Warisan Berharga Haji Bilal Atmojoewana Saudagar Batik dari Yogyakarta

0
914

Oleh Fiam Mustamin

Buku itu selesai dibaca untuk dapat  menangkap ruh dari tokoh pelaku utamanya, Haji Bilal Atmojoewana, sang juragan batik dari Djogdjakarta, apa yang dirasakan, dipikirkan dan yang diwujudkan dalam tindakannya. 

Buku setebal 117 halaman dengan pengantar Wakil Presiden Dr Hoc H. Muhammad Jusuf Kalla,  Gubernur Jakarta Dr. Anies Rasyid Baswedan, testimoni konglomerat religius Drs. H. Aksa Mahnud dan sekapur sirih dari Ir. Salman Dianda Anwar, pemrakarsa, enterprenur muda dan mantan tokoh aktivis pergerakan mahsiswa tahun 1990 an di Yogyakarta.

Buku itu  mengulas lima bab yang terdiri dari  Meneladani Batik Kauman, Merintis Firma Haji Bilal, Melintasi Badai Depresi dan Warisan Haji Bilal yang Turut Membangun Republik.

Buku yang menarik dibaca dan  menginspirasi etos kerja dan idealisme perjuangan ini ditata layout artistik pewarnaannya secara klasik yang menampilkan foto-foto ilustrasi sebagaimana adanya pada jaman itu di kurun masa perjuangan pergerakan dan Revolusi Kemerdekan.

Buku itu ditulis berdua oleh seorang anak santri, Muhammad Husnil, alumnus Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan Yudi Anugrah Nugroho, alumnus program studi jawa ilmu pengetahuan budaya Universitas Indonesia.

Intisari dari buku itu mengurai Filosofi Kehidupan dari  perspektif orang Jawa untuk Kerakyatan, Pendidikan, Keagamaan dan  Perjuangan Kemerdekaan Bangsa.

Diterbitkan Februari 2020

Kehadiran buku ini hendaknya menjadi pustaka refrensi bacaan   khalayak dengan membicarakan dan meresensi pesan-pesan filosofinya.

Sedikit sosok tokoh yang patut dijadikan tauladan yang dalam kehidupan keluarga, lingkungan masyarakat, agama/umat dan perjuangan kecintaannya untuk kemerdekaan bangsanya.

Azam Impian Itu Jadi Kenyataan.

Impian cita-cita untuk menerbitkan buku itu baru terijabah setelah 20 tahun. Terbitnya buku ini  dirasakan penting dengan pesan pesan kearifan dan etos kerja yang menyertai dan melekat pada diri sosok tokoh Haji  Bilal yang sebagian hartanya diwakafkan untuk kemaslahatan, pendidikan dan peribadatan.

Seperti ungkapan Salman, pengagas buku itu …. jangan meragukan firman Allah, bahwa kebaikan sekecil apapun  akan berbalas dengan kebaikan pula.

Salman, putra Mandar Sulawesi Barat diidentikkan sebagai turunan yang trah  nenek moyangnya adalah pelaut yang kukuh dengan prinsip kebenaran yang diyakini tujuan kemaslahatannya untuk orang banyak antara lain yang telah dicontohkan oleh mantan Menteri Hukum dan Ham Baharuddin Lopa untuk penegakan hukum tanpa tebang pilih. 

Komunitas Mandar ini memegang filosifi leluhurnya; si rondo rondoi dan dibali parri yang maknanya kegotongroyongan di jalan kebaikan dan saling tolong menolong dalam kesulitan. 

Salman adalah sahabat Anies Rasyid Baswedan sesama aktivis pergerakan kemahasiswaan  UGM tahun 1990 an. Salman dari jurusan Pertanian dan Anies dari jurusan Ekonomi.

Kemudian Salman berjodoh dengan Liza Anindya Rahmadiani yuniornya yang merupakn cucu buyut dari Haji Bilal sendiri.

Perjodohan ini diakui okeh Salman  atas peran dan jasa baik Anies dan Aba, orangtua Anies yang dianggapnya orangtua Salman juga. 

Dalam ulasan buku itu antara lain disebutkan bahwa Haji Bilal sangat dermawan yang ikhlas menyumbang untuk pergerakan termasuk menyediakan akomodasi perumahan elit di Taman Joewana miliknya kepada pejabat negara yang pindah sementara berkantor di ibukota. pemerintahan di Yogyajarta.

Haji Bilal juga mewakafkan sebagain harta lahannya untuk pendidikan Muhamadyah dan pembangunan masjid Syuhada.

Haji Bilal yang juragang batik, krabat priyayi dari kraton Yogyakarta dekat dengan tokoh-tokoh pergerakan antaranya Kh Saifuddin Zuhri, Prof Kh Kahar Muzakir, Kh Wahid Hasyim, Prof Mohammad Roem dan Kh Ahmad Dahlan.

Apa yang telah diabdikan oleh Haji Bilal dan turunanya patut menjadi cermin dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. 

Kiprah usahanya dalam kesaudagaran batik khususnya bisa menjadi  refleksi  dari Ikatan Saudagar Muslim atau Saudagar Nusantara.

Sebagaimana dipahami dalam berusaha bahwa kekuatan uang dan kekuasaan  bukanlah di atas segalanya tapi sandaran atas ridho dan hidayah dari Maha Pencipta itulah  yang menjadikannya.

Semoga buku Haji Bilal Atmojoewana Raja Batik dari Yogyakarta menjadi cermin untuk generasi bangsa yang lebih baik. Aamiin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here