KKSS Maju Indonesia Jaya

0
172

Kolom Prof. Dr. Andi Salman Maggalatung, SH, MH

Indonesia adalah sebuah negara besar yang memiliki penduduk terbesar keempat dunia dengan wilayah yang begitu luas dari Aceh hingga Papua, atau dari Sabang sampai Marauke, penduduknya sangat harmonis, multietnis, suku, bahasa, agama, dan budaya serta adat-istiadat, bahkan warna kulit. Hal ini semua merupakan sebuah kekayaan besar bagi bangsa Indonesia yang merupakan anugerah dan rahmat dari Tuhan Yang Maha Kuasa yang perlu dirawat, dijaga dan disyukuri oleh semua anak negeri ini, termasuk etnis dan suku Bugis yang berasal dari Sulawesi Selatan hidup dan beraktivitas di perantauan di berbagai daerah di seluruh wilayah Republik Indonesia, mereka terhimpun dalam sebuah organisasi  paguyuban bernama Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan disingkat KKSS.

Perlu diketahui bahwa warisan nilai-nilai luhur dan kearifan lokal masyarakat Sulawesi Selatan yang hidup dan berkembang serta mewarnai bumi Nusantara ini telah menjadi rujukan dan pedoman hidup bagi generasi etnis-suku Bugis Sulawesi Selatan dimana pun ia berada, mereka bebas dan berhak serta dijamin oleh konstitusi, bahwa tidak ada larangan bagi sebuah daerah atau menutup pintu masuknya etnis-suku-suku lain dari manapun asalnya, sepanjang etnis-etnis tersebut dapat memahami situasi dan kondisi, dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan, dapat  memberi manfaat bagi masyarakat dan daerah serta dapat hidup rukun dan damai dengan etnis dan suku-suku lainnya.

Negara yang begitu besar, luas dan berpenduduk beraneka ragam itu telah dibingkai dalam sebuah aturan dasar yang sangat fundamental bernama konstitusi (Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945) sebagai panduan dan pegangan anak bangsa ini dalam kehidupan bermasyarakat, berbagsa, dan berengara. Itulah sebabnya Bapak DR. (HRC) Muhammad Jusuf Kalla, tokoh etnis Bugis, pembina dan penasehat KKSS ketika masih menjabat sebagai Wakil Presiden RI dalam setiap perjalanan dinasnya tidak pernah berpisah dengan UUD NKRI Tahun 1945 itu.

Perlu dipahami bahwa kekayaan multi-etnis, suku, bahasa, agama, dan budaya serta adat-istiadat yang dimiliki oleh bangsa Indonesia merupakan potensi besar yang memperkaya serta memperindah khazanah keanekaragaman masyarakat Nusantara dan nilai-nilai kearifan lokalnya. Namun demikian jangan lupa dan tetap harus dijaga bahwa, keanekaragaman etnis tersebut dapat berubah sebaliknya menjadi bencana, mencederai, menghalangi, bahkan dapat merusak tatanan kehidupan sosial yang sudah mapan sebelumnya. Karena ada ungkapan bahwa berbeda etnis, suku, agama, budaya dan adat-istiadat akan berbeda pula latar belakang dan cara berpikir, cara bertingkah laku, cara berkomunikasi dan masih banyak cara-cara dan ekspresi lainnya karena perbedaan tadi. Karena itulah sebagai solusi dan upaya untuk mengatasinya, maka pemahaman dan pengamalan serta implementasi nilai-nilai falsafah Pancasila, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan keseharian sebagai warga yang baik  dimanapun ia berada dan apa pun aktivitas yang digelutinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tetap harus diutamakan. Jika hal ini dapat dilakukan, maka akan menjadi satu tarikan nafas bagi semua anak negeri ini dari Sabang sampai Marauke, dari Aceh hingga Papua siapapun dia kita adalah bersaudara, merah-putih, senasib dan seperjuangan, bergandengan tangan menuju Indonesia maju, damai,  dan sejahtera.

Sepengetahuan penulis, etnis-suku Bugis jauh lebih banyak mengadu nasib di perantauan dibanding dengan penduduk lain saat ini di Sulawesi Selatan. Mereka memiliki dinamika mobilitas yang cerdas, memiliki daya tahan hidup yang tangguh. Karena itu, di berbagai daerah di pelosok-pelosok Nusantara sekalipun dengan mudah dapat temui. Mereka sibuk dengan berbagai aktivitas, terutama di bidang ekonomi dan perdagangan, pelayaran (nelayan), dan lain sebagainya. Bahkan dalam bidang politik dan pemerintahan, atau pekerjaan apa saja yang dapat bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat yang sesuai dengan kondisi lingkungan. Itulah sebabnya etnis-suku Bugis cenderung lebih banyak yang sukses dibanding dengan etnis dan suku-suku lainnya. Hal itu semua merupakan tetesan darah yang merupakan warisan dari nenek moyang leluhur etnis-suku Bugis yang sejak dahulu memang kental dengan sifat perantauan, tangguh dan gigih, keras, dan berani, pantan surut sebelum berhasil. “Badik yang terhunus (keluar dari sarungnya) pantang masuk kembali sebelum kena sasaran”. Namun lembut, selembut sutra bila mengenal jiwa dan wataknya, sopan dan santun dalam berinteraksi dengan etnis lain. Bahkan rela mengorbankan jiwa dan raganya sekalipun kepada sesamanya di perantauan. Mereka dapat diterima oleh penduduk setempat dan etnis lainnya karena berpegang teguh kepada prinsip dan semboyan “Di mana bumi diinjak di situ langit dijunjung, malilu sipakainge-mali siparappe-rebba sipatokkong, resopa temmangingngi namalomo naletei pammase dewata sewwa-E”.  Sungguh banyak petuah-petuah, warekkada (kata-kata), gau-gau (sikap), dan contoh-contoh pangkaukeng (perilaku terpuji) yang patut ditiru dan dipagang teguh oleh anak generasi etnis Bugis baik yang masih ada di Sulawesi Selatan apalagi yang ada di perantauan di manapun di bumi Nusantara ini.

Siapa yang tidak kenal tokoh sentral La Galigo, sebagai sebuah karya sastra yang telah go internasional, menjulang sepanjang zaman melebihi kisah Mahabharata dan membuat kagum Campbell Macknight, salah seorang Guru Besar Antropologi dari Universitas Nasional Australia. Demikian juga pengembaraan Sawerigading dengan kapal La Welerennge ke berbagai negara dengan pendekatan dan teori ilmu pelayaran yang terlihat agak aneh, karena  daerah yang sebenarnya sangat dekat namun masa tempuh memakan waktu cukup lama. Sedangkan daerah yang secara geografis terhitung sangat jauh malah ditempuh dengan waktu yang sangat singkat. Peristiwa itu membuat ilmuan Jerman kagum, heran, dan menarik mempelajari perahu tradisional etnis Bugis. Hal serupa dengan Syekh Yusuf al-Makassari, Pahlawan Nasional yang dikagumi dan dihormati bukan hanya dari daerah asalnya Gowa, Sulawesi Selatan, tapi juga tokoh dunia sekaliber Nelson Mandela, mantan Presiden Afrika Selatan. Mandela kagum kepada tokoh etnis Bugis, Syekh Yusuf Al-Makassari, bahkan menjadikan rujukan dan aspirasi bagi masyarakat Afrika Selatan untuk melawan apartheid. Karena itu, Syekh Yusuf al-Makassari merupakan bintang purnama dan tali pengikat antara  Indonesia dengan Afrika Selatan.

Sungguh banyak tokoh-tokoh etnis Bugis yang patut dicatat dan menjadi teladan bagi generasi sekarang. Sebut saja misalnya antara lain; Alm. Jenderal Andi M. Jusuf (TNI), mantan Panglima dan Menteri Perindustrian; Alm. Jenderal Andi Muh. Ghalib (TNI), Mantan Jaksa Agung; Dr. Tanri Abeng, MBA,  ekonom dan mantan Menteri BUMN; Prof. Dr. Beddu Amang, mantan Kabulog dan mantan Ketua Umum BPP KKSS; Prof. KH. Ali Yafie, ulama besar, mantan Ketua MUI dan Rais ‘Aam PBNU; Alm. Prof. Dr. BJ. Habibie, mantan Menteri, mantan Wakil Presiden dan Presiden ke-3 Republik Indonesia; Alm. Prof. Dr. Baharuddin Lopa, akademisi dan mantan Menteri Hukum dan HAM; Prof. Dr. M. Qurash Shihab, MA, pakar tafsir se-Asia Tenggara dan mantan Menteri Agama RI; Prof. Dr. M. Nasarudin  Umar, MA, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, mantan Wakil Menteri Agama dan saat ini sebagai Imam Besar Mesjid Istqlal Jakarta; Dr (Hc) M. Jusuf Kalla, Pengusaha, Mantan Menko Kesra dan Menteri Perindusterian dan Perdagangan, Wakil Presiden dua presiden: SBY dan Joko Widodo; dll.

Selain itu, Kabinet baru Joko Widodo – KH. Ma’ruf Amin, terdapat nama putra terbaik etnis Bugis, Dr. Syahrul Yasin Limpo, sebagai Menteri Pertanian Republik Indonesia masa bakti 2019-2024, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh etnis Bugis berhasil dan patut diapresiasi dan menjadi idola bagi anak negeri ini pada umumnya dan anak etnis Bugis pada khususnya yang belum sempat saya sebutkan namanya dalam tulisan ini.

Siapa pelanjut beliau-beliau itu? Ini sebuah pekerjaan rumah Ketua Umum BPP KKSS yang akan terpilih di Musyawarah Besar 2019 di Solo. Namun bagi penulis, sungguh masih banyak  kader-kader etnis Bugis berkualitas dan berintegritas yang siap mempersembahkan jiwa-raganya untuk nusa, bangsa, dan negara bila diperlukan. Adalah wajar dan patut diucapkan terima kasih dan pengharagaan yang setinggih-tinggihnya kepada bapak Presiden yang setiap periode pemerintahannya memberikan kepercayaan kepada putra-putra terbaik anak negeri ini yang berasal dari etnis Bugis Sulawesi Selatan.

Mengakhiri tulisan ini saya ucapkan terima kasih dan selamat berpindah tempat pengabdian di dunia sosial dan keagamaan, kepada Bapak M. Jusuf Kalla beserta Ibu Mufidah Jusuf Kalla. Sejarah akan mencatat kontribusi besar yang Bapak telah persembahkan kepada negerimu, takkan terlupakan dan menjadi inspirasi, dan daya juang serta motivasi bagi kami anak-anak negeri etnis Bugis menuju Indonesia maju, damai dan, sejahtera. Selanjutnya, dunia menanti pengabdiammu di forum internasional, misalnya di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Depok, Awal November 2019        

Penulis  adalah Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here