Bersama Gus Ulil Menjejaki Pemikiran Al-Ghazali

0
1017
- Advertisement -

PINISI.co.id- Diskusi virtual tentang pemikiran Al-Ghazali berlangsung menarik mampu dipresentasi Gus (Mas) Ulil Abshal Abdalla dengan jernih tentang sosok, pemikiran, dan dampak (pengaruh) jejak pemikiran al-hujjatu al-islam, Abu Hamid Al-Ghazali (1059-1111) Sabtu, (20/6/20).

Al-Ghazali di mata Ulil adalah ulama (fuqaha), teolog (mutakallim), filosof, dan sufi. Dia adalah sosok ulama yang sulit dicari tandingannya di dalam deretan sarjana-sarjana muslim era klasik. “Al-Ghazali adalah intelektual yang paling orisinal dan satu-satunya sarjana yang menulis dan mewariskan autobiografinya, al-Munqiz min ad-dhalalah,” kata Ulil.

Al-Ghazali lahir dan besar di Ghazaleh, dan belajar di madrasah al-Nizamiah, Bagdag ketika tradisi belajar-mengajar ilmu-ilmu keislaman mulai redup, dan kekuatan politik (kekuasaan) kekhalifahan mulai runtuh, akibat rivalitas Abbasiyah dan Fatimiyah, termasuk peristiwa perang Salib pertama, yang dilakukan oleh segelintir orang di pinggiran kota Bagdad, Yesrussalem. Ulil memilih istilah, “Al-Ghazali hidup di era yang tidak kondusif”.

Al-Ghazali telah menjelajahi, bergumul, dan menceburkan dirinya ke dalam empat disiplin ilmu Islam klasik: fiqih, teologi (ilmu kalam), filsafat, dan tasawuf, di dalam pengembaraan dirinya mencari kebenaran (al-haq), dan akhirnya Al-Ghazali mengaku menemukan al-haq di dalam tasawuf, seperti dapat dibaca dalam bukunya Ihya Ulumuddin (menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama).

Jejak-jejak pergumulan Al-Ghazali, dapat dibaca atau ditemukan di setiap bidang ilmu yang telah ditulis atau ditemukan oleh pengkaji Al-Ghazali: di bidang fiqih, ia menulis al-Mustashfa’; di bidang teologi, Al-Ghazali dinilai telah menyempurnakan teologi Asy’ariyah (ajaran Abu Hasan al-Asy’ari) yang banyak diadopsi dan diikuti oleh jemaah Nahdlatul Ulama (NU) di Indonesia; di bidang filsafat, ada Tahafut al-Falasifah (kerancuan pemikiran para filosof); dan di bidang tasawuf, ada Ihya Ulumuddin, empat jilid, terdiri dari 1600 halaman.

- Advertisement -

“Al-Ghazali menemukan dan mengkritik keras para ulama di zamannya karena mereka dominan mencari ilmu demi kedudukan (status sosial), harta benda, dan mendekati penguasa (sultan), tidak karena ingin mendekat atau mencari keridhaan Allah. “Ulil memilih istilah, telah terjadi profesionalisasi- birokratis yang canggih, tapi kehilangan spirit spiritualnya, seperti dapat dibaca dalam karya Al-Ghazali, Bidayah al-Hidayah,” urai Ulil.

Ulil meyakini dan berusaha keras melindungi Al-Ghazali dari tuduhan (cap) orang-orang yang menilai Al-Ghazali sebagai ulama yang mengharamkan ilmu pengetahuan dan filsafat, serta tuduhan telah mengutip hadis-hadis lemah (dhaif) dan plagiat, orang yang mengutip referensi tanpa menyebutkan sumber kutipannya, di dalam karya magnum opus (masterpiece)-nya, Ihya Ulumuddin.

“Al-Ghazali tidak memusuhi filsafat dan ilmu pengetahuan (sains); dia mempelajari dan mendalami filsafat selama tiga tahun dan menulis buku, Maqasid al-Falasifah (pendapat para filosof); Al-Ghazali menemukan 20 hal dalam filsafat ketuhanan (ilahiyat) warisan dari Yunani yang dapat merusak iman, karena itu harus ditolak, seperti dijelaskan dalam Tahafut al-Falasifah; Al-Ghazali membagi sumber ilmu ke dalam dua bahagian, berdasarkan wahyu (naqli) dan akal (aqli); ilmu-ilmu dari Yunani, seperti ilmu matematika, logika, dan fisika, termasuk biologi dan kimia, itu penting; jika ada ulama yang memusuhi ilmu-ilmu itu, gelaran keulamaannya patut diragukan; ilmu-ilmu fisika itu menuntun orang-orang ke ilmu-ilmu meta (di atas) fisika, ilmu ketuhanan; dan diriwayatkan dalam versi ilmu tasawuf, sebelum memilih dan menulis Hadis Nabi Muhammad dalam kitab Ihya-nya, Al-Ghazali memverifikasi dan berkonsultasi langsung kepada Nabi Muhammad Saw,” tegas Ulil.

“Saya ini bisa bicara panjang lebar tentang Al-Ghazali karena saya harus membaca banyak (close reading) karya-karya Al-Ghazali karena saya mengajarkannya di pondok pesantren,” pungkas Ulil.

Diskusi kemarin bersama Gus Ulil terasa sempurna karena ditanggapi oleh beberapa peserta yang memiliki kualifikasi dalam ilmu-ilmu keislaman seperti Prof. Dr. Hamka Haq, Prof. Dr. Andi Faisal Bakti; Dr. Wahyuddin Halim, Dr. Muhammad Zain, dan Ir. Hafid Paronda, MT. Acara dipandu oleh Hadiamin Kadir, Host dan M. Saleh Mude, Moderator, atas nama lembaga kajian Ibnu Chaldun Digital Academy (ICDA), pimpinan Irjen Pol (Purn) Dr. M. Said Saile, M.Si.  

[ M. Saleh Mude ]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here