Adinda Saraswati, Putri Akbar Faisal, Bersurat ke Akademi Nobel dan WHO, Terkait Pandemi; Terharu Membacanya. Mau Tahu Isi Suratnya?

0
2482
Adinda Saraswati (Foto Harian Nasional).

PINISI.co.id- Seorang remaja asal Makassar, Adinda Saraswati, menulis surat ke Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia (Akademi Nobel) terkait pandemi Covid-19 yang telah mengguncang seluruh dunia. Surat yang ditulis dalam bahasa Inggris tertanggal 9 Juni 2020, ini juga ditembuskan kepada Kepala WHO, Mr.Tedros Adhahom.

Adinda yang berusia 18 tahun, merupakan putri politisi Akbar Faisal dan Andi Syamsartika Virawati. Menulis surat dalam bahasa Inggris sudah kerap dilakoni gadis berkacamata ini. Sebelumnya, Adinda pernah membuat surat terbuka untuk Perdana Menteri Malaysia mengenai insiden bendera merah putih terbalik dalam buku panduan SEA Games 2017. Lalu tulisan tentang keprihatinannya terhadap warga Rohingya di Myanmar dan Bangladesh. Kedua surat ini viral di media sosial.

Dua tahun lalu, Adinda menulis novel fantasi berjudul Things That Live Within. Novel ini merupakan novel perdana Adinda yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Kegemarannya menulis kini membuahkan hasil berupa sebuah novel saat ia masih duduk bangku sekolah menengah.

- Advertisement -

Kini, Adinda kembali bersurat kepada dua lembaga bergengsi di dunia, yaitu Akademi Nobel dan WHO. Berikut ini isi suratnya yang disadur dari bahasa Inggris. Ini kutipan lengkapnya:

Yth. Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia

Dalam 3 bulan terakhir banyak hal yang terjadi dan sebagian besar diantaranya adalah tentang Covid-19. Namun pertama-tama perkenalkan, nama saya Adinda, siswa SMU asal Indonesia. Saya menulis surat ini mewakili jutaan orang yang tergelitik dengan permasalahan Covid-19, terutama anak-anak seusia saya.

Banyak sekali pertanyaan yang muncul terkait Covid-19. Misal, siapa yang harus disalahkan untuk penyebaran virus ini? Kapan kita bisa mendapatkan vaksin?  Benarkah Covid-19 lebih mematikan dibanding Flu Spanyol? Ditambah lagi dengan banyak sekali informasi yang tidak tepat serta beredarnya beragam hoaks yang semakin membuat keadaan menjadi tidak terkendali. Namun yang jelas penemuan vaksin merupakan hal terpenting saat ini. 

Beberapa bulan lalu, saya harus kembali ke Indonesia secara mendadak dari negara tempat saya bersekolah. Kepulangan tergesa ini  membuat saya berpikir apakah saya menjauhi penyakit tersebut atau malah mendekatinya. Penyebaran virus ini sangat masif sehingga tidak seorang pun bisa yakin benar-benar terhindar dari virus mematikan ini.

Angka kematian akibat Covid-19 sudah mencapai 386.000 orang sedangkan jumlah kasus orang yang terjangkit mencapai 6,5 juta orang. Negara-negara dipaksa untuk memberlakukan lockdown yang bisa mengakibatkan penurunan ekonomi. Inggris, contohnya, setelah tiga bulan melakukan lockdown, pertumbuhan ekonominya turun hingga 2%. Sementara di Amerika Serikat, hingga minggu lalu tercatat sekitar 1,9 juta pengangguran baru. Inggris dan AS hanyalah dua diantara ratusan negara yang merasakan dampak pandemik. Masih banyak negara lain yang lebih merasakan dampak Covid-19, baik secara ekonomi maupun kesehatan.

Sebagai warga sipil, kami dianjurkan untuk tinggal di rumah. Sayangnya anjuran tersebut tidak banyak membantu. Orang-orang yang memilih tinggal di rumah bahkan belum sepenuhnya terlindungi. Ya, definisi kata ‘normal’ tidak sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Wabah Covid-19 sungguh merupakan krisis terberat bagi generasi saat ini. Kehidupan benar-benar berubah. Yang pasti kita tidak akan benar-benar pulih secara psikologis.

Karena itu, saya meminta kepada Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia (Nobel Prize Academy) untuk memberikan penghargaan Nobel kepada para penemu vaksin Covid-19. Karena, menurut saya, para penemu vaksin ini berhak mendapatkan pengakuan  dan mereka telah mencapai motto Akademi yakni “memberikan penghargaan tertinggi bagi mereka yang mempunyai jasa besar terhadap dunia”.

Selain itu, saya juga mendesak para pemimpin dunia dan rekan-rekan milenial agar tergerak untuk turut menyuarakan hal ini. Karena para penemu vaksin Covid-19 telah memberikan kesempatan kedua bagi kita semua.

Dunia memang memerlukan obat dan pandemik ini sungguh mengubah pemikiran kita tentang kematian dan waktu. Saya percaya kehidupan manusia belum akan berakhir. Namun kita masih diberi kesempatan untuk kembali menemukan jati diri sebagai makhluk Tuhan.  Jangan lagi gunakan ilmu pengetahun sebagai alat untuk menghimpun kekuatan. Jangan lagi ada upaya manipulasi dalam bentuk apa pun. Serta, pahamilah bahwa proses evolusi pasti akan terus terjadi dan dengan adanya pandemik ini kita tersadarkan bahwa setiap orang memiliki porsi masing-masing untuk membuat dunia ini lebih baik. Jangan pernah ada kata menyerah.

Hormat saya,

Adinda Saraswati

[Lip]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here