Pajak Sewa Tigaroda Dibarter dengan Buah-buahan

0
30

Oleh Fiam Mustamin

Keinginan keras untuk belajar dan menuntut ilmu yang mengantarkan penulis ke kota Makassar usai lepas Sekolah Menengah Pertama (SMP) negeri satu Watansoppeng.

Berbekal nasehat dari pesan orangtua yang bermodalkan kejujuran, kerajinan serta tau membawa diri yang disebut dengan saro mase,  penulis menyongsong cita-cita di kota besar. 

Otangtua angkat penulis,  Hasanudin Manna  sudah lebih awal tugas belajar di APDN bersama Datu Mappejanji dari Kabupaten Soppeng. 

Ayah membeli sejumlah tigaroda (becak) untuk menunjang kebutuhan belanja dan jajan harian anak-anak sekolah. 

Memiliki beberapa tigaroda yang diparkir di halaman rumah pada malam hari terasa memberi prestise tersendiri. Karena di Makassar pada waktu itu, tahun 1960 dan l970-an belum banyak orang yang mempunyai bisnis tigaroda dan angkutan bemo.

Serasa Juragang Tigaroda

Ayah selesai tugas belajar kembali mengabdi berdinas ke Soppeng dan penulislah yang meneruskan usaha rental tigaroda itu bersama jadi pengawas dan penagih sewa pajak harian tigaroda milik Abdul Halim yang ditumpangi  rumahnya. Abd. Halim ini sehari hari sebagai Kepala Tata Usaha SMP/ SMA Kirsten, Jalan Batu Putih yang memfasilitasi penulis  bersekolah di situ yang  kemudian dipindahkan ke SMA Ampera afiliasii SMA Negeri Satu Makassar.

Abd. Halim dan isterinya Bu Fatmawati begitu baik dengan jiwa sosialnya memberi makan kepada sekian banyak orang yang menumpang bersekolah di Makassar.

Dengan Sepeda Motor Dukati Meluncur ke Limbung

Dengan sepeda motor itu milik Abd.  Halim,  penulis dapat menjangkau rumah tinggal  para pagoyang becak talluroda itu. Yang sering didatangi berkaka para pagoyang Tu Ratea yang bermukim di areal pinggiran Gowa arah ke Malino. 

Ďi pemukiman  mereka itu menyambut ramah di bale-bale kolong rumah. Menawarkan singkong rebus dan pecok-pecok sambel tomatnya. 

Setelah urusan pembicaraan penunggakan,  penulis pamit dengan pesan agar meŕeka bersama tigarodanya datang ke pull besoknya di Jalan Veteran Makassar.

Penulis tak bisa menolak sejumlah buah-buahan seperti nangka dan pisang setengah matang sudah berada dalam keranjang daun kelapa yang diikatkan di  boncengan motor.

Penulis menangkap dan membaca dari wajah-wajah mereka yang tak terucapapkan mengenai kondisi kehidupan mereka. Dalam hati berdoa, semoga mereka-mereka dan keluarganya sehat selalu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Dari pekerjan dan tanggung jawab kepercayaan ini telah memberi  pangalaman  berharga dalam kehidupan ini kapan saat kita berbagi dengan apa kita miliki saat ini.

Urusan pajak sewa yang tertunggak itu menjadi tanggung jawab penulis pribadi.

Semoga kita mendapatkan penghasilan yang berkah, aamiin.

Penulis adalah budayawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here