Temu Cendekia 2020, Jejak Cerdas Ber-KKSS

0
94

Catatan M Saleh Mude

Akhir bulan Juni lalu, tepatnya, 27-28 Juni 2020. Kami menggelar acara internasional, Pertemuan Cendekiawan Bugis-Makassar (PSCM) I Tahun 2020, dilaksanakan secara online, memakai aplikasi Zoom selama dua hari. Acara itu bertema “Aktualisasi Nilai-nilai Budaya Bugis-Makassar dalam Pembangunan Peradaban Bangsa”, membahas empat rumpun besar keilmuan: Room (i): Sosial, Politik, dan Ekonomi; Room (ii): Pendidikan, Agama, dan Budaya; Room (iii): Humaniora, Sastra, dan Filsafat; dan Room (iv): Sains, Teknologi, dan Kesehatan.

Pertemuan Cendekiawan Pertama ini dirangkaian dengan Halal Bihalal keluarga besar BPP KKSS secara online; diikuti oleh lebih 600-an partisipan (peserta) di seluruh Indonesia dan beberapa perwakilan luar negeri, seperti di Amerika, Mesir, Australia, Malaysia, Jepang, dll.

Acara seremonial Pembukaan dipandu oleh Devy Aziz sebagai Master of Ceremony, diawali dengan menyayikan lagu Indonesia Raya dan Mars KKSS; dilanjutkan secara berturut-turut, Pembacaan Ayat-ayat Suci Al-Qur’an dan Sari Tilawah; Laporan Koordinator Acara, Prof. Dr. Awaluddin Tjalla; Hikmah Halal Bihalal oleh Dr. Shamsi Ali, Direktur Muslim Jamaica New York; Sambutan Ketua Umum BPP KKSS, Muchlis Patahna, SH.,M.Kn; dan Sambutan Provinsi Gubernur Sulawesi Selatan, Prof. Dr. M. Nurdin Abdullah, M.Agr.; dan terakhir, Sambutan dan Pembukaan secara resmi Pertemuan Cendekiawan oleh Bapak Dr. (Hc) Muhammad Jusuf Kalla (JK), Ketua Dewan Kehormatan Badan Pengurus Pusat Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (BPP KKSS) dan Wakil Presiden RI dua periode di dua era presiden yang berbeda, Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo, pukul 11.00 WIB.

Kutipan Isi Laporan dan Sambutan

Awaluddin Tjalla melaporkan tentang cara kerja Panitia yang tergolong cepat dan rapat maraton yang dilakukan secara online, dimulai dengan menyusun time line, pembagian tugas masing-masing anggota, kerja tim, menghubungi calon narasumer hingga tiba pada hari pembukaan PCBM I.

Pertemuan ini adalah sebagai ruang silaturrahmi para cendekiawan Bugis-Makassar bukan saja yang ada di Indonesia, akan tetapi juga dari manca-negara. Kegiatan yang dilaksanakan ini juga sebagai wadah mengungkapkan ide-ide dan pemikiran yang konstruktif dan juga sebagai wadah pembelajaran bagi manusia Bugis-Makassar Milenial dalam mengimplementasikan nilai-nilai Bugis-Makassar untuk kemajuan peradaban. 

Shamsi Ali, melihat pentingnya orang Bugis-Makassar menyikapi era pandemi Covid-19 dengan bermental kuat seperti baja dan menyesuaikan diri dengan gaya hidup dan karakter baru di new normal.

Shamsi Ali menyatakan, “Pertemuan ini adalah upaya untuk menggali (uncover) potensi-potensi tersembunyi dari daerah dan putra-putri daerah. Warga Bugis-Makassar, sebagaimana setiap daerah di Nusantara, memilki keunikan tersendiri. Mereka memiliki keuletan dan motivasi kerja, serta mental daya saing yang dibangun di atas keberanian yang tinggi. Falsafah “siri” yang biasanya ditandai oleh “badik’” atau keris menggambarkan keberanian. Karenanya pertemuan Cendekiawan ini bisa mengarahkan potensi ini ke arah yang positif dan maksimal, sebagai bagian dari upaya untuk memberikan kontribusi positif bagi pembangunan bangsa dan dunia.

Shamsi berharap perantau dan Cendekiawan Bugis-Makaasar dapat beradaptasi dengan New Normal dengam menyiapkan empat modal: (i) sikap mentalitas yang solid; (ii) menuntut sikap yang antisipatif, sekaligus wawasan keilmuan yang inovatif dan pro-aktif; (iii) era baru itu juga berarti memasuki sebuah era dengan karakter dan perilaku yang baru. Tentu karakter baru yang dimaksud adalah adanya perubahan karakter yang lebih positif, baik pada tataran individu maupun pada tataran kolektif keumatan kita; dan (iv) dituntut untuk membangun wawasan global (global mindset). Dunia global kita itu ditandai oleh banyak hal. Tiga di antaranya yang paling dominan; kecepatan (speed) ketergantungan (interconnectedness), dan persaingan (competition).

Muchlis Patahna, menjelaskan latar belakang penyelenggaraan Pertemuan Cendekiawan ini dengan mengaku, menyontoh kesuksesan Pertemuan Saudagar yang digagas oleh Pak JK, M. Aksa Mahmud, M. Alwi Hamu, dan Alm. Mohammad Taha. “Sejak dahulu Cendekiawan Bugis-Makassar sudah berkontribusi dalam peradaban bangsa, salah satunya, hukum laut yang dihasilkan. Prinsip hidup orang Bugis-Makassar dapat dikategorikan sebagai manusia yang berperadaban tinggi, yakni macca na malempu (pandai nan jujur), warani na magetteng (berani dan keras tidak mudah goyah). Salah satu indikator bangsa yang tingkat peradabannya tinggi adalah patuh pada hukum, tidak korupsi. Jika pelanggaran hukum masih banyak, korupsi banyak, itu tanda peradaban masih lemah.

Nurdin Abdullah menyambut baik dan mengapresiasi upaya KKSS menggelar pertemuan webinar itu di tengah situasi dan kondisi pandemi Covid-19. Nurdin mengharapkan pertemuan dua hari itu, memberikan kontribusi yang signifikan dalam pembangunan bangsa.

Terakhir, Pak JK mengharapkan para Cendekiawan Bugis-Makassar untuk senantiasa berupaya keras menghasilkan pemikiran-pemikiran yang dapat dilaksanakan. “Pemikiran yang baik harus dapat dilaksanakan sehingga bermanfaat bagi masyarakat, dan bangsa. Pertemuan Cendekiawan Bugis-Makassar ini, sama dengan Pertemuan Saudagar Bugis-Makassar, bahwa apa yang dihasilkan dari pemikiran, harus dapat dilaksanakan. Karena itulah yang akan membawa kemajuan”.

Satu hal yang dipesankan JK, yaitu para Cendekiawan Bugis-Makassar, dan masyarakat perantauan Bugis-Makassar pada umumnya harus selalu berpikir kebangsaan, secara nasional. “Memikirkan daerah penting, tetapi jauh lebih penting juga berpikir nasional. Artinya persatuan bangsa,” pungkas JK dilanjutkan dengan membaca basmalah (bismillah) sebagai tanda dibukanya Pertemuan Cendekiawan Bugis-Makassar Pertama Tahun 2020.

Narasumber

Panitia telah membagi narasumber ke dalam empat room (rumpun) ilmu atau kajian: pertama, di bidang rumpun “Ilmu Sosial, Politik, dan Ekonomi: Prof. Dr. Masjaya, Rektor Universitas Mulawarman Samarinda; Prof. Dr. Dwia Aries Tina Palubuhu, MA., Rektor Unhas Makassar; Prof. Dr. Armin Arsyad, Dekan Fisip Unhas Makassar; Dr. Tanri Abeng, MBA., Rektor Universitas Tanri Abeng (TAU) Jakarta; dan Dr. Ir. Mohammad Jafar Hafsah, Sekretaris Jenderal ICMI.

Rumpun kedua di bidang “Ilmu Agama, Budaya, dan Hukum: Prof. Dr. Alwi Shihab, Pengajar Hartford Amerika; Prof. Dr. M. Nasaruddin Umar, MA., Imam Besar Masjid Istiqlal; Dr. Shamsi Ali, MA., Direktur Jamaica New York; Prof. Dr. Andi Faisal Bakti, Wakil Rektor IV UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Dr. Mukhlis PaEni, Budayawan asal Sulawesi Selatan; Zainal Arifin Mochtar, Ph.D., Pengajar Ilmu Hukum UGM Yogyakarta; dan Wahyuddin Halim, Ph.D., Pengajar Filsafat dan Teologi UIN Alauddin Makassar.

Rumpun ketiga di bidang “Humaniora, Sastra, dan Filsafat”: Prof. Dr. Anhar Gonggong, Guru Besar Sejarah UNJ Jakarta; Prof. Dr. Hafid Abbas, Guru Besar Ilmu Pendidikan UNJ Jakarta; Nirwan Ahmad Arsuka, Budayawan asal Sulawesi Selatan; Prof. Dr. Pawennari Hijang, Pengajar Unhas Makassar; Prof. Dr. Hamka Haq, MA., Guru Besar UIN Alauddin Makassar; dan Prof. Mukhtasar Syamsuddin, Ph.D., Pengajar Ilmu Filsafat UGM Yogyakarta.

Terakhir, rumpun keempat, “Sains, Teknologi, dan Kesehatan”: Prof. Dr. dr. Taruna Ikrar, Peneliti di Universitas Irvine, Amerika; Dr. dr. Jumraini Tammase, Pengamat Ilmu Kesehatan di Makassar; Dr.-Ing. Ilham akbar Habibie, M.B.A.; Prof. Dr. Idrus Paturusi; dan Pof. Dr. Jamaluddin Jompa.

Pikiran-pikiran mereka akan kami dokumentasikan dalam bentuk buku, sebagai bukti atau jejak kami ber-KKSS. Kami berharap ide-ide besar para sarjana asal Sulawesi Selatan dapat memicu dan memberi spirit untuk para generasi milenial KKSS. Semoga. 

Penulis, Wakil Sekretaris Jenderal BPP KKSS dan Sekretaris Panitia PCBM 2020.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here