Meski Pandemi, Pertanian Sulsel Tumbuh Positif, Uphy, Herman Mulai Panen

0
1303
- Advertisement -

PINISI.co.id- Enam bulan pandemi membuat pertumbuhan ekonomi nasional negatif, bahkan kini tengah menghadapi resesi. Semua sektor terpukul kecuali pertanian yang justru selama ini dikesampingkan, — tumbuh positif. Tak terkecuali di Sulawesi Selatan, bidang pertanian hingga triwulan II 2020, tumbuh 3,87 persen.

Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah menyebutkan sektor pertanian adalah penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi di Sulsel tetap positif meski dikepung Covid-19.

Menurut Nurdin, sektor pertanian masih menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi di Sulsel dan bahkan juga dilakukan ekspor ke sejumlah negara di antaranya Jepang, China dan Singapura.

Sulsel surplus beras sekitar 2,5 juta ton. Sebagian untuk kebutuhan logistik korban bencana alam maupun operasi pasar Perum Bulog.

“Hingga kini Sulsel menempati posisi keempat pemasok pangan nasional. Sejak lama komoditas beras dan berbagai tananam perkebunan hingga hortikultura diperdagangkan  di 12 provinsi.’ ungkap Nurdin seperti dikutip Kompas, Senin (14/9/2020).

- Advertisement -

Nurdin menyadari potensi Sulsel adalah pertanian, perkebunan, dan perikanan. Semua itu umumnya berada di luar Makassar.

Misal petani madu di Pangisoreng, Mallawa, Maros, banjir pesanan justru saat pandemi Covid-19. Permintaan madu hutan meningkat dua kali lipat dari kondisi biasanya sehingga para petani lebih giat mencari madu di hutan Mallawa yang medannya cukup ekstrem.

“Kalau biasanya memenuhi permintaan pelanggan atau pedagang pengumpul hanya 150 botol sebulan, sekarang empat bulan terakhir rata-rata 300 botol sebulan. Harganya Rp 100.000/botol,” kata Monru.

Kendati permintaan cukup tinggi pada masa pandemi untuk konsumsi madu dalam menjaga imunitas tubuh, namun mereka tidak menaikkan harga.

Herman Daeng Rala, yang semula tinggal di Jakarta mengadu nasib sekitar 12 tahun lamanya, akhirnya pulang kampung di Jeneponto untuk menjadi pengepul ikan hingga di Takalar. “Ikannya saya kirim ke Jakarta,” kata Herman kepada PINISI.co.id.

Beruntung Herman sudah memiliki jaringan pembeli di Pasar Ikan Muara Baru, Jakarta Utara, tempatnya dulu bekerja. Kendati masa pandemi, permintaan ikan mulai normal lagi. ”Alhamdulilah dari sini saya bisa mencukupi keluarga dan dan bisa mencicil mobil,” katanya sumringah.

Sufiany Nasrulah, alias Uphy yang sudah tiga bulan menjadi petani hidroponik di kampungnya di Pinrang, mulai menuai hasil. Meski mantan sukarelawan BPP KKSS ini sebenarnya lebih fokus menyuluh warga kampungnya menjadi petani hemat lahan, Uphy sudah bisa menghasilkan uang. “Banyak permintaan yang saya tidak bisa penuhi,” ujar Uphy yang baru saja kehilangan ibu ini.

Uphy beruntung dibanding teman-temannya di Jakarta yang kini banyak dirumahkan gegara terdampak Covid-19.

Memang saat pandemi, Gubernur Nurdin memusatkan penanganan covid dari semua daerah di Makassar. Ia mengharapkan daerah tidak terlalu terimbas dan petani tidak terganggu hingga mereka tetap produktif.

Pasalnya, Makassar sebagai pusat perdagangan dan jasa mengalami perlambatan ekonomi lantaran pembatasan sosial. (Lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here