KKSS Belum Berperan Mengkader Warganya

0
81
IKAMI Sulsel Semarang merupakan kader KKSS yang berpartisipasi dalam kepanitiaan MUbes KKSS XI Solo.

Kolom Achmad Pawennei

Kita mestinya  malu karena tidak ikut andil atas kemajuan warga kita sendiri.

Meskipun KKSS lahir pada 1976, namun hingga kini perlu pengoptimalan agar organisasi ini lebih berdaya guna. Akibatnya karya besar warga KKSS di seluruh pelosok Nusantara kurang  monumental. Hal ini tidak menjadi perhatian warga KKSS sehingga banyak kepoloporan sebagai pionir tidak mendapat prioritas.

Selain itu, KKSS sejauh ini tidak atau belum berperan membina dan  kaderisasi untuk memperjuangkan sosok warganya yang patut mendapat promosi, entah itu jabatan, peningkatan usaha dan bisnis serta beasiswa pendidikan yang memadai. Akhirnya warga berjuang sendiri-sendiri mencapai cita-citanya dan hasilnya luar biasa. Bayangkan apabila KKSS bisa melakukan hal di atas  hasilnya pasti  akan mengejutkan Nusantara.

Jadi KKSS sejatinya harus bangga dengan prestasi warganya. Kita mestinya  merasa malu karena tidak ikut andil atas kemajuan warga kita sendiri. Ini saya sampaikan agar  KKSS membuka  mata untuk melihat peluang ini ke depan dan dijadikan program kerja.

Apalagi ribuan warga baru KKSS lahir setiap tahun. Belum lai dari Sulawesi Selatan merantau ke pelosok Nusantara dan bahkan  keluar negeri. Mereka mayoritas menikah dengan penduduk setempat. Hal ini juga sangat penting buat program kerja KKSS dan merupakan jembatan potensial sebagai pemersatu Nusantara yang yang telah teruji dan hanya warga KKSS yang mampu melakukannya.

Jika revolusi industri 4.0 dilakukan oleh bangsa yang sudah maju, maka ‘bangsa’ Bugis (KKSS) sudah lebih dulu melakukannya. Sudah berapa banyak  produk otomatisasi 4.0 yang dihasilkan warga  KKSS di Nusantara bahkan di luar negeri. Lihat saja hasil produknya seperti keberadaan  Bugis-Aceh, Bugis-Minag, Bugis-Jawa, Bugis-Sunda, Bugis Madura, Bugis-Maluku, bahkan Bugis-Papua dan Bugis-Belanda.

Bukankah produk itu produk otomisasi 4.0 juga? Mana ada suku lain yang bisa sebanyak ini produknya, hasil produknya adalah  bibit unggul calon ponggawa yang tersebar di mana mana. Contoh Malaysia banyak petinggi dan ponggawa di sana hasil produk industri 4.0 dari nenek moyang KKSS tempo dulu dan jadi warisan  cucunya saat ini.

Selanjutnya KKSS belum memikirkan fundrising yang semestinya dapat dikelola menjadi modal yang sangat potensial untuk dijadikan kegiatan usaha, budaya dan ilmiah sehingga tampil sebagai produk KKSS yang sangat membanggakan.

Semestinya pula KKSS bisa tampil terdepan membuktikan kebenaran nenek moyang bangsa ini adalah pelaut.

Adapun PSBM gaungnya cukup besar, namun tidak sebesar produknya yang mestinya sudah dapat dinikmati hasil produknya. Salah satu sebabnya tidak ada badan tetap atau PT PSBM yang menindaklanjuti semua keputusan nya.

Terakhir belum banyak yang mengetahui kiprah Yayasan Partisipasi Pembangunan Sulawesi Selatan (YPSS), maka perlu didukung agar  dapat berbuat  seperti nama besar yang disandangnya agar benar-benar bisa berpartisipasi pada pembangunan di Sulawesi Selatan.

Penulis, mantan Sekjen BPP KKSS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here