Menikmati Temaram di Cafe Playmaker

0
157

Catatah Syahrir

Matahari hampir kembali “menginap.” Bayang-bayang lembayung rona merah di langit Jakarta, perlahan mulai menghilang. Terganti, padatnya kendaraan, sumpeknya jalanan, akibat tumpahan orang  pulang kantor.  

Tak seperti di kampungku, di tanah Bugis nunjauh seberang lautan,  saat tanda- tanda malam datang membalut bumi, deretan burung di langit, bentangkan sayap pulang ke sarang. Satu persatu petani letakkan cangkul di kolong rumah. Lelah, seharian kerja di sawah. Saking penatnya mereka,  hingga tak sempat lagi menyaksikan eloknya paras  bidadari yang turun mandi di seberang sungai sebelah rumah. 

Luruh. Jakarta. Bukan lagi di kampungku. Lampu temaram malam, mulai menyala. Samar,  dari kejauhan terdengar azan dilantunkan. Bertanda sholat Magrib hendak di mulai. 

“Ayo, silakan. Jika Anda ingin sholat, kami menyediakan tempatnya,” santun sapaan pelayan Cafe Playmaker. “Terimakasih” jawabku singkat. Sambil berjalan ke tempat wudhu, benak aku berbisik, “ini cafe Islami pertama di bilangan perempatan jalan Sabang Jakarta.” 

Sebelumnya, sang pemilik Cafe, Ophan Lamara, telah bercerita. Jika cafe yang menyediakan penganan ala Bugis  Makassar ini, tak menyediakan alkohol. ” Di sini kami tidak menyediakan alkohol,” ungkap Ophan,  sambil menunjuk ke arah meja biliar.  

“Seperti di Inggris, telah banyak cafe yang menyediakan permainan biliar, tapi tidak menyuguhkan lagi minuman beralkohol,” ungkap Ophan, owner Cafe Playmaker. 

Sesudahnya, bersama kami, larut menikmati lezatnya pisang epe’, pisang goreng dan kopi kental ala Bugis. 

Cafe Playmaker, aku selalu datang untukmu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here