama setahun ini vakum.  Hal ini mengemuka saat arisan bulanan PPSP DKI di kediaman Rosiana Ekawati, lulusan 1981, di Depok, Minggu, (1/3/2020).

Menurut Ketua Alumni PPSP DKI Jaya Ikhsan Gaffar (Angkatan 76) pada bulan Ramadhan yang jatuh pada April 2020, alumni PPSP DKI akan menghelat buka puasa bersama yang dirangkai dengan santunan kepada anak yatim di Jakarta. “Penceramah kondang uztad Muhammad Nur Maulana sudah bersedia. Tempatnya  di YAPI Center, Rawamangun,” jelas Ikhsan.

“Santunan kepada anak yatim merupakan amalan dan tanggung jawab sosial untuk memenuhi perintah Allah,” katanya seraya menambahkan bahwa anak yatim yang disantuni benar-benar membutuhkan bantuan.

Selebihnya, dijadwalkan pula Halal Bi Halal di luar kota. “Kalau bisa menginap biar tali silaturahimnya betambah erat,”  usul Marmin Pontoh, jebolan tahun 75.

Sementara Halal Bi Halal di Makassar yang bakal diselenggarakan IKA PPSP masih menunggu konfirmasi. Bahkan, mencuat usulan agar meninjau kepengurusan IKA PPSP yang sampai saat ini belum dilantik. Seperti diketahui IKA PPSP Makassar dipimpin Suardi Saleh (Angkatan 75) yang kini Bupati Kabupaten Barru.  

“Sebaiknya kepengurusan IKA ditinjau ulang. Masa sampai kini mandeg dan tidak ada kegiatan,” tanya Nurdin Arsyad.

Kerena itu, Nurdin, keluaran tahun 75 ini, menyarankan agar pengurus IKA di masa datang dikendalikan oleh Angkatan 80-an biar lebih energik dan dinamis.

Rapat ditutup menjelang sore disertai rinai hujan. Berbagai kuliner langka disajikan Rosiana Ekawati ludes memenuhi dahaga anggota arisan. Apa pasal, sop brenebon — menu yang diadopsi oleh orang Makassar dan Manado dari Belanda, — cocok buat cuaca hujan seperti ini.

“Sop ini bisa membunuh virus korona,” canda Andi Yunus Sanusi, tamatan 1976.

Ada lagi nasu anjoro, — pisang muda yang ditanak dengan santan kental, niscaya menendang lidah dengan ikan cakalang nasu cempa khas Mandar. Belum ikan asap dengan sambal dabu-dabu, melengkapi ikan bakar, udang balado yang sudah umum di lidah. Sungguh semuanya maknyus. [Lip]     

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here