Wisata Covid-19 Antara Solusi dan Paradigma Positif

0
132

Kolom Omar Abdallah Arifuddin

Pemerintah telah menyatakan wabah Covid-19 sebagai bencana nasional. Sudah sepatutnya peningkatan upaya saling bantu, bersinergi dan aksi strategis serta efektif dari semua komponen bangsa penting makin diwujudkan dalam menghadapi rasa khawatir terhadap Covid-19 yang dirasakan masyarakat Indonesia termasuk Sulawesi Selatan.

Apalagi, dari hari ke hari, jumlah kasus positif Covid-19 terus bertambah signifikan. Catatan dari Presidium Forum Umat Beragama Peduli Covid-19 (FUBPC 19) telah ada kepanikan dan silang pendapat yang ditimbulkan di luar konteks penanganan virus itu sendiri, bahkan menjadi komoditas politik.

“Sebagai umat Rasulullah selayaknya  menilai positif dan mendukung program Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mengubah tujuh hotel di kota Makassar sebagai tempat karantina orang dalam pengawasan (ODP), orang tanpa gejala (OTG), pasien positif Covid-19, dan tenaga medis. Program karantina di hotel dinamai Wisata Covid-19,”

selain berdoa dan hakkul yakin kepada Allah juga RasulNya dengan ikhtiar virus mampu ditangkal oleh imunitas yang sangat baik. Tentunya imunitas yang baik, bersumber dari istirahat yang cukup, tempat yang nyaman, makan yang bergizi dan teratur, konsumsi vitamin, tidak cemas, dan jauh dari stres, tak kalah pentingnya yaitu terhibur. Semua itu in syaa Allah mudah didapatkan oleh peserta yang mengikuti program Wisata Covid 19 dari Gubernur Nurdin Abdullah. 

Alhamdulillah bahkan, Gubernur mengklaim Sulawesi Selatan jadi salah satu provinsi dengan jumlah pasien Covid-19 sembuh tertinggi karena program Wisata Covid ini.

Dari pencapaian gemilang tersebut. Mari hilangkan pertikaian, politisasi, dan saling nyinyir seperti saat menghadapi konstestasi politik apalagi sampai menuding berlebihan dengan tuduhan Super Hero.

Harusnya kita bertutur baiknya dan taat kepada pemerintah termasuk bapak Gubernur Sulawesi Selatan yang berkerja secara ekstra melalui program-program “Super Peduli”. Ketaatan terhadap pemimpin ialah ciri orang beriman hal tersebut ditegaskan Allah Azza wa Jalla dalam firmanNya, 

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah rasul, dan ulil amri diantara kalian.”(QS. an-Nisaa’: 59)

Menaati pemimpin (ulil amri) menjadi kewajiban untuk orang yang beriman. Belum lagi di balik ketaatan tersebut tersimpan manfaat besar bagi umat yang sesuai dengan ajaran Islam.

Mereka adalah orang-orang yang bertanggung jawab kepada Allah SWT untuk menyelamatkan kita sebagai masyarakatnya dari ancaman Covid-19. Kerja sama dari kita sebagai masyarakat sangatlah penting.

Perang melawan virus korona adalah arena perjuangan kemanusiaan dengan janji pahala besar menanti, bukan arena politik maupun ajang mencari panggung popularitas berorientasi kepentingan pribadi.

Segera hentikan prasangka dan ucapan buruk, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-car kesalahan orang lain” (Al-Hujurat : 12). Dalam ayat ini terkandung perintah untuk menjauhi kebanyakan berprasangka, karena sebagian tindakan berprasangka ada yang merupakan perbuatan dosa. Ayat ini juga terdapat larangan berbuat tajassus. Tajassus ialah mencari-cari kesalahan atau kejelekan-kejelekan orang lain, yang biasanya merupakan efek dari prasangka buruk.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara”.

Amirul Mukminin Omar bin Khathab berkata, “Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin kecuali dengan persangkaan yang baik. Dan hendaknya engkau selalu membawa perkataannya itu kepada prasangka-prasangka yang baik”.

Saya meyakini jika kesadaran masyarakat untuk mematuhi kebijakan pemerintah daerah ini bisa ditumbuhkan, in syaa Allah dengan izin Allah SWT, penyebaran Covid-19 ini bisa lekas dikurangi. Sulsel butuh manusia proaktif bukan provokasi, mari kita sipakatau, sipakalebi, sipakainge.  Prinsip orang Bugis Makassar itu saling memuliakan, bukan saling menghina atau memojokkan. Andaikan se orang ahli kesehatan memberikan solusinya secara mendetail itu akan lebih baik dari pada harus memberikan pernyataan horor secara tersirat. Sejatinya edukasi ke masyarakat Makassar bukan dengan mengancam, tapi lewat cara-cara yang menyejukkan. Jadi menghadapi semua ini kembali ke keimanan kita semua, bertawakallah setelah kita berikhtiar.

Yakinlah dan percaya ini ujian yang in ShaaAllah kita akan lewati, karena doa kita yang tidak pernah berhenti, dan Allah Subhanawata’ala akan menjabah doa-doa kita semua, Aamiin.

Semoga pandemi Covid-19 ini segera bisa kita atasi bersama dan kita kembali ke kehidupan normal seperti biasa. Wallahu a’lam bhis-shawabi.

Penulis adalah Presidium Forum Umat Beragama Peduli Covid-19 (FUBPC 19)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here