Pustaka Kearifan dalam Kehidupan Pertanian, Pelayaran dan Kepemimpinan

0
598
- Advertisement -

Kolom Fiam Mustamin

APAKAH kearifan (kecerdasan alami) dari warisan leluhur dalam mengelola  kehidupan bercocok tanam, transportasi pelayaran dan kepemimpinan sebuah kaum menjadi refrrensi dalam kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara.

Budaya Minangkabau dengan tegas menyebutkan bahwa Adat/Kearifan itu bersandikan Kitabullah dan Kitabullah bersandikan Agama Islam.

Kemudian dalam pengejawantahannya dalam kehidupan dipandu oleh yang disebut Tugku Nan Tigo Sajarangan yaitu (Ninik Mamak, Cerdik Pandai dan  Alim Ulama).

Kemudian di Tanah Bugis Makassar dikenal dalam lontarak, ada 4 unsur genetis komunitas yang  menjadi panduan dalam memilih pemimpin yakni ; 1.To Acca  yang disimbolkan dari ketokohan pemimpin adat disebut Matoa/Bugis dan Gallareng/Makassar yang terlembagakan sebagai Dewan Adat/ Ade Pitu di Bone dan Bate Salapang di Gowa. 2. To Panrita/ulama tokoh agama. 3. To Warani/pemberani sebagai panglima perang dan hulu balang kerajaan dan 4. To Sugi/orang berharta yang dapat mengatasi kesulitan ekonomi kaum/rakyat.

- Advertisement -

Untuk menjadi rujukan dalam kepemimpinan dapat ditelusuri dari sekitar 19 komunitas kerajaan di nusantara antara lain ; Pasai Aceh, Deli Melayu,  Paga Ruyung Minangkabau, Sriwijaya Palembang dan Riau di Sumatera.

Menpawa, Sambas dan Kutai di Kalimantan

Gowa, Tallo, Bone, Soppeng, Wajo, Luwu dan Buton di Sulawesi.

Majapahit, Mataram dan Banten di Jawa.

Lalu Bali, Sumbawa (Lombok) dan Ternate.

Di masing masing daerah itu memiliki keaŕifan budaya dalam kepemimpinannya yang perlu diterbitkan menjadi pustaka /buku referensi  ataupun bentuk referensi digital audio visual.

Kearifan Bercocok Tanam

KEHADIRAN teknologi pertanian tidak  berarti mematikan kearifan bercocok tanam yang sudah temurun membudaya.

Perlu disinergikan untuk menghasilkan kualitas dan produktivitas pangan.

Pangan berkualitas untuk dikonsumsi dan diperdagangkan.

Semangat Bahari

NENEK moyangku pelaut. Salah satu ikon yang disematkan kepada suku etnis Mandar Sulawesi Barat.

Budaya berlayar dan melaut dewasa ini tidak diidentikan dengan perahu kayu yang berlayar yang digerakkan oleh angin.

Iya telah bertransformasi dengan kemajuan teknologi dengan kapal besi dan bermesin.

Tidak ada lagi hambatan mati angin di tengah pelayaran dan sirsak melawan arus dan gelombang.

Semangat bahari ini diperlukan dalam pertahanan keamanan militer, transportasi perniagan dan angkutan umum di negeri maritim perairan luas ini.

Beranda Inspirasi Ciliwung 2 Desember 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here