Membayangkan Jadi Taruna AKABRI dan Jenderal Sungguhan

0
89

Oleh  Fiam Mustamin

Siapapun dia, pemuda siswa di sekolah lanjutan Pertama dan Atas akan terkagum-kagum ketika  menyaksikan Taruna-taruna Akademi  Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) yang berseliweran di jalan-jalan dengan seragam uniformnya pada masa liburan.

Sosok-sosok siswa taruna  anak muda yang ganteng berbadan tegap atletik itu serta merta menjadi idola remaja anak muda. 

Dalam hati bertanya-tanya bagaimana bisa  menjadi siswa taruna seperti itu. Tentunya dengan persiapan mental dan fisik.

Mental artinya mempersiapkan diri secara akademis dari penguasaan pengetahuan umum, alam dan eksakta atau dikenal dengan pengetahuan ilmu pasti  termasuk kimia, dan ilmu ukur.

Persiapan fisik dengan kesehatan jasmani yang prima, dengan gigi yang utuh dan mata yang normal tak berkacamata.

Begitu tinggi persyaratan untuk menjadi taruna yang harus lulus ujian ujian pengetahuan akademis, kesehatan dan jasmani.

Jenderal Pemimpin Pengayom Rakyat

Bayangan gambaran bahwa lulusan AKABRI akan  menyandang pangkat tertinggi sebagai jenderal di kemiliteran.

Dengan tempahan jadi prajurit  rakyat dalam pendidikan khusus kemiliteran tiga tahun akan menjadi kader-kader pemimpin bangsa yang mengayomi keamanan rakyat lahir batinnya.

Seperti itulah bayangan penulis yang cita citanya jadi jenderal  tertahan di tes kesehatan mata setelah melampaui semua testing lainnya.

Selangkah lagi bisa ikut menemani rekan sekelas di SMA Apera, Idris Gassing yang lolos ke Malang dan bertemu kemudian  setelah pangkat Mayor Jenderal.

Terbayang-bayang dua orang putra pilihan dari daerah  Soppeng berseragam AKABRI Laut, Andi Sahrir Palle  dan Abdul Rivai dari AKABRI Angkatan Darat.

Kendati tidak menjadi jenderal sungguhan, penulis mensyukuri di perjalanan kehidupan ini banyak menemui dan berinteraksi dengan jenderal tentara maupun dengan jenderal yang setara dengan profesi lain semasa jadi loper koran, di lingkungan kesenian kebudayaan, perfilman, kewartawanan sampai ke KKSS sebagai sekretaris esekutif. 

Keterikatan untuk pengabdian di lungkungan ketentaraan tidak terlepas dengan darah dan habitat orangtua penulis  La Fiabang bin La Bandung, anggota veteran  pasukan TBO Puang Patobo Soppeng Riaja, sepupu Letkol Hodi dan kakak ipar Kapten Onggang Alam. 

Penulis mengenal dekat dengan sejumlah jenderal antara lain, Andi Muh Ghalib, Sjafrie Sjamsoeddin,  Zainuddin Sikado, Alimunsiri Rappe, Salim Mengga, Ahmad Tanribali Lamo, Basri Sidihabe, Burhanuddin Andi,  Pieter Wattimena dan lain lain.

Penulis adalah budayawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here