Virus Corona Mengacaukan Kehidupan Kita

0
790

Oleh Arfendi Arif

Apa yang kita lihat dari dampak virus corona (Covid-19) secara budaya bisa kita sebut terjadinya “kekacauan “di semua sektor kehidupan. Namun, kekacauan disini bukan dalam arti fisik dan kekerasan, melainkan dalam arti budaya dan perubahan kebiasaan dalam hidup sehari- hari. 

Contoh sederhana saja orang yang biasanya memiliki mobilitas dan bergerak setiap hari saat ini disuruh diam di rumah. Bisa dibayangkan bahwa orang yang hidup di kota besar yang harus  bekerja untuk mendapatkan penghasilan, kini mesti diam tidak beraktivitas. Tentu bagi perusahaan yang bisa menjamin karyawannya yang tidak bisa masuk kerja masih bisa merasa lega, tetapi untuk yang merumahkan tanpa gaji dan jaminan keadaan ini amatlah mencemaskan karena harus menanggung kelanjutan hidup anak isterinya.

Di atas adalah ilustrasi sederhana dari  sisi ekonominya, pada sisi budaya dan kehidupan sehari-hari masyarakat juga gamang dengan virus corona. Bayangkan, beberapa tradisi dan kebiasaan yang sudah melembaga secara mapan harus secara rela “ditinggalkan” meski untuk sementara. Contoh, shalat Jumat dan shalat berjamaah yang bagi umat Islam adalah wajib dihimbau dan ditiadakan karena ditakutkan terjadi penularan virus. Karena itulah di masyarakat terjadi prokontra menghadapi situasi ini, ada yang mau melaksanakan himbauan tersebut, namun ada juga yang ragu dan merasa himbauan itu tidak tepat.

Kita juga melihat dampak virus corona orang gagal menikah, atau mungkin tertunda dan dilarang mengadakan pesta pernikahan. Suasana keramaian dianggap kundusif penyebaran virus yang berasal dari China ini. 

Ilustrasi terakhir saya ingin menyebutkan virus corona mengebabkan orang paranoid, lihat saja ada yang takut bersalaman, sebentar-sebentar cuci tangan, dan bahkan melepas baju ketika baru saja keluar rumah, menanggalkan sebelum masuk ke ruangan. Takut virus teleh menempel di pakaian.

Saya ingin mengatakan melalui beberapa ilustrasi di atas, bahwa virus corona memiliki potensi untuk mengubah tradisi dan kebiasaan yang sudah baik di masyarakat. Belum lagi kalau kita ungkapkan bahwa di masyarakat juga terjadi usaha pengisolisaan diri terhadap mereka yang terpapar atau terkena virus corona, bahkan keluarganya dikucilkan atau diisolasi. Lebih jauh bahkan masyarakat menutup akses pemukimannya dari orang luar.  Bahkan, yang luar biasa sekarang ini warga perantau yang biasanya dihimbau untuk mudik melihat kampung halaman, saat ini diminta tinggal saja di kota dan jangan pulkam khawatir membawa virus.

Jika virus ini terjangkit dalam waktu yang panjang, dampaknya bisa kita bayangkan dan kita khawatirkan dapat merubah tradisi yang sudah baik dan sudah harmonis dalam masyarakat. Membangun tradisi positif yang elok, baik dan arif bukanlah hal yang mudah. Leluhur kita bersusah payah menanamkan dan mendidikannya kepada ke generasi anak-cucunya sampai  ke kita saat ini. Semoga dapat kita jaga dan wabah ini cepat berlalu.

Penulis, adalah redaktur Majalah Pinisi dan Pinisi.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here