Bukit Perkebunan Galung LangiE Pesse yang Menawan

0
136

Oleh Fiam Mustamin

Kutemukan damai dan lega. 

Kupandang seluasnya hamparan lahan dan langit yang tak terbatas itu.  

Hawa sejuk pegunungan membuat segalanya nikmat untuk tidur dan makan dari hasil panen kebun, subnanallah.

Andikku Ichal Salahuddin Hasanuddin Manna seusai kerja di  kantor Dinas Kehutanan, segera begegas menuju kebun yang digarapnya di daerah pebukitan Galung LangiE desa Pesse Kecamatan Donri-donri sekitar setengah jam waktu perjalanan dari kota Watan Soppeng.

Galung artinya sawah dan LangiE , ya langit itu yang setiap saat kita lihat di atas sana. 

Galung LangiE diartikan bahwa di area lembah itu ada areal persawahaan yang kebutuhan airnya mengandalkan  tadah air hujan dari langit.

Di area kebun perbukitan itu telah dibangun rumah kebun/ panggung (bola 

dare) bearada di puncak ketinggian.

Di sekitar kebun itu yang luasnya sekitar tiga hektar tertanami; sayur mayur, jagung dan kacang tanah yang bersifat tanaman semusim serta tanĂ man keras antara lain mangga, jambalang (caloppeng), ading semacan rumpun buah lengkeng, pohon aren/kanau untuk air tuak manis dan gula merah.  Dari hasil tanaman kebun itulah yang  bergantian dipanen menjadi konsumsi sehari-hari. 

Kemudian di sekitar area kebon itu juga telah tertanami ribuan pohon jati Solomon Jabon Merah untuk bahan kayu industri; perabotan rumah, tegel lantai, kayu lapis tripleks yang tahan gempa yang banyak dikonsumsi oleh Jepang. Usia panen pohon industri itu antara 6 dan 10 tahun sebagai investasi untuk masa depan anak cucu.  

Burung Walet Super

Dari jarak pandang yang tidak terlalu jauh,  dari rumah kebun itu terkadang menyaksikan ribuan kawanan burung walet yang beterbangan mengitari area sarangnya di bawah gua yang jalan masuknya melalui alur sungai Laseworeng namanya.

Mengapa walet disebut super karena belum disangkarkan dan dijadikan konsumsi ekonomi, habitat hidupnya yang termasuk unik lantaran sangat alami. Kata super, artinya punya daya keunggulan dari yang lain pernyataan  salah seorang peneliti burung walet yang liur sarangnya mendatangkan rejeki miliaran rupiah.

Sungai Lasawerong yang masih alami itu menghidupi ikan langka  seperti masapi rumpun ikan belut yang warnanya berlurik dan berlemak, adanya di ke dalam di sela bebatuan dan untuk mengambilnya dengan menyelam membawa tombak. Selain itu hidup juga ikan gabus, lele dan kepiting yang semuanya tergolong super dan terpelihara dari jaring dan pancing manusia.

Tidak jauh dari kebun mengalir juga sungai-sungai kecil (calo-calo) yang setiap saat bisa menjaring ikan nila dan kepiting kecil khususnya untuk dikonsumsi yang dipadu dengan sayur sayuran lain.

Amboi ndoe.

Begitu lezat dan nikmatnya duduk berkerumun (massulengka) para kerabat anak cucu turunan Hasanuddin Manna/Lambu dan Petta Mama Baderiah di serambi bola dare itu menikmati nasi pule barelle (nasi jagung), pecok pecok/ulakan ladang lolo/ cabe muda, terong dan bale rakko (ikan kering),

manggarai sembari memandang alam sekitar dan di sana ada lembah persawahan yang padinya sedang menguning.

Tanah Barru Soppeng Riaja

Bukan sekadar nama Soppeng Riaja dan Soppeng Rilau Lalabata.

Boleh jadi bahwa pada mulanya wilayah Soppeng dulu itu  menjangkau ke Lapao pegunungan,   Tanete Pekkae, Takkalasi dan Mangkoso Wiri Tasik. Seingat masa kecil pada setiap masa panen padi maka  berbondong orang Soppeng datang ke daerah yang disebutkan itu (pabbiring) untuk panen padi (maringngala).

Saat ini sudah ada jalan trans nasional yang tembus dari Lawo ke kampung Walemping terus ke Takkakasi sejarak 35 kilometer. 

Dari jalan ke Galung LangiE pun pada waktunya bisa langsung ke Barru ke Makassar dan daerah lainnya.

Penulis adalah budayawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here