Pewarisan Jejak Genetis Kecendekiaan/Kearifan Karaeng Pattingalloang, Keberanian Karaeng Galesong dan Kepanritaan Syech Yusuf

0
422

Kolom Fiam Mustamin

TIGA unsur genetis: kecendekiaan/kearifan/amaccang yang menghasilkan penciptaan inovasi dan kepeloporan.

Lalu keberanian (kewaranian) menghasilkan kepemimimpinan dan kepanritaan dalam ilmu agama yang menghasilkan ulama yang membimbing dan mengajarkan peribadatan hubungan manusia dengan sang maha pencipta/hablul minallah dan hubungan antar mahluk/hablul minannas khususnya.

- Advertisement -

Ketiga warisan genetis itu untuk diabdikan dalam kehidupan berkaum/ bermasyarakat saat itu.

Lalu pertanyaannya apakah ada relevansinya pewarisan unsur genetis leluhur ratusan tahun lampĂ u itu untuk diaktualisasikan dalam berbangsa dan bernegara sekarang ini.

Bila jawabannya diperlukan, maka pertanyaan berikutnya, sejauh mana kajian studi itu menjadi referensi pustaka.

Tidak hanya menjadi retorika pembicaraan sporadis romantika sejarah masa lampau.

Garis Keturunan

PEWARISAN tiga unsur genetik itu; kecedekiaan, keberanian dan kepanritaan tidak terikat dengan garis keturunan biologis.

Akan tetapi dimaknai sebagai warisan komunal etnis/suku bangsa Bugis Makassar.

Pewarisan genetis kecendekiaan Karaeng Pattingalloang, Mangkubumi Kerajaan Gowa dengan raja Gowa ke 15 Sultan Malikusaid di abad ke 16 tercatat sebagai masa kejayaan Gowa yang menguasai beberapa daerah kerajaan di wilayah timur nusantara.

Karaeng Pattingalloang bernama I Mangadacinna Daeng Sitaba bergelar Sultan Mahmud Abdullah putra I Malingkaan Daeng Nyonri Karaeng Matoaya dikenal menguasai bahasa Portugis, Inggeris, Belanda, Denmark, Spanyol, Perancis, Arab dan Cina.

Juga menguasai ilmu perbintangan-, dikenal ahli strategi perang dan diplomat yang mengatur perniagaan yang menyinggahi bandar Somba Opu.

Bersaudara sekandung dua orang dengan Sultan Abdul Gaffar seorang pemberani yang ditugaskan oleh raja Gowa ke 16 Sultan Hasanuddin bersama panglima Daeng Joa untuk membebaskan bangsa Timor dari penindasan kolonial Belanda.

Warisan Kecendekiaan ini juga dikenal di Luwu dengan To Ciung, Sidenreng dengan Lapagala Nene Mallomo, Soppeng dengan Lawaniaga Arung Bila, Wajo dengan Lamadukelleng Puang ri Maggalatung dan Bone dengan Kajao Lallido Tau Tongen ri Gaunna.

Selain dari Gowa sendiri ada Bonto Lempangan yang menciptakan hukum pemerintahan, Ammana Gappa dengan hukum tata niaga pelayaran dan Daeng Pamatte dengan Aksara Lontarak Makassar.

Warisan Kecendekian ini juga dikenal di Luwu dengan To Ciung, Sidenreng dengan Lapagala Nene Mallomo, Soppeng dengan Lawaniaga Arung Bila, Wajo dengan Lataddampareng Puang ri Maggalatung, Bone dengan Lamellong Swalle Kajao Lallido Tau Tongen ri Gaunna dan Colli Pujie, bangsawan/ arung Pancana Toa Tamete Barru.

Galesong Tak Mengenal Kompromi

PENULIS revorner sosial Evangeline Booth, 1865/1950, mengatakan bahwa bukannya seberapa lama tahun yang telah dijalani membuat hidup berarti, tapi apa yang telah diperbuat dalam tahun tahun tersebut.

Bukannya apa yang kita terima, tapi apa yang kita berikan kepada orang lain.

Begitulah kata yang tepat disematkan kepada perjuangan Karaeng Galesong bersekutu Pangeran Trunojoyo dalam memerangi Amangkurat yang dibantu VOC Belanda menguasai Mataram.

Karaeng Galesong, putra I Mallombasi Daeng Mattawang bergelar Sultan Hasanuddin raja Gowa ke 16 tak menerima kekalahan dengan perjanjian Bungaya (Cappaya ri Bungaya) yang menekan pihak Gowa,13 Nopember 1667.

Lalu Karaeng Galesong migrasi meneruskan perjuangannya meninggalkan Gowa bersama beberapa bangsawan, sejumlah laskar piilihan/pemberani dan armadanya berlayar ke tanah Jawa, menyinggahi Bima sebagai siasat perang menghindari pengintaian VOC

Sebelumnya sudah berangkat lebih awal Panglima perang Angkatan Laut Bonto Marannu untuk membantu peperangan Sultan Agung Tirtayasa Banten menghadapi Belanda.

Di kesultanan Banten saat itu sudah terjalin hubungan yang saling membantu dengan kesultanan Gowa Tallo.

Dan Syech Yusuf datang ke Banten untuk mekakukan syiar agama. Atas doa restu Syech Yusuf Karaeng Galesong dan Bonto Marannu bersama pasukan laskarnya memenuhi permintaan Pangeran Trunojoyo untuk memerangi Amangkurat yang bersekutu dengan VOC.

Pasukan gabungan Karaeng Galesong dan Pangeran Trunojoyo memenangkan peperangan merebut Mataram dan beberapa daerah lainnya.

Jejak perjuangan dan genetis atas terjalinnya perkawinan percampuran darah /mixed blood, putri Pangeran Trunojoyo dengan Karaeng Galesong, Karaeg Naba dan pengikut pengikut lainnya.

Kemudian melahirkan generasi/ ketunan kekerabatan Jawa Makassar antara lain dengan tokoh cendekiawan pergerakan Boedi Oetomo Dr Wahidin Sudirohusodo.

Jejak kejuangan dan kepemimpinan Karaeng Galesong ini perlu juga dicatat dengan keberadaan Lima Opu Bersaudara, Daeng ( Parani, Cella, Marewa, Manambung dan Kamase) disekitar abad ke 16 itu melakukan migrasi ke luar dari tanah lelulurnya Luwu dan Tanete ke negeri semenanjung Malaya.

Mereka menjalin hubungan kerjasama membantu penguasa setempat melakukan perkawinan dengan kerabat
bangsawan setempat lalu menjadi penguasa Yang Dipertuan Muda antara lain di Johor, Riau Lingga dan Menpawa.

Syaikh Yusuf Al Makassari
Ulama Sufi Tarekat

ULAMA ini dikenal dengan nama Tuanta Salama di negeri kelahirannya di Lakiung Kobbang Sungguminasa Gowa.

Hidup di tahun 1626 sd 22 Mei 1669.Meninggal di negeri pengasingannya Cape Town Afrika Selatan.

Ulama sufi ini menguasai dan menjadi guru tasauf/tarikat Qadiniyyah, Sattaryah dan Rafaiyyah. Berjuang bersama Sultan Ageng Tirtayasa Banten yang juga menjadi mertuanya.

Sebelum pengasingannya ke Cylon Sri Lanka dan Cape Town Afrika Selatan, telah mengunjungi negeri Aceh, Gujarah India, Danaskus Surya, Istambul Turki, Mekkah dan Medinah.

Tercatat pernah menjadi imam besar di
mesjidil Haram Mekkah.

Dengan perjuangannya menegakkan harkat kemanusiaan, tokoh inspirator kemerdekaan, Syaikh Yusuf memperoleh anugerah Pahlawan di Arfika Selatan dan Pahlawan Nasional Indonesia yang berjuang melawan penjajah Belanda.

Beranda Inspirasi Ciliwung 9 Desember 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here