Terharu Melihat Perkembangan Bengkel Narasi

0
470

Catatan Fiam Mustamin

Masih segar dalam ingatanku, sekitar tahun 1994 seorang pemuda tanggung yang baru menyelesaikan kuliah di Unhas Makassar datang ke ibu kota dan berkunjung ke Kantor Sekretariat Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) jalan Cideng Barat Tanah Abang Jakarta.

Untuk lebih menjembatani hubungan silaturahmi antar warga Sulawesi Selatan yang tersebar melampuai batas-batas wilayah, daerah, kota, negara, bahkan benua, sebagaimana filosofi nenek moyang kita yang mengatakan dimana ada laut, hutan, dan gunung, disitu ada orang Bugis memulai membangun peradaban, maka pengurus paguyuban KKSS pusat membuat majalah komunitas bernama “Majalah Phinisi KKSS” waktu itu.

- Advertisement -

Oleh pengurus pusat KKSS, saya diberi otoritas atau amanah untuk mengembangkan majalah Pinisi KKSS itu sebagai wadah berbagi informasi dan komunikasi untuk warga KKSS khususnya. Karena itu saya sadar perlu menciptakan kader untuk bersama memangku amanah itu. Sang pemuda tanggung yang menemuiku itu ternyata punya hobi menulis. Jadilah ia magang menjadi reporter dibina seniornya yang lebih dulu di Jakarta, seperti Alief we Onggang, Erwin Kallo, Imran Duse, Arfendy, yang kemudian menulis juga buku selain opini dan esai.

Sang pemuda tanggung yang menemuiku tahun 1994 itu bernama Ruslan Ismail Mage. Seorang akademisi yang kini menjelma menjadi penulis buku produktif. Konsistensinya menulis buku tiga tiap tahun begitu menggembirakanku yang pernah membimbingnya menjadi penulis. Bahkan sejak pandemi Covid-19 sudah menulis tujuh buku, diantaranya : Pena Cinta Sang Inspirator, 21 Hukum Kesuksesan Sejati, Kado Buku untuk Sahabat, XYZ Writing (panduan muda menulis bagi siswa, mahasiswa, dan aparatur), Radikalisme, Demokrasi, dan Kemiskinan, serta Sumpah Pena.

Ruslan kemudian bersama koleganya Kuspriyanto (Iyan) mendirikan komunitas Bengkel Narasi (BN), yang menghimpun orang-orang lintas profesi, suku, dan agama, yang ingin belajar menulis. Ada keharuan dan rasa bahagia melihat perkembangan Bengkel Narasi (BN) yang semakin banyak diapresiasi orang di seluruh Indonesia.

Ekspresi rasa itu muncul ketika melihat video webinar Bengkel Narasi di youtube bertajuk “Kutemukan Peta Surga di Ujung Penaku” dengan narasumber tunggalnya adinda Ruslan Ismail Mage. Terlebih mengikuti dan mendengarkan testimoni dari ibu-ibu guru yang telah terbimbing menulis.

Adinda Ruslan menyampaikan rasa batinnya dalam penulisan bukunya. Suara batin itu direspon oleh pembacanya yang tersebar di seluruh pelosok nusantara, bahkan sampai Malaysia dan Hongkong.

Saya larut dalam keharuan dengan ungkapan yang adinda Ruslan utarakan “Kutemukan Peta Surga di Ujung Penaku.” Semoga BN ini menjadi gerakan masyarakat yang terus berkembang untuk melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas dan bermartabat yang akan mengendalikan pemerintahan.

Penulis adalah budayawan, penulis senior, tinggal di Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here