Puasa: Sehat Beraktivitas dan Panjang Umur

0
1537
- Advertisement -

Kolom Zaenal Abidin

Webinar Ramadhan 1443 H (8 April 2022) seri kedua kali, Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi bersama Klinik Budhi Pratama, Literasi Sehat Indonesia, Dep. Kesehatan BPP. KKSS, Rumah Sakit Sandi Karsa Makassar, dan Bakornas LKMI-HMI mengangkat topik “Puasa: Sehat Berativitas dan Panjang Umur”.

Opening speech disampaikan oleh dr. Prasetyo Widhi Buwono, Sp.PD-KHOM, FINASIM (Pimpinan Klinik Budhi Pratama Restu Ibu Group) mewakili penyelenggara. Dalam opening speech-nya, dr. Prasetyo Widhi Buwono yang sering disapa dr. Pras mengatakan bahwa manfaat puasa itu sangat luar biasa. Di dalam ayat suci Al-Qur’an sudah ditegaskan dan didukung oleh beberapa peneliti. Contoh penelitian yang dilakukan seorang psikiater, Alan Scope dalam bukunya, Why Fast?

Menurunkan tekanan darah, menurunkan gula darah, dan menurunkan lemak untuk dua penyakit Hipertensi dan Diabetes Melitus sangat penting. Untuk diketahui bahwa keduanya merupakan penyakit utama yang mendasari penyakit-penyakit yang lebih berat seperti katastropik dan membutuhkan biaya tinggi, dan sebenranya bisa dicegah.
Dalam penelitian lain disebutkan bahwa, puasa mengontrol nafsu seksual, menghambat penuaan dan merupakan proses detoksifikasi, yang akan mengendorkan ketegangan jiwa dan pengendalian diri lebih baik. Sejalan dengan hal itu ribuan tahun yang lalu Plato (filsuf yunani ) “puasa mengobati sakit fisik dan mental”, demikian juga kata filsuf yang lain Phillipus mengatakan “penyembuh terhebat dalam mengatasi berbagai macam penyakit.”

- Advertisement -

Webinar yang dimoderatori oleh dr. Jamaluddin Lukman dari Klinik Budhi Pratama dan Bakornas LKMI HMI dan ditemani oleh Host Ns. Sarifudin, M.Si (Leterasi Sehat Indonesia dan Klinik Merial Health) ini, menghadirkan tiga orang nara sumber yang ahli di bidangnya. Ketiga nara sumber itu adalah dr. Andi Nusawarta, Sp.OT (K) Sports., dr. Rita Kumalasari, Sp.KFR., dan dr. Rais Reskiawan, PhD. Selain itu, juga hadir dua orang penanggap, yakni: Rr. Laeny Sulistyawati, S.Sos. (jurnalis dari Republika) dan dr. Abd. Halik Malik M.K.M. (LK2PK dan Klinik Merial Health).

Olahraga dan Beraktivis Saat Puasa
Olahraga dan beraktivitas tidak menjadi kendala saat seseorang menjalankan ibadah puasa. Hal ini diungkapkan oleh dua orang praktisi kedokteran, yakni dr. Andi Nusawarta, Sp.OT (K) Sports, (Dokter Sport Clinic RSPI Bintaro jaya, RS. EMC Sentul & Dep. Kesehatan BPP. KKSS) dan dr. dr. Rita Kumalasari, Sp.KFR. (Dokter Spesialis KFR di RS. Simpangan Depok & Owner Klinik Budhi Pratama).

Dokter Andi Nusawarta dalam paparannya mengatakan, biasanya kita pada saat bulan puasa cenderung malas bergerak, apalagi berolahraga. Padahal hal itu dapat menyebabkan turunnya imunitas tubuh yang akan memberikan efek buruk bagi tubuh, sehingga tubuh terasa tidak fit dan bugar.

Saat yang tepat untuk berolahraga saat berpuasa adalah sebelum buka puasa atau sesudah buka puasa. Untuk waktu olahraganya sendiri perlu kita atur dan kıta kontrol, contoh: bila sesudah buka puasa itu baiknya 2-3 jam sebelum tidur. Bila mau pagi hari kurangi waktunya dan intensitasnya diatur, cukup olahraga ringan saja agar tidak dehidrasi dan lemas.
Adapun hal yang perlu kita perhatikan dalam olahraga yaitu durasinya, itu bisa 30 sampai 60 menit atau 150 menit perminggu. Yang perlu diperhatikan lain adalah frekuensinya yaitu 3 sampai 5 kali seminggu. Dan yang perlu dan penting juga diperhatikan dalam berolahraga adalah rutinitas bukan beratnya. Mengapa ini penting karena olahraga itu harus diatur dan harus dikontrol, jika tidak bisa maka dapat terjadi resiko cedera dan bahkan kematian.

Olahraga intensitas berat bukannya bagus, justru bisa menurunkan imun dan membuat tidak fit dan bugar dan bahkan dapat meningkatkan resiko cedera maupun gangguan kesehatan lainnya. Paling bagus ringan dan sedang. Bagaimana kita bisa tahu apakah olahraganya sudah berat atau belum? Ada cara simpel untuk mengetahuinya yaitu dites saat bicara, apabila ngos-ngosan atau sudah terengah berarti itu sudah masuk olahraga berat karena sudah berada dipuncak latihan . Bisa juga dari Heart Rate Maximum, bila HRM < 60 % HRM (Ringan) / 60-80 % (sedang) / > 80 % (Berat). Biasanya paling gampang bisa digunakan jam tangan khusus untuk mengetahui.

Ada beberapa jenis olahraga dan hal yang penting kita perhatikan saat berolahraga
Pertama, olahraga aerob, latihan kardio. Olahraga ini tepat untuk membakar lemak, dapat dilakukan dirumah, seperti treadmill, sepeda statis, skipping/ lompat tali, naik turun tangga, jalan cepat sekitar rumah, dan sebagainya.

Kedua, olahraga anaerob. Olahraga bukan hanya aerob tapi ada juga anaerob. Ini juga bagus untuk melatih kekuatan otot. Mengapa perlu melatih otot? Karena otot akan menyusut 1 sampai 2 % dengan sendirinya pada usia diatas 35/40 tahun. Otot itu berbanding lurus dengan tulang. Apabila kita tidak melatih otot maka otot mengecil dan tulang jadi lemah sehingga mudah patah. Contoh: push up, squat, lunges.

Ketiga, yang perlu kita perhatikan yaitu fleksibilitas atau kelenturan yang biasanya kita lakukan saat pemanasan. Mengapa ini penting? Karena kelenturan tubuh dapat mencegah cedera dan mempunyai peranan penting untuk menjadi pelindung dalam peradangan sendi dan penyakit lainnya. Contohnya, lakukan stretching secara rutin untuk melatih fleksibilitas, maka dari itu baiknya kita jangan duduk seharian tapi lakukan peregangan setiap dua jam sekali.
Selanjutnya, dr. Rita Kumalasari, Sp.KFR (Dokter Spesialis KFR di RS. Simpangan Depok & Owner Klinik Budhi Pratama), memulai paparannya dengan mengenalkan tentang spesialisasinya, yaitu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi (KFR). Fokus utama KFR adalah perbaikan fungsi pada orang yang memiliki keterbatasan fungsi, dari bayi baru lahir sampai lansia. Setelah mengalami penyakit berat ataupun penyandang penyakit kronik. Tujuannya adalah untuk mencapai kualitas hidup yang optimal.

Menyambung paparan dr. Andi Nusawarta, terkait olahraga saat puasa, dr. Rita mangatakan bahwa saat melakukan ibadah puasa itu kebugaran tubuh kita harus terjaga. Karena itu, selama bulan Ramadhan, tetap bisa berolahraga, hanya saja, olahraga yang dilkakukan baiknya dengan intensitas yang rendah.
Saat puasa tubuh bekerja dengan asupan cadangan energi yang minimal dengan kadar gula darah minimal. Jangan sampai terjadi hipoglikemia dan setiap orang memiliki batasn turunnya gula darah masing-masing tergantung cadangan gula dalam hati dan jumlah asupan kalori selama makan sahur. Sehingga olahraga saat puasa sebaiknya dilakukan dengan intensitas ringan-sedang, seperti berjalan kaki, bersepeda, yoga ringan, dan itu lamanya kita berolahraga itu kurang lebih 30 menit.

Kita juga perlu mengatur waktu olahraga, walaupun sebenarnya waktu olahraga itu tergantung dari masing-masing Indinvidu. Ada beberapa waktu-waktu yang perlu kita perhatikan. Misalnya ketika sesudah sahur itu kita berolahraga menggunakan cadangan energi saat sahur, sehingga sebaiknya olahraganya tidak berlebihan agar cadangan energinya tidak habis. Jangan sampai waktu menunjukkan jam 15.00 (sore) kita malah sudah tidak ada tenaga lagi. Selain itu, olahraga sebelum berbuka puasa itu tidak dianjurkan karena beresiko merusak otot dan juga bisa menghabiskan cadangan energi. Atau waktu ketika setelah berbuka puasa itu perlu diperhatikan juga dan hati-hati bagi orang yang punya gangguan pada saluran pencernaan.

Setelah waktu olahraga, kita juga mesti tahu kira-kira jenis olahraga apa yang bisa dilakukan selama puasa. Ada beberapa jenis latihan yang bisa dilakukan saat puasa, bisa menggunkan beban maupun tanpa beban. Latihan bisa membantu membakar kalori yang berlebihan yang dikonsumsi saat berbuka dan sahur sehingga memungkinkan mengurangi lemak tubuh. Latihan beban akan membantu memanfaatkan semua asupan protein dan karbohidrat berfungsi untuk penguatan otot. Kita dapat melakukan kombinasi latihan beban dan tanpa beban.
Puasa dan Umur Panjang

Lalu bagaimana kaitan antara pusa dengan umur panjang? Dokter Rais Reskiawan, Ph.D (Alumni FK Unhas dan Sekjen ISMKI periode 2014/2015) dalam bahasannya menjelaskan dalam seratus tahun terakhir, peradaban manusia telah berhasil meningkatkan harapan hidup dari sekitar 30-40 tahun menjadi 70-90 tahun. Kemajuan pengetahuan dan teknologi telah berhasil membuat kita, manusia, berhasil mengeliminasi atau mengurangi prevalensi atau kematian akibat berbagai penyakit, khususnya penyakit menular. Pertanyaan selanjutnya adalah: setelah berhasil men-double angka harapan hidup tersebut, apakah masih terbuka peluang untuk terus memperpanjang umur manusia hingga lebih dari 100 tahun, bahkan 200 atau 300 tahun?

Riset-riset terbaru yang dilakukan diberbagai negara telah menunjukkan bahwa dengan intervensi tertentu (obat senolytics), kita bisa memperpanjang umur hewan coba paling tidak hingga 30%. Artinya, dengan mengkonsumsi obat senolytics, hewan coba yang biasanya meninggal secara alamiah ketika mencapai umur 1000 hari, bisa diperpanjang umurnya hingga mencapai 1300 hari. Riset terbaru juga telah menunjukkan jika intervensi tersebut bisa mengurangi resiko terjadinya berbagai penyakit kronis seperti penyakit jantung, penyakit paru, Alzheimer, dan osteoartrthitis.

Pertanyaan krusial selanjutnya adalah apakah berpuasa memiliki efek untuk memperpanjang umur? Studi terkait hal ini sebenarnya telah dilakukan sejak tahun 1935 dimana hewan coba yang dipuasakan menunjukkan angka harapan hidup yang lebih panjang dibandingkan hewan coba yang diberikan porsi makan normal. Setelah riset terobosan ini dirilis, berbagai studi, mulai dari organisme sederhana (cacing dan ragi) hingga kompleks (tikus dan monyet), kemudian menunjukkan bahwa berpuasa bisa memperpanjang umur.

Berbagai studi yang melibatkan manusia kemudian menunjukkan bahwa berpuasa sebenarnya berpotensi untuk mengurangi berat badan (Indeks massa tubuh), kadar kolesterol, tekanan darah, hingga kadar gula darah. Efek ini memiliki implikasi penting karena peningkatan kadar kolesterol, tekanan darah, gula darah, dan berat badan terkait dengan peningkatan resiko terjadinya berbagai penyakit kronis (stroke, serangan jantung, kanker dll) yang bisa berakibat fatal.

Walaupun demikian, berbagai studi tersebut masih memiliki berbagai kekurangan dalam desain studinya sehingga masih sangat sulit menjadikannya sebagai landasan kuat manfaat berpuasa. Salah satu kelemahan kunci studi-studi tersebut adalah tidak adanya kelompok control (kelompok pembanding) yang dilibatkan, membuat kita tidak bisa mengetahui apakah manfaat-manfaat tersebut berasal dari efek puasa atau hanya efek placebo semata.

Studi paling mutakhir yang dipublikasikan tahun 2019 telah menjawab kekurangan riset-riset sebelumnya. Studi ini adalah studi klinis fase kedua dimana partisipannya dibagi menjadi dua, yaitu kelompok yang berpuasa dan tidak berpuasa. Studi ini menunjukkan ternyata berpuasa bermanfaat untuk mengurangi kadar kolesterol, tekanan darah, dan berat badan. Sayangnya, studi ini hanya mem-follow up partisipannya selama 2 tahun, sehingga efek berpuasa untuk memperpanjang umur masih sulit terdeteksi. Akan tetapi, studi ini telah menunjukkan bahwa berpuasa paling tidak memiliki manfaat yang sangat baik untuk mengurangi faktor-faktor pencetus penyakit kronis.

Catatan Akhir
Tak dapat lagi dipungkingiri bahwa puasa secara umum memiliki banyak faedah. Demikian halnya dengan puasa menurut syariat agama seperti agama Islam. Selain tentu pembentukan pribadi takwa yang merupakan tujuan utamanya.
Dari penjelasan pakar dan praktisi kesehatan di atas, sangat jelas bahwa puasa memiliki banyak faedah bagi kesehatan yang melaksanakannya. Faedah itu seperti dapat mengontrol nafsu seksual, menghambat penuaan melalui proses detoksifikasi, mengendorkan ketegangan jiwa, dan pengendalian diri.
Puasa pun telah dijadikan gaya hidup yang ditetapkan sejak lama dan diyakini memberi manfaat bagi kesehatan serta menjadi salah satu bagian dari terapi kedokteran kuno. Terkait dengan aktivitas sehari-hari, berpuasa bukanlah merupakan kendala. Bahkan berolahraga sekali pun dibolehkan asal dilakukan dengan dilkakukan dengan intensitas yang rendah.
Lalu, bagaimana faedah usia harapan hidup seseorang? Adanya studi pra-klinis dan berbagai studi klinis yang menunjukkan bukti yang cukup kuat tentang manfaat berpuasa tentu juga sangat terbuka kemungkinan untuk membuktikan ke arah usia harapan hidup ini.

Belum kuatnya bukti (riset) terkait manfaat berpuasa terhadap usia harapan hidup seseorang bukan berarti bahwa puasa tidak memberi faedah ke arah tersebut. Hal ini seharusnya menjadi tantangan bagi para ilmuwan muslim untuk memimpin riset guna membuktikannya. Firman Allah Swt dalam QS. Al-Baqarah 184, “… dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” Wallahu a’lam bishawab.

(Penulis adalah Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia, periode 2012-2015 dan Ketua Dep. Kesehatan BPP KKSS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here