Seni Instalasi Masintuvu Kita Maroso Merespon Pandemi Sebagai Tanggung Jawab Kesenimanan

0
220

PINISI.co.id- Seniman merupakan salah satu profesi yang terdampak Covid-19 yang sudah berjalan lebih setahun. Karena itu, para seniman lebih banyak mementaskan karya seninya secara virtual berhubung pembatasan sosial dan protokol kesehatan.

Seniman asal Palu Fathuddin Mujahid, mengungkapkan bahwa pandemi Covid tidak lantas menahan dirinya untuk terus berkarya. Selama Covid mendera, Fathuddin justru beberapa kali mementaskan sejumlah karyanya, sejak awal Covid tahun lalu hingga saat ini.

Terakhir Fathuddin yang juga pengurus KKSS Sulawesi Tengah ini mengkreasi seni instalasi di warkop Bangopi, Palu, Kamis (9/9/2021).

Seni instalasi ini menjumput materi dari pelbagai sampah dan barang rongsokan seperti tatakan telur ayam, botol air mineral, kurungan ayam, manekin, kompor, cat tembok dan segala rupa bahan buangan lainnya.

Di tangan Fathuddin, lahir sebuah karya instalasi yang merefleksikan atmosfer pandemi dalam kreasinya. Botol-botol infus yang menggelayut, petani dengan caping dan maskernya, bola mata yang membelalak dan sekarat dengan selang oksigen, tak lain adalah gambaran para korban pandemi. Betapa kita tahu Indonesia pada masa puncak Covid, rumah sakit penuh, pasien antre untuk mendapatkan infus, sehingga korban berjatuhan tanpa penanganan.

Nah, di sini, suasana batin masyarakat ditangkap Fathuddin dan diwujudkan dalam seni instalasi dengan matra rupa, musik, dan film, pada intinya adalah cerminan kengerian wabah.  

Dalam karya bertajuk Masintuvu Kita Maroso — salah satu bahasa lokal Sulawesi Tengah yang berarti bersama kita kuat, Fathuddin menyimbolkan kekuatan budaya masyarakat Kaili sebagai kearifan lokal. “Proses kreatif tetap berlangsung meskipun di tengah bencana Covid-19. Seniman jangan sampai meneyerah apalagi kalah,” tuturnya.

Masintuvu kiat maroso, menurut Fathuddin yang juga anggota PARFI Sulawesi Tengah ini adalah penggambaran bahwa hanya dengan kebersamaanlah kita dapat mengatasi Covid-19.

Proses kereatif ini divideokan Riki Lahia sekaligus sebagai kameramen adapun editor Mohammad Luftih Hayun FM. (Lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here