Sejak Abad Ke-10 Pemerintahan Luwu Sudah Eksis, Ini Kisah Kerajaan Tertua di Sulawesi

0
1889
- Advertisement -

Kolom Nawawi Sang Kilat

Kerajaan Luwu yang kita kenal sekarang telah memiliki sejarah yang sangat panjang sehingga dari sudut pandang geopolitik, para ahli terkadang dibingungkan oleh kemasyhuran Luwu sebagai sebuah kerajaan terbesar dan tertua di Sulawesi.

Bahkan menampakkan kesejajaran kronologis atau kemitraan horizontal dengan raksasa Majapahit. Dan dari sudut pandang ekonomi, sulit memahami bagaimana entitas politik ekonomi Luwu dapat memasuki kontak-kontak interregional dan internasional. Sementara dari sudut pandang letak geografisnya boleh dikatakan agak terpencil pada sebuah teluk yang jauh meletak membelah dua semenanjung selatan dan tenggara yang sempit dan runcing.

Kedatuan Luwu yang pernah besar pada suatu masa di mata nasional maupun internasional. Kajian tentang Kedatuan Luwu terutama pada wilayah proto sejarahnya yang begitu lambat dan ketinggalan oleh daerah lain diperparah lagi oleh kurangnya dorongan pemerintah setempat dalam mensosialisasikan kebesaran Kedatuan Luwu, padahal dalam kitab yang ditulis oleh sastrawan terkemuka Empu Prapanca dalam bukunya Dasa Wardana atau Nagara Kertagama yang ditulis pada 1365, Kedatuan Luwu sudah terjabarkan dengan sangat baik di sini.

Dalam periode-periode pemerintahan Kedatuan Luwu, pusat pemerintahan atau ibu kota disebut dengan Ware (pusat tanah Luwu) yang merupakan wilayah khusus dan istimewa sehingga itulah sebabnya Sawerigading juga bergelar Opunna Ware ( Rajanya Ware). Adapun periode pemerintahan Datu Luwu sebagai berikut:

- Advertisement -

Pada periode Pertama pusat Kerajaan Luwu (Ware Pertama) dimulai pada sekitar abad X hingga abad XIII, ketika itu Ware disekitar Ussu, yakni tempat asal mula turunnya Batara Guru ke permukaan bumi lengkap dengan istananya, kini daerah tersebut menjadi tabu untuk dimasuki oleh sembarang orang.

Pada periode Kedua dimulai ketika memasuki awal abad XIV pusat kerajaan Luwu (Ware Kedua) dipindahkan oleh Datu Luwu Anakaji, ke Mancapai, dekat Lelewawu, disebelah selatan Danau Towuti yang kini berada di Propinsi Sulawesi Tenggara.

Pada priode Ketiga pusat Kerajaan Luwu ( Ware Ketiga) dimulai pada sekitar abad XV, dipindahkan oleh Datu Luwu yang bernama Dewaraja ke Kamanre, ditepi sungai Noling, atau sekitar 50 kilometer sebelah selatan kota Palopo. Adapun strategi perpindahan ini dilakukan dengan maksud memperluas kerajaan kesebelah selatan, tetapi sayangnya usaha tersebut terhalang dengan adanya perlawanan yang keras dari kerajaan Bone, yang mengakibatkan Kedatuan Luwu kehilangan wilayah Cenrana, Wage dan Laletonro.

Pada periode Ke empat pusat kerajaan Luwu ( Ware Keempat) pada sekitar abad XVI Ware dipindahkan ke Pao, di Pattimang Malangke. Dan pada periode ini agama Islam masuk ke Luwu, yang diperkenalkan oleh Dato Pattimang sekitar tahun 1603. Pada saat Ware perpusat di Pao telah terjadi peristiwa perebutan tahta yang menimbulkan pertikaian antara putra mahkota Patiraja dan adiknya yang bernama Patipasaung.

Perang saudara tidak dapat terhindarkan, walaupun pada akhirnya dapat dipadamkan oleh Madika Bua, Madika Ponrang dan Makole Baebunta. Madika Bua telah berperan sebagai inisiator sekaligus ketua perdamaian. Perang saudara ini diakhiri dengan penyerahan kekuasaan kepada raja yang sah, Patipasaung, oleh kakaknya Patiraja.

Pada Periode Kelima pusat kerajaan Luwu (Ware Kelima) dipusatkan di Palopo sampai dengan sekarang. Dan atas jasa-jasanya meredam perang saudara di Pao, tiga kerajaan pendukung yaitu Bua, Ponrang dan Baebunta diangkat statusnya menjadi Anak Tellue atau tiga kerajaan utama di Luwu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here