Kawasan Elit Menteng Koloni Daeng Menteng Masa Kolonial. Bagaimana dengan Petojo, Kali Angke dan Kampung Makassar?

0
4791
- Advertisement -

Kolom Alif we Onggang

Sejatinya orang yang terkaya di Jakarta adalah Daeng Menteng. Pasalnya, ia memiliki tanah berhektar-hektar di daerah elit Menteng. Bayangkan, harga rumah di kawasan mewah ini bisa dibandrol seharga Rp 180 miliar. Hanya orang-orang tajir dan beken yang mampu menetap disini.

Namun jejak-jejak tanah Daeng Menteng sulit terlacak. Berbeda misalnya dengan Raden Saleh (1811- 1880) pelopor seni rupa modern yang memiliki tanah seluas 8 hektar yang kini menjadi Taman Ismail Marzuki Jakarta di daerah Cikini. Boleh jadi lahan Daeng Menteng berada di pusat bisnis Jalan Thamrin, tempat harga tanah semeternya mencapai Rp 100 juta.

Meski demikian, turunannya masih dapat bersyukur bahwa nama Daeng Menteng tetap diabadikan sebagai Kawasan Menteng, hunian paling strategis yang terletak di jantung Ibu kota.

Menteng sudah dikenal sejak masa kolonial Belanda. Pada abad 17 Menteng dipenuhi dengan pepohonan dan hewan buas. Namun terkait penamaan Menteng, disebutkan bahwa Menteng berasal dari orang Bugis bernama Daeng Menteng. Dulu orang Bugis dan Makassar sama-sama bergelar Daeng. Gelar Andi datang belakangan seiring kentalnya feodalisme.

- Advertisement -

Semasa hidupnya, Daeng Menteng pernah punya jasa besar terhadap Pemerintah Hindia Belanda hingga diberi hadiah berupa tanah sekawasan Menteng.  Wilayah Kecamatan Menteng  yang terletak di Jakarta Pusat kini seluas 653 hektar.

Penulis sejarah Jakarta Windoro Adi, Batavia 1740: Menyisir Jejak Betawi (2010) dan Zaenuddin HM, 212 Asal-Usul Djakarta Tempo Doeloe (2012) menukil bahwa asal usul Menteng berasal dari nama Daeng Menteng.

Namun, kedua penulis ini tidak secara rinci menggali lebih jauh siapa sebenarnya sosok Daeng Menteng. Apakah Daeng Menteng seorang centeng, jawara atau jangan-jangan seorang budak tawanan Arung Palakka?

Maklum, orang-orang Makassar tawanan Arung Palakka yang dijadikan budak di Batavia pada 1680 cukup banyak.  Arung Palakka banyak menawan prajurit Makassar yang bersekutu dengan Trunajaya, seperti dikisahkan Parakitri T Simbolon, dalam buku Menjadi Indonesia (1995).

Tak cukup sebagai budak, mereka pun dilibatkan dalam berbagai peperangan yang dilakukan VOC. Sejak 1686 permukiman orang-orang Makassar ditempatkan di Kampung Baru, di bawah pimpinan Daeng Marata. Mereka tawanan perang yang dibawa ke Batavia. Kawasan permukiman budak di Kampung Baru ini kemudian dikenal sebagai cikal bakal Kampung Makassar, Kecamatan Makassar, Jakarta Timur.

Tapi Belanda dibuat pening kerena budak-budak yang terdiri dari orang-orang Makassar dan Bali, kerap berbuat onar dan balik melawan dan melarikan diri sehingga Belanda menyetop mengimpor budak. Jaman dulu, budak adalah komoditas yang diperdagangkan. Seorang budak asal Bali Untung Suropati lalu mengobarkan perang melawan kolonial.

Nah, apakah Daeng Menteng adalah budak tawanan Arung Palakka?

Atau jangan-jangan Daeng Menteng salah satu pasukan tempur Arung Palakka dan Belanda untuk menggempur Minangkabau dan Gowa di bawah Sultan Hasanuddin. Dimafhumi, banyak jagoan anak buah Arung Palakka yang siap mati.

Memang sejak tahun 1600-an VOC kagum akan daya juang pengikut Arung Palakka yang disebut Toangke, atau “Orang Angke”, diambil dari Kali Angke yang mengalir melewati perkampungan Bugis di Batavia. Penjulukan ini mungkin mengilhami nama Muara Angke di Jakarta Utara.

Begitulah, saat membantu memadamkan pemberontak Minangkabau, mungkin Daeng Manteng termasuk pasukan handalnya dalam memerangi Makassar yang dinilai mengganggu kepentingan ekonomi VOC.

Sebaliknya dalam buku Nasaruddin koro Ayam Jantan Tanah Daeng (2005) menerakan bahwa Daeng Menteng adalah seorang pimpinan kapal anak-anak Turatea Jeneponto,  bagian dari rombongan pelarian Arung Palakka ke Batavia. Ada tiga kapal (kappala tallu batua) selain Daeng Menteng  terdapat pula armada yang tinggal di Angke dan kapal pimpinaan Datu Pattojo. Bersama Arung Ampana, Arung  Bila, dan Datu Pattojo serta 400 pengikutnya ke Batavia pada 25 Desember 1660. Pattojo selanjutnya tinggal di bilangan yang kini bernama Petojo, terletak di kawasan Gambir, Jakarta Pusat. Barangkali saja asal nama Petojo dicomot dari Datu Pattojo.

Singkat cerita, kolonial Belanda kemudian memberikan tanah kepada Daeng Menteng atas jasanya membantu Belanda. Tentu Daeng Menteng tak mengira lahan miliknya disulap menjadi kawasan prestesius.

Seiring waktu, Menteng di belakang hari mendapat sentuhan tahun 1810 semasa Hindia Belanda dipimpin oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels. Sekitar seabad kemudian, Belanda membeli sebagian tanah Menteng untuk dijadikan perumahan pegawai Belanda. Desain pembangunan Menteng dibuat dua kali oleh arsitek bernama Adrian Jacobus Moojen dan F.J. Kubatz. Desain buatan Moojen dibuat pada 1910, sedangkan desain Kubatz tahun 1918.

Biarpun Daeng Menteng sudah jadi legenda, namun boleh jadi tanah bekas peninggalannya dihuni oleh sekampung Daeng Menteng yang memang tidak sedikit bertempat tinggal di hunian idaman, apik, asri, nyaman nan teduh ini.

Sebutlah Daeng Ucu (Jusuf Kalla) yang dulu tinggal di depan setu Lembang yang resik. Mursalin Daeng Mamangung, Ketua DPR RI zaman Soekarno dan Soeharto, menetap di area Ring Satu. Jenderal Jusuf dan Andi Sose sebelum menghabiskan masa tuanya di Makassar, tinggal di Menteng. Kediaman Andi Sose di Jalan Suwiryo, tidak jauh dari Jalan Cendana, rumah Presiden Soeharto.  Ahmad Baramuli di Jalan Diponegoro, tak jauh dari Jalan Thamrin.  Sejumlah saudagar Bugis seperti Ahmad Nurhani, M. Taha, Aksa Mahmud, H. Nurtada, dan H. Ibrahim rumahnya tak jauh dari rumah dinas Jusuf Kalla semasa jadi wapres di Sunda Kelapa. Pengacara kondang  Amir Syamsuddin juga di sini, demikian juga politisi cum saudagar Oesman Satpa Odang.  

Senyatanya, tokoh-tokoh hebat belaka seperti Presiden Soekarno dan Hatta serta Presiden AS Barack Obama semasa kecil tinggal di sini, kawasan yang ratusan tahun lalu menjadi koloni Daeng Menteng.

Jadi hanya orang-orang tajir jualah yang betah di sini. Yang lain cuma bisa bermimpi.

(Penulis, pernah mengontrak di Menteng Dalam)  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here