PSBM dari Masa ke Masa, Jejak dan Pentingnya Capaian Baru

0
1186
- Advertisement -

Catatan Alif we Onggang

Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) bakal digelar untuk ke 23 kali pada 29-30 April 2023 di Makassar. PSBM pertama kali diadakan di Balai Manunggal Makassar dan dibuka Jenderal TNI M. Jusuf pada 1993. PSBM tercetus oleh tiga tonggak yaitu KKSS, Kadin dan Pemda Sulawesi Selatan yang menjadi penanggung jawabnya. Dari KKSS diwakili Ketua Umum Beddu Amang, Gubernur Zainal Basri Palaguna dari Pemrov Sulsel dan Jusuf Kalla Ketua Kadin Sulsel. Jusuf Kalla bersama Aksa Mahmud dan Alwi Hamu adalah petinggi Kadinda Sulsel saat itu. Aksa dan Alwi adalah Wakil Ketua Kadin Sulsel.

Ketum KKSS Beddu Amang dan Sekjen A.Pawennei mengundang Jusuf Kalla, bersama Alwi Hamu bertemu di Hotel Karya Wisata Jakarta, pada 1991. Mereka membicarakan perlunya suatu wadah yang dapat mempertemukan warga rantau yang pulang kampung untuk berlebaran seraya bersilaturahim.

Oleh KKSS telontar pertanyaan: mengapa dengan kondisi dan peluang sudah cukup terbuka luas, justru semangat kepeloporan berusaha itu dirasakan menurun? Salah satu faktor, dapat dilihat dari jumlah populasi masyarakat Sulawesi Selatan yang hijrah, justru lebih banyak yang menanam investasi di tempat usaha domisilinya. Semisal bagaimana peranan para warga perantau Bugis-Makassar menguasai jaringan perdagangan di Irian Jaya (Papua), Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, sebagian Maluku, Timor-Timur, Kuala Tungkal Jambi, Batam dan berbagai daerah lainnya di Sumatera.

Lewat titik itu, PSBM mengandaikan kemajuan daerah untuk mengembangkan sumber potensi yang dimilikinya. Misalkan seorang warga yang menanam investasi di daerah kelahirannya sendiri akan punya nilai penting sebagai perekat hubungan kultural, sehingga sampai keturunan generasinya tetap memiliki jalinan emosional yang tak terputus dengan negeri asal tumpah darah nenek moyang mereka. Hal ini juga berarti menciptakan hubungan budaya melalui adanya jaringan ekonomi.

- Advertisement -

Paling tidak, inilah salah satu profit yang dapat diperoleh kedua belah pihak apabila terjadi penanaman investasi seperti di daerah. Maka di dalam upaya pemberdayaan potensi dan semangat kewirausahaan warga telah dirintis adanya forum berkala setiap tahun yaitu PSBM.

Pada setiap pertemuan PSBM, bukan saja diikuti oleh saudagar dari seluruh negeri, melainkan juga diikuti oleh saudagar Bugis-Makassar dari lingkup ASEAN dan beberapa negara luar.

Melalui forum ini paling sedikit diperoleh informasi data mengenai potensi warga Sulawesi Selatan yang berkiprah di bidang usaha serta kemungkinan peluang yang dapat digali dan dikembangkan bersama di daerah domisili masing-masing khususnya di Sulawesi Selatan.

Pelaku usaha orang Sulawesi Selatan ini, salah satu cirinya ialah kebanyakan mereka sukses membangun usahanya di luar Sulawesi Selatan. Mereka telah berintegrasi dengan penghayatan Wawasan Nusantara dan Kebangsaan. Mereka dengan sungguh-sungguh tampil all out merintis dan mengembangkan usaha dari awal,yang besar kemungkinannya dimotivasi oleh budaya siri, yang artinya, masiri (malu) kalau tidak sukses dan berhasil.

Saat itu, para saudagar yang telah berhasil, tidak lantas lupa akan kampung halaman, sebagian dari mereka menanam investasi di daerahnya sebagaimana yang memiliki jenama (branding) kuat yaitu Matahari Group, Sinar Mas Group, Caraka Group, Poleko Group, Modern Group, Bukaka, Bosowa dan sebagainya.
Sejalan dengan kemajuan dan keterbukaan global itu pula, pada saatnya pula memberi peluang bagi warga KKSS untuk meraih kesempatan yang lebih baik.

Sepanjang pertemuan PSBM, harus diakui masih menyisakan hal-hal yang perlu diagendakan lebih lanjut. Pada pertemuan pertama, dijadikan sebagai wahana perkenalan. Adapun PSBM II tahun 1995 dibuka Menristek B.J.Habibie, lebih menitikberatkan pada konteks manfaat interaksi antara peserta.

Lalu PSBM III, pada 1996, Menkeu Ma’rie Muhammad membuka perhelatan yang meneruskan pembahasan dari dua pertemuan dengan cakrawala yang lebih luas yakni merupakan awal kerja sama bisnis yang konkret sekaligus awal peletakan fondasi jaringan bisnis di seluruh Nusantara.

Kemudian PSBM IV digelar pada 1997, menjalin kontak-kontak dan menjalin kemitraan usaha. Pembukaan acara ini dilakukan oleh Menperindag Tungki Aribowo.

Pertemuan PSBM V pada 1998 batal diselenggarakan, lantaran spektrum politik yang tidak stabil dan terpaksa ditunda untuk waktu yang tidak ditentukan. Rezim Orde Baru karam dan konstelasi politik nasional berubah drastis.

Dari keempat PSBM, dievaluasi bahwa peranan para saudagar memang belum patut dibanggakan lantaran kemampuan manajerialnya belum memuaskan. Tidak dapat dielakkan bahwa untuk menjadi pesaing di pasar bebas maka jaringan bisnis, baik di antara sesama saudagar maupun pihak lain, merupakan basis utama yang perlu mendapat sentuhan. Sebetulnya tidak terbatas pada pasar global, namun juga untuk memasuki pasar domestik, kemitraan atau jaringan bisnis adalah prakondisi yang penting.

Pada PSBM IV, KKSS menekankan agar pada pertemuan lanjutan hendaknya para saudagar lebih terfokus dalam memprioritaskan program. Seperti pertemuan antara saudagar bidang agribisnis, misalnya. Memang beberapa sinergi dan penandatanganan MOU telah terjadi antara pengusaha pusat dan daerah. Lebih banyak memang kontak-kontak bisnis lahir antara satu perusahaan/perorangan

Dengan terciptanya jaringan bisnis, maka diharapkan model pengembangan yang berpola kerja pada kemitraan yang setara dan fungsional, dapat diwadahi oleh lembaga kemitraan serumpun menurut jenis usaha yang mengelola dan menyalurkan informasi bisnis. Jaringan saudagar Bugis Makassar merupakan fakta historis yang telah mewujudkan diri sebagai bagian integral dari perekonomian Nusantara meliputi bangsa dan negara.

Akar masalah itu dengan gamblang mencuat seperti yang tercantum dalam berbagai rumusan pertemuan PSBM. Di sana tergambar bahwa masalah mendasar yang dihadapi oleh para saudagar, terhambat pada rendahnya jaringan penyebaran, akses, kelembagaan pendukung organisasi bisnis. Rendahnya akses terhadap perkembangan dan pemanfaatan produksi dan alokasi di kalangan saudagar. Juga tak kalah penting, kemampuan manajemen yang belum maksimal.

Modal Ventura dan Pembentukan Koperasi

Pada wilayah lain, upaya KKSS dengan Pemda Sulawesi Selatan adalah menciptakan sedini mungkin lembaga pemberdayaan ekonomi. Terbutki sudah berbagai upaya dan pendekatan dilakukan oleh pemerintah dalam menjalin kemitraan dengan badan-badan usaha yang ada di luar Sulawesi Selatan.

Dalam pelbagai kesempatan, Gubernur Sulsel ZB.Palaguna, khususnya di tengah warga KKSS, memaparkan potensi yang terpendam di daerah yang membutuhkan sentuhan dari investor, khususnya diharapkan dari warga KKSS.

Pemerintah bertekad akan memberikan berbagai fasilitas kemudahan terutama yang berkaitan dengan perizinan. Langkah-langkah prakarsa seperi Forum Tudang Sipulung Saudagar Bugis Makassar, kontak bisnis per person atau levat lembaga-lembaga formal ekonomi, yang melibatkan swasta dan pemerintah.

Untuk itu, pemda mengajak peranserta warga KKSS yang ada di mana saja bermukim, untuk ikut membangun kampung halamannya. Begitulah kemudian tercetus perusahaan Modal Ventura Sulawesi Selatan, sebagai salah satu perwujudan sarananya, diresmikan Menkeu Ma’rie Muhammad,10 Desember 1994 di Makassar.

Tercatat 32 anggota pendukung modal ventura ini dengan akumulasi dana sebesar Rp.5,3 miliar. Modal yang dihimpun ini disalurkan untuk membantu pengembangan pengusaha kecil dan menengah di Sulawesi Selatan.

Adapun sektor koperasi sebagaimana keputusan Dalam Mubes VI KKSS, ditelorkan  pembentukan Primer Koperasi dan Pusat Koperasi, di seluruh Indonesia oleh para peserta Temu Bisnis pada Mubes tersebut.

Nama Koperasi adalah Primer Koperasi Serbaguna KKSS, Pusat Koperasi Serba guna KKSS di Jakarta, yang anggotanya adalah primer-primer koperasi serbaguna KKSS.

Selebihnya forum pertemuan ini merencanakan membentuk PT. Saudagar Bugis Makassar (PT.SBM) dengan modal dasar Rp. 3.000.000.000 yang sahamnya dimiliki oleh semua warga KKSS.

Peserta pertemuan saudagar dengan PT SBM diandaikan mengelola modal ventura bagi pembiayaan pengusaha kecil dan koperasi di Sulawesi Selatan. Pelaksanaan pembentukan koperasi ini, belum dapat diwujudkan, mengingat beberapa kendala akibat krisis moneter serta situasi politik yang kurang kondusif hingga Sidang Umum MPR-RI, Oktober 1999.

Jauh sebelum itu, sejumlah pengurus KKSS telah mendirikan lembaga yang berorientasi ekonomi seperti Yayasan Pembangunan Sulawesi Selatan (YPSS) yang diketuai oleh Ahmad Nurhani dan Sekretaris A. Pawennei. Program YPSS ini lebih mengkhususkan orientasinya kepada pengembangan daerah Sulawesi Selatan, antara lain gagasan pengembangan kota wisata Tanjung Bunga di Makassar. YPSS kini memiliki saham di Tanjung Bunga. Selain itu ada lembaga Makassar Business Centre (MBC) sebuah wadah bisnis yang dapat dibentuk di berbagai daerah di bawah kepemimpinan Drs. H. Andi Moch.Yunus. MBC dapat mendistribusikan informasi produk dan peluang usaha atau peluang tenaga kerja di seluruh Indonesia. Kemudian rencana kerja MBC ini melebur ke dalam Pertemuan Saudagar Bugis-Makassar.

Gagasannya yang mandek di tengah jalan adalah bisnis penerbangan dan pelayaran. Sekarang MBC tak ada lagi kabarnya. Meski begitu, PSBM tetap digelar setiap tahun.  

PSBM di Era Jusuf Kalla

Ketika pergantian rezim, dari Orde Baru ke Orde Reformasi, tak terelakkan banyak tokoh-tokoh daerah menjadi tokoh nasional dan bahkan berada di pucuk pimpinan. Jusuf Kalla menjadi wakil presiden pada 2004 berpasangan dengan SBY dan serta merta gegap gempita PSBM kian menyeruak ke mana-mana. Syiarnya melambung. PM Malaysia Nadjib Razak sempat menghadiri PSBM.

Sebagai Wapres, Jusuf Kalla menjadi magnet para saudagar dan setiap kali hajatan PSBM Jusuf Kalla yang membuka sekaligus sebagai pembicara kunci. Bahkan sempat digagas pertemuan saudagar se nusantara secara berkala dan pernah sekali digelar di Bali. Tak ayal, setiap gelaran PSBM, sejak masa Jusuf Kalla sebagai wapres hingga sekarang, ia menjadi mentor dan tak tergantikan sebagai pemukul gong acara. Jusuf Kalla identik dengan PSBM. 

Namun, belakangan Jusuf Kalla prihatin karena banyak saudagar yang terjun ke politik. Dan melihat kecenderungan semakin menurun orang Bugis Makassar yang terjun ke dunia usaha. Beralasan kiranya kalau Jusuf Kalla mengulik saudagar untuk segera bangkit membangun spirit kesaudagarannya.

Sumber buku: KKSS Perekat Etnis Nusantara 1976-2000 penulis Fiam Mustamin & Alif we Onggang dan Buku Tentang Sejumlah Orang Sulawesi Selatan 1998, karangan Alif we Onggang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here