Anxietas dan Virus Korona

0
724

Oleh Dr. dr. Hj. Jumraini Tammasse, Sp.S.(K)

Dosen Fakultas Kedokteran Unhas,Pengurus BPP KKSS, Departemen Kesehatan

Penghujung Desember 2019, dunia dikagetkan dengan berita bahwa di Kota Wuhan sedang terjadi wabah aneh. Ratusan bahkan ribuan orang meregang nyawa karena gangguan pernafasan akut. Hanya berselang beberapa waktu, wabah itu dilabel oleh WHO sebagai Covid 19 (Corona Virus Disease 19). Angka 19 menandakan virus jenis baru ini ditemukan tahun 2019. 

Wabah yang melanda Kota Wuhan, kini telah merambah ke hampir seluruh belahan dunia, termasuk Indonesia. Konon kabarnya, obat antivirus Covid 19 ini belum ditemukan permanen (masih tahap uji coba). Timbullah kekhawatiran dan kecemasan bagi masyarakat. Pemerintah Indonesia melalui Departemen Kesehatan sedang berjibaku melawan virus ini. Gerakan Indonesia Melawan Korona ada di mana-mana. Berbagai upaya telah dilakukan, termasuk berusaha memutus rantai penyebarannya. Usaha itu antara lain “lockdown” suatu tempat, “social distancing”, rajin cuci tangan, dan penggunaan masker pelindung.

Namun, hampir semua media berita akhir-akhir ini gencar secara terang-terangan memberitakan fakta di lapangan. Sekian orang sudah terinfeksi, sekian jadi ODP , sekian jadi PDP, bahkan sekian jumlah orang meninggal dunia tiap hari. Apa dampaknya? Masyarakat semakin dilanda kecemasan tingkat dewa.   

Sedikit akan dibicarakan apa itu kecemasan? Anxietas (kecemasan)  merupakan bagian normal dari kehidupan sehari-hari. Namun, waspada bila terus-menerus merasa cemas. Sebab, bisa jadi orang akan mengalami gangguan kecemasan  (anxiety disorder). Siapa pun bisa mengalami gangguan kecemasan. Umumnya, gejala terasa ketika menginjak usia paruh baya. Menurut National Institute of Mental Health, perempuan cenderung memiliki gangguan kecemasan daripada laki-laki.

Tak hanya menimbulkan kecemasan berlebih,  gangguan kecemasan bisa memengaruhi berbagai aspek  kehidupan secara keseluruhan. Apa yang terjadi dengan kesehatan mental? Hal itu memengaruhi kesehatan fisik, bahkan kesadaran. Jadi, seharusnya tidak mengherankan bahwa ketika orang menderita kecemasan, ia mengalami beberapa perubahan secara fisik dan mental. Jika seseorang mengalami gangguan kecemasan, ia pasti akan merasa gelisah sepanjang waktu dan seperti tidak pernah berakhir. 

Menurut Psikolog Crystal Lee, rasa lega yang dirasakan saat melarikan diri dari situasi yang membangkitkan kecemasan, sebenarnya memperkuat kecemasan. Pasalnya, dalam keadaan cemas,  penderita mengalami paranoia (curiga) dan berpikir aneh-aneh yang bersifat khayalan. Penderita akan menjadi lebih waspada dan curiga terhadap emosi serta fakta. Kemudian, berujung dengan mengasingkan dan mengisolasi diri sendiri.

Selain meningkatkan kecemasan, gangguan kecemasan juga berdampak pada fisik, seperti denyut jantung yang cepat, gemetar, kelelahan, pusing, kesulitan berkonsentrasi, mual, dan mengalami masalah tidur. Kecemasan jangka panjang tidak baik untuk sistem kardiovaskular dan kesehatan jantung. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kecemasan meningkatkan risiko penyakit jantung pada orang yang sehat. Gangguan kecemasan bisa berdampak pada sistem kekebalan tubuh.

Dalam jangka pendek, kecemasan dapat meningkatkan responsi sistem kekebalan. Namun, kecemasan yang berkepanjangan dapat memiliki efek sebaliknya. Ketika orang merasa cemas, hormon-hormon stres seperti kortisol dan adrenalin dilepaskan yang dapat berdampak pada bagian tubuh yang lain. Hal ini menempatkan tubuh dalam mode fight or flight.

Kortisol (hormon steroid yang diproduksi oleh kolesterol di dalam dua kelenjar adrenal yang terdapat pada tiap ginjal) mencegah pelepasan zat-zat yang menyebabkan peradangan, dan mematikan aspek-aspek sistem kekebalan yang melawan infeksi, kemudian merusak respons kekebalan alami tubuh. Kondisi ini memungkinkan orang dengan gangguan kecemasan kronis mudah terkena flu dan infeksi. orang tersebut berpotensi mengalami masalah pencernaan karena kortisol menahan proses pencernaan dan mengakibatkan orang kehilangan nafsu makan, mual, diare, dan perasaan perut bergejolak. Kondisi demikian tak menutup kemungkinan dapat berisiko terkena sindrom iritasi usus. 

Saat mengalami kecemasan, hippocampus bisa menyusut dan memengaruhi ingatan. Hippocampus adalah bagian dari otak yang paling bertanggung jawab untuk membentuk ingatan baru. Efek negatif jangka panjang dari gangguan kecemasan adalah depresi, insomnia, nyeri kronis, kehilangan minat dalam seks, gangguan penyalahgunaan zat, pikiran untuk bunuh diri, dan kesulitan di sekolah, pekerjaan, dan lingkungan sosial.

Nah, supaya kita semua bebas dari dampak buruk gangguan kecemasan (terutama karena berita pandemi virus korona, berikut akan diberikan beberapa tips:

1. Hindari membaca atau mendengar berita-berita negatif tentang pandemi global tersebut. Kecemasan berlebihan justru akan berdampak negatif terhadap menurunnya imunitas tubuh (antibodi). Jika imunitas tubuh menurun, dengan mudah segala jenis penyakit masuk ke dalam tubuh.

2. Perbaiki kondisi tubuh. Tingkatkan imunitas tubuh dengan berbagai macam makanan bergizi tinggi. Konsumsi buah-buah segar dengan cara dijus atau dimakan biasa.

3. Imunitas tubuh dalam hal ini antibodi kalau diibaratkan adalah tentara badan kita. Peliharalah tentara itu agar tetap kokoh membentengi kita dari serangan musuh yang bernama penyakit, termasuk serangan sporadis si Covid 19 itu.

4. Paling utama, kita sebagai umat  beragama, dekatkan diri kepada Tuhan YME. Tak ada daya manusia kecuali atas pertolongan-Nya. Semakin  kita mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, akan semakin dekat perasaan kita kepada-Nya, sehingga kecemasan akan segera berlalu. Selamat tinggal kecemasan, selamat datang optimisme.

Now, say good bye to Covid 19. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here