PCBM I: Warisan dan Potensi Budaya Bugis Makassar Sudah Mendunia

0
128
Ketua Umum KKSS Muchlis Patahna (kanan) Koordinator PCBM Awaluddin Tjalla (kiri) dan Sri Asri Wulandari (tengah) tengah menyiapkan seremoni penutupan PCBM di Perpustakaan Nasional Jakarta.

PINISI.co.id- Dalam Pertemuan Cendekiawan Bugis Makassar (PCBM) hari kedua, Minggu, (28/6/20) tampil sejumlah pembicara dalam Rumpun Pendidikan, Agama, Budaya, dan Hukum.

Prof. Dr. Andi Faisal Bakti, MA, dalam paparannya, mengungkapkan, budaya dan tradisi Bugis-Makassar  memiliki potensi luar biasa, tidak hanya di tingkat lokal, tapi juga nasional dan dunia. Masa lalu tradisi Bugis-Makassar bahkan menjadi inspirasi bagi tradisi dan budaya lainnya. Sawerigading menjadi contoh nyata betapa figur tradisional itu disebut sebut sebagai utusan Tuhan dalam menyiarkan kebaikan bagi kehidupan umat manusia.

Adapun Prof. Dr. Mukhlis PaEni, mengakui, bahwa tradisi Bugis-Makassar memiliki keunikan dan kekhasan yang membutuhkan dukungan yang tidak hanya berskala lokal, tapi juga nasional. Memang beberapa warisan sejarah Bugis Makassar telah menjadi warisan asli dan mendunia, tapi itu tidak cukup untuk mengangkat lokalitas.

“Diperlukan dukungan penuh dari pemerintah, baik daerah maupun pusat untuk menyemarakkan dan menyeratakan tradisi tersebut. Sebagai contoh sederhana, sebutan bagi makhluk halus yang begitu terkenal di Bugis Makassar, semisal Batitong, Poppo dan Parakang justru tidak terkenal luas. Tertutup oleh tradisi luar semisal Pocong dan Sundelbolong,” jelas Muchlis.

Sementara itu Dr. Zaenal Arifin Mochtar, menguraikan dimensi hukum tidak boleh dilacurkan atas nama budaya dan tradisi. “Hukum adalah sebentuk pemahaman yang ajeg, pasti dan memberikan keadilan bagi kehidupan masyarakat. Budaya dan tradisi yang tidak mendukung penegakan hukum seharusnya diinterupsi dan tidak ditradisikanm bahkan dikubur,” katanya.  

Menurut Zaenal, kita tidak boleh merasa bangga sebagai Bugis Makassar jika alasan kebanggaan itu adalah tradisi yang tidak mendukung penegakan hukum. 

Sebaliknya Dr. Wahyuddin Halim, menyatakan, tradisi dan Budaya Bugis-Makassar sesungguhnya memiliki warisan yang penting bagi konstruksi budaya kebaikan secara nasional dan dunia. “Term-term yang diangkat dari tradisi Bugis Makassar bahkan mampu menginspirasi dunia sebagai sebuah jalan hidup yang baik. To Panrita, To Acca, To Warani dan To Sugi adalah gabungan realita kehidupan Bugis Makassar yang bahkan menasional dan menjadi inspirasi bagi dunia,” ujar Wahyuddin.

“Keempatnya direpresentasikan oleh empat “Jusuf”: Yusuf Al-Makassary, Jusuf Habibie, Jenderal Jusuf dan Jusuf Kalla.” [SM/Lip]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here