Saleh Mude, Merantau untuk Kembali Ibarat Melepas Jemaah Haji

0
799

Kolom Fiam Mustamin

SABTU kemarin, 24 Juli 2021 usai shalat subuh saya mandi dan menyiapkan pakaian jas laiknya akan shalat Ied Lebaran.

Hari ini begitu istimewa bagi saya, akan mengikuti sebuah majelis silaturahmi/ baruga secara virtual dalam melepas kepergian sahabat Muh Saleh Mude untuk menuntut ilmu di negara yang berperadaban tua disebut adikuasa super power, Amerika Serikat (AS).

- Advertisement -

Mengawali tulisan ini saya menyitir sastrawan Inggeris Shakespeare berkata bahwa : Perpisahan itu adalah kematian kecil … yang secara metafor bisa diartikan betapa beratnya untuk berpisah dengan orang yang dicintai sekalipun itu untuk sementara.

Saleh pergi jauh melintasi benua disertai isteri dan putrinya, meninggalkan tanah air, keluarga dan kolega komunitasnya untuk tujuan sebagai passompe.

Silaturahmi ini diinisiasi oleh komunitas paguyuban Keluarga Bugis Sidrap/KEBUGIS.

Bertujuan memberikan testimoni pesan pesan dan harapan dari komunitas yang diundang khusus oleh Saleh.

Mendapatkan kesempatan terundang ini sebagai penghormatan bisa berada di tengah keluarga komunitas Kebugis, karena saya lahir di Soppeng tetangga terdekat dengan Sidenreng Rappang.

Apa yang yang terpikir untuk saya sampaikan seperti makna dari judul tulisan di atas.

Saleh mengatakan bahwa kepergiannya belajar itu  perannya diibaratkan passompe, yang mencari kehidupan yang lebih baik untuk diabdikan di tanah leluhur/negerinya.

Ada sekitar 20 tahunan bersama Saleh di Institut Lembang Sembilan yang dipimpin oleh Alwi Hamu dan Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS).

Di KKSS ini kami berinteraksi dengan beberapa orang tokoh yang pernah Sompe menuntut ilmu ke luar negeri.

Antaranya Prof KH Qurais Shihab sompe ke Cairo Mesir, Dr Alwi Shihab ke Amerika almamater yang dituju Saleh dan Prof Dr Salim Said juga di Amerika.

Ketiga tokoh ini mewarisi genetik kecendekiaan/amaccang dari leluhur Sidenreng.

Di tanah Bugis disebut dalam Lontara to acca dari Nene Mallomo Sidenreng,  dikenal dengan wejangannya …. resopa temmangingi nasibawai tinulu nammasei dewata/Allah swt.

Maknanya perlu ada ikhtiar, ketekunan dan kesabaran serta doa berserah diri ke yang Maha Kuasa.

Ini adalah ajaran filosopi kehidupan. 
Sama dengan keberadaan to acca : To Ciung di Luwu, La Mellong to Swalle Kajao Lalido di Bone, La Tandampare Puang ri Maggalatung Arung Matoa di Wajo, La Waniaga, Mangkubumi Arung Bila di Soppeng, Karaeng Pattingaloang, Bonto Lempangan dan Daeng Pamate di Gowa Tallo, Arung Tanete Pancana Toa We Colli Pujie di Barru.

Sampai ke Binamo Turatea dan Bulukumba, sepanjang yang saya ketahui.

Tokoh-tokoh yang mewarisi/abbatireng kecendekiaan saya temukan pada Anre Gurutta Prof KH Nasaruddin Umar, Prof Dr Hafid Abbas yang sering memberikan tausiah pencerahan di KKSS dan tulisan-tulisannya yang tersebar di media.

Tokoh-tokoh cendekia lain yang telah melakoni sompe dengan segala tantangan di masa-masa itu adalah Dr Tanri Abeng, Prof. Beddu Amang, Prof Dr Mashadi Said, Dr Marwah Daud, Prof Dr Musdah Mulia, Prof. Mochtar Pabottingi, Prof. Andi Faisal Bakti, dll.

Di masa-masa mereka itu belum banyak peluang mendapatkan bea siswa.

Orang Bugis berkeyakinan bahwa ada rahasia interfensi Tuhan bagi orang yang menuntut ilmu/ massikola …

Rahasia itu seperti diungkapkan oleh Ustas Zen bahwa orang yang menuntut ilmu itu dijamin rezekinya, perjalanannya di sayap malaikat dan diperlakukan sebagai orang yang berjihad.

DEMI bersekolah, orangtua ikhlas menjual warisannya seperti lahan kebun, sawah dan hewan ternak.

Begitu mulianya nilai kedudukan pendidikan itu.

Saya memantau generasi warga KKSS yang tampil mensyiarkan gagasan/pikiran kritisnya sebagai rasa tanggung jawab bersama mencintai untuk membangun bangsa.

Mereka itu, Muh Said Didu, manusia merdeka/independen, Ilham Bintang, wartawan senior, Alif we Onggang dan Ruslan Ismail Mage.

Di New York nanti, Saleh yang akan konsen dengan jurusan Sejarah Perbandingan Agama, Interre Studies Pak.

Dan tetap berkontribusi untuk hal-hal kemaslahatan umat.

Di sana ada KKSS New York, ada tokoh Dr Syamsi Ali Al Kajangi yang berpengaruh dalam membangun kehidupan harmoni toleransi dalam keberagaman yang saling menghormati dan memuliakan. Selain itu ada Ketua KKSS New York Syaiful Hamid dan tandemnya Mustari Siara.

Bersatu membangun Amerika. Pesan Presiden Joe Biden ini saya sertakan dalam tulisan ini dengan judul :
Joe Biden Presiden Ke 46 USA, Pemimpin Global yang Berperilaku Berakhlakul Kharimah.

Last but not lease  ….

Dear Mr Joe Biden President of The United States

It is an honour for me to get this opportunity

We wish you and your family in a good health and be a super power leader in the real sense of the world,
who respect diversity for peace and the benefit of the world

My best wishes for you and madame vice president, Kemala Haris

Best regards
Fiam Mustamin,
Jakarta Indonesia

Beranda Inspirasi Ciliwung 25 Juli 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here