Kecemasan Warga KKSS Hadapi New Normal Terbukti: Yang Terjadi Normal Lama

0
853
Salah satu jalan di Jakarta, 5 Juni 2020 ketika PSBB dilonggarkan untuk beradaptasi menghadapi normal baru. Namun kemacetan seperti gamabr di atas menunjukkan bahwa Ibu Kota kembali ke normal lama. (Foto Kompas.com).

Normal baru membuat warga harus beradaptasi dan berdampingan dengan Covid-19. Jika tidak waspada potensi pandemi gelombang kedua bisa lebih dahsyat

PINISI.co.id- Sebagian warga masyarakat masih gamang beradaptasi dengan new normal, atau tatanan kehidupan baru, di tengah wabah Covid-19 yang menuju puncak dan sebarannya kian meluas. Setelah tiga bulan terkurung di rumah, kegiatan ekonomi kembali dibuka sejak 5 Juni kemarin. Namun, dalam masa transisi ini, sebagian masyarakat di wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi), acuh dalam pelonggaran PSBB, lantaran masih banyak dijumpai titik kerumunan, kemacetan, penumpukan orang di transportasi publik, serta pengabaian protokol kesehatan lainnya.    

Padahal, para ahli epidemiologi secara dini sudah mengingatkan bahwa pelonggaran PSBB yang bersisian dengan tatanan baru harus tetap menerapkan protokol Covid-19.

- Advertisement -

Kenormalan baru (norma baru) — adalah cara hidup yang berbeda dibanding sebelum ada wabah Covid-19. Masyarakat harus hidup dengan kebiasaan baru, seperti rajin mencuci tangan dengan sabun, mengenakan masker, dan menjaga jarak dengan orang lain. Kenormalan baru bertujuan mengurangi risiko penularan virus korona.

Buat Novarisanty Tasrief (51) menghadapi kehidupan normal baru, harus dijalani dengan tetap menjaga disiplin berhubung pandemi belum usai. “Meskipun Covid di Jakarta fluktuatif, tapi kita harus disiplin menjaga diri, apalagi sebagian warga lengah dalam menerapkan pembatasan sosial,” katanya kepada PINISI.co.id.   

Karena itu, Nova — begitu ia disapa — memulai dari dirinya dan keluarga dulu, baru lingkungan sekitar hingga ke warga umum. Itulah sebabnya, untuk meningkatkan daya tahan tubuh, Nova mengonsumsi makanan berigizi serta penting untuk selalu istirahat yang teratur, hingga konsumsi suplemen atau vitamin.

Di sekitar tempat tinggalnya di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, ada sekeluarga positif Covid-19 sehingga secara bergantian para tetangga mengirimkan makanan siap santap yang dicantelkan di pagarnya. “Dua anaknya diisolasi di rumah sakit sedang ibunya karantina mandiri di rumah,” kata pegiat di komunitas alumni PPSP Makassar ini.

Aksi berbagi kepada tetangga yang terpapar wabah, disikapi Nova sebagai wujud hidup berdampingan dengan pandemi yang sulit diprediksi ujungnya.      

Untuk sementara, Nova belum dapat beraktivitas di asuransi asing, karena bisnis asuransi lagi tiarap di tengah wabah. “Tak etis menawarkan asuransi dalam kondisi begini,” kata ibu satu anak ini, prihatin.

Akan halnya Melly Goenardy (53), yang tergabung dalam Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Depok, Jawa Barat ini, sekeluarga siap beradaptasi dengan tatanan normal baru, meskipun di luaran rumahnya ia kerap menjumpai masyarakat yang tidak peduli dengan protokol. “ Di Citayam macet dan orang bergerombol, dan masih banyak yang tidak mengenakan masker,” katanya heran.

Sebagai perempuan yang sadar akan kesehatan, alumni SMA Katolik Rajawali Makassar ini, pernah menegur seorang ibu paruh baya di sebuah mal yang tidak memakai masker, akan tetapi yang ditegur balik menantang, bahwa ia cuma takut kepada Tuhan dan tidak takut kepada virus korona yang bikinan manusia.

Melly melihat sebagian warga tidak menyadari bahaya akan pandemi yang tengah merambat ke puncak. “Melihat perilaku masyarakat, saya khawatir potensi gelombang kedua bisa terjadi. Mudah-mudahan sih tidak,” tutur pelaku usaha kuliner ini. 

Serupa dengan Nova dan Melly, Faisal Rahim (55) juga merasa cemas menyaksikan masyarakat berkegiatan dalam masa transisi menuju normal baru. “Saat PSBB saja banyak warga yang tidak mengindahkan protokol kesehatan, apalagi jika sudah ada kelonggaran. Tak terbayangkan bagaimana pengaturannya. Banyak warga yang acuh,” kata pengurus KKSS Kota Bekasi ini.

Faisal memaklumi kegiatan warga di luar rumah sebab sudah merasa bosan di rumah. “Tidak semua orang bisa bekerja dari rumah, ada yang harus keluar menari nafkah,” kata Faisal yang mencontohkan dirinya yang harus bekerja di luar rumah.

Meskipun demikian, Faisal menuturkan bahwa warga yang melakukan kegiatan ekonomi di luar harus menuruti protokol kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun. “Kuncinya ada pada diri sendiri,” kata Faisal yang dikenal sebagai broker.  

Di lingkungan tempat tinggalnya di Pondok Hijau Permai, Pengasinan Rawa Lumbu, Kota  Bekasi, meski zona hijau, Faisal yang ketua rukun tetangga dengan ketat menjalankan protokol kesehatan. Tidak sembarang orang bisa masuk ke permukiman. Penghuni diharuskan menggunakan masker selagi keluar rumah.

Di Kota Bogor, Jawa Barat, Sabaruddin (42) memulai menggunakan komuter line Bogor-Jakarta.  Sejak Senin (8/6/20), ia diharuskan masuk kantor, tetapi ia kaget sewaktu antre selama sejam lebih di stasiun Bogor karena pembatasan penumpang. Belum lagi setiap penumpang harus melewati tes suhu badan, dan pengaturan penjarakan fisik. “Waduh, banyak yang tidak menjaga jarak fisik di stasiun,” katanya risau.

Pria asal Makassar ini juga ragu melihat sebagian masyarakat di Kota Hujan itu masih banyak yang mengabaikan pembatasan sosial. “Di tempat umum, sering orang tidak pakai masker dan tidak menjaga jarak, padahal Bogor zona merah,” ujar Sabaruddin yang ngeri membayangkan sepulang kerja ada penumpang yang membawa virus. Dalam kereta juga penuh tanpa jarak, meski sudah ada pengaturan,” ujar pekerja di perusahaan IT ini.

Dari Makassar, Madjid Sewang (59) yang sudah tiga bulan bekerja dalam rumahnya, ragu menyaksikan sebagian warga kotanya yang tidak siap melakoni hidup normal baru. “Mal buka tutup, jalanan banyak yang macet, dan cuma sedikit wilayah yang melakukan karantina lokal. Keputusan pemkot sering tarik ulur,” kata Sekretaris Eksekutif Kadin Sulsel ini, saat dikonfirmasi PINISI.co.id.

Bahkan tidak sedikit warga di beberapa lingkungan di Makassar menolak tes cepat dan tes usap tenggorokan (swab). Ada pula yang memasang spanduk dengan kata-kata tak sopan dan mengambil paksa jenazah covid di rumah sakit.  “Makanya saya sangsi saat penerapan normal baru nanti. Saat ini saja, banyak warga yang bandel. Orang Makassar bilang eja tompi na doang,” ucap Majid yang khawatir gelombang kedua wabah apabila warga menyepelekan protokol.

Menurut mantan Ketua IKAMI Sulsel Yogyakarta ini, masyarakat yang beraktivitas di luar rumah seakan-akan lupa pandemi, padahal wabah Covid-19 belum berlalu, bahkan peningkatan rekor tertinggi kasus Covid terjadi pada Selasa 9 Juni dengan penambahan 1.043 kasus.  

Kegamangan sama dirasakan Hafid Manguruseng yang tinggal di Bintaro, Tangerang Selatan, Banten. Ia tidak terlalu hirau istilah PSBB transisi, proporsional maupun relaksasi. Yang justru memusingkan dirinya adalah banyaknya kelompok warga yang ditemui di jalan tidak disiplin dalam menaati anjuran kesehatan. “Orang naik ojek onlie tidak pakai masker, di angkutan umum juga tidak menjaga jarak, padahal kalau mau memutuskan virus korona, kita harus ketat,” ujar Hafid yang selalu menyediakan cairan hand sanitizer dalam tasnya.

“Kalau begini, bisa-bisa panjang ini wabah korona, dan bukannya kita di normal baru tapi kembali ke normal lama, he he he…” katanya tergelak. [Lip]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here