Caleg Kolonial dalam Pusaran Pemilih Milenial

0
315
- Advertisement -


Kolom Ruslan Ismail Mage

Kalau memperhatikan peta politik caleg 2024 mungkin lebih 60 persen caleg masih didominasi caleg incumbent 2019. Bisa disebut juga caleg reborn. Anggota parlemen 2019 yang kembali turun gelanggang mencari peruntungan diri dalam Pemilu 2024. Karena itu hampir bisa dipastikan masih pola lama yang dipakai dalam merebut kemenangan.

Pola atau strategi lama yang dipakai adalah masih memanfaatkan “sistem kapitalisasi politik” yang terus tumbuh subur satu dasawarsa terakhir. Suatu sistem yang menyerahkan pemilihan jabatan-jabatan politik kepada pasar yang menentukannya. Artinya hanya orang-orang bermodal yang berkemungkinan besar menjadi pemenang dalam kapitalisasi politik di pasar demokrasi Indonesia.

Salah satu anak kandung kapitalisasi politik itu adalah money politic dengan berbagai turunannya yang akan tetap merajalela berkembangbiak dalam Pemilu 2024. Walaupun berbagai regulasi sudah melarang penggunaan politik uang, tetapi para caleg incumbent ditambah caleg instan tetap akan mengandalkan politik uang dengan memanfaatkan kelemahan regulasi.

Dalam versi tulisan ini, caleg yang masih menggunakan pola lama dengan hanya mengandalkan money politic disebut “caleg kolinial”. Rujukannya adalah pidato kekhawatiran Edward G. Ryan tahun 1873. Chief Justjce dari Mahkamah Agung Wisconsin Amerika ini mengawali pidatonya dengan beberapa pertanyaan menyikapi tumbuh suburnya kapitalisasi politik di Amerika Serikat. “Siapa yang akan memerintah : kekayaan ataukah manusia. Siapa yang akan memimpin : uang ataukah intelektual. Siapa yang akan mengisi posisi umum : manusia bebas dan berpendidikan yang patriotik ataukah budak yang menghambakan diri kepada kapital perusahaan”.

- Advertisement -

Pidato kekhwatiran Edward G. Ryan di atas menjustivikasi bahwa caleg yang menggunakan money politic itu sudah ramai diperdebatkan di Amerika sejak dua abad lalu. Karena itu, layak dilebeli caleg kolonial. Caleg miskin modal sosial, minus karya, dan defisit gagasan, yang mencari peruntungan dalam kontestasi Pemilu 2024 dengan mengandalkan money politic.

Pemilih Milenial

Caleg kolonial ini mengabaikan ungkapan bijak dalam dunia ekonomi yang mengajarkan, “Survei pasar dulu sebelum melempar produk”. Kurang lebih artinya bahwa kalau hanya menggunakan kecamata buta, tidak memahami pergerakan peta pasar, kemungkinan besar mengalami kerugian karena produknya ditolak pasar.

Dalam konteks investasi politik, elemen utamanya adalah wajib melakukan studi kelayakan hubungan kebutuhan pasar pemilih dengan kualitas caleg sebagai produk yang akan ditawarkan dalam bursa demokrasi Pemilu 2024. Berkaitan bursa demokrasi Indonesia, salah satu yang menarik dijadikan acuan adalah data Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang menyebut Pemilu 2024 bakal didominasi oleh pemilih muda dalam artian mereka yang berusia maksimun usianya 40 tahun pada hari pemungutan suara 14 Februari 2024.

Sebagaimana dalam liputan kompas.com, koordinasi Divisi Sosialisasi dan Partisipasi Masyarakat KPU RI August Mellaz menganggap bahwa Pemilu 2024 akan menjadi momen krusial bagi kalangan muda ini untuk menentukan arah masa depan Indonesia. Pemilih muda antara usian15 tahun yang mungkin nanti menjadi pemilih pemula pada Pemilu 2024 mendatang, sampai usia 39-40 itu, proporsinya 53-55 persen, atau sekitar 107-108 juta dari total jumkah pemilih Indonesia.

Kalau mengacu kepada data KPU RI di atas, berarti ada lebih 50 persen masuk kategori pemilih melenial. Sementara berdasarkan Badan Pusat Statistik tahun 2020, populasi generasi melenial Indonesia mencapai 87 persen dari total jumlah penduduk Indonesia. Kedua data di atas menunjukkan betapa besar potensi suara pemilih generasi milenial ini dalam Pemilu 2024, yang hampir bisa dipastikan susah didekati dengan metode money lolitic dan segala bentuk keturunannya. Berikut alasan pembenarnya.

Dari segi investasi politik, ada beberapa ciri generasi milenial yang wajib dipahami. Pertama, No Gadget No Life. Kedua, lebih memilih ponsel daripada televisi. Ketiga, menggunakan teknologi untuk mencari informasi. Keempat, kritis terhadap fenomena sosial tidak terkecuali fenomena politik uang. Dari empat ciri utama mereka itu bisa disimpulan bahwa, pemilih melenial mencari pemimpin dan caleg di ujung jempolnya, bukan melalui kartu nama, baju kaos, spanduk, baliho bergambar diri caleg, juga tidak dengan pendekatan money politik dengan segala bantuknya. Itulah pentingnya digitalisasi gagasan caleg, serta memahami dahsyatnga social media effect dalam pemilu. Kalau tidak, caleg kolonial ini akan tenggelam dalam pusaran pemilih milenial.

Penulis, Akademisi, inspirator dan penggerak, penulis buku-buku poltik dan motivasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here