Sebelum Emansipasi Kartini, Singa-Singa Betina Bugis Makassar Sudah Meraung

0
3211

Menjadi singa sehari lebih baik ketimbang jadi kambing seumur hidup

Kolom Alif we Onggang

Kartini (1879-1904) menginspirasi kebangkitan perempuan sehingga setiap 21 April kita mengenang kejuangannya. Melihat kaumnya di Jawa dikungkung, dan tidak kuasa menentukan nasibnya, Kartini ‘memberontak’ lewat tulisan-tulisan mencerahkan.

Menengok ke belakang, senyatanya Kartini-Kartini Bugis Makassar dan Mandar sudah selangkah berdiri membela semua kaum. Mereka diperlakukan sederajat dengan kaum pria, termasuk dalam soal pemerintahan dan kemiliteran. Hak dan kewajiban wanita sama dengan lelaki, sejauh dalam kaitan mempertahankan martabat, agama, budaya dan kesejahteraan warga.

Teristimewa wanita Makassar dapat menduduki tempat tinggi seperti diangkat menjadi kepala adat, atau raja — bukan ratu yang feminim dan duduk manis di singgasana. Ia juga perempuan maskulin yang turun bersama rakyat ke medan laga.

Sebelum Kartini lahir dan kelak mencetuskan kesetaraan hak seperti lalaki, sejumlah perempuan-perempuan Bugis Makassar telah menjadi raja,  panglima perang hingga pemimpin politik.  Mereka tidak saja piawai meracik pallumara di ruang domestik (dapur), akan tetapi berperan jauh di ruang publik seperti halnya pria. Malahan pada titik-titik kritis perempuan Bugis Makassar melampui pencapaian lelaki.

Thomas Stamford Raffles (1817) melihat perempuan Bugis Makassar lebih percaya diri daripada yang diharapkan dari peradaban negara-negara lain pada umumnya. Perempuan tidak mengalami penderitaan, kemelaratan atau pekerjaan yang membatasi produktivitas seperti di bagian dunia lain.

Crawfurd dalam History of Java (1820) mencatat di Sulawesi Selatan perempuan tampak tanpa skandal. Dia berperan aktif dalam semua bisnis dan kehidupan, serta berkonsultasi dengan laki-laki untuk segenap urusan publik, dan memuncaki tahta menjadi raja.  

Semisal I Tenri Awaru Besse Kajuara, raja Bone ke-28 yang berlaga melawan Belanda pada 1859 selama hampir setahun. Saking dahsyatnya pertempuran ini, Belanda sampai mengerahkan kekuatan armadanya yang paling besar dan baru berhasil menduduki Bone dengan korban berjatuhan di kedua belah pihak termasuk pemimpin pasukan Belanda Mayor Kroesen.

Besse menabuh perang tahun 1857, dengan menginstruksikan semua kapal yang berlabuh di pelabuhan Bajoe yang berbendera Belanda, merah-putih-biru harus membalikkannya menjadi biru-putih-merah. Besse sudah hilang kesabaran dan muak menyaksikan kompeni.

Besse laksana singa militan, liat, dalam beberapa perang membara. Dia raja yang tidak hanya mendengar laporan, namun turun bersama rakyat memegang bedil menggempur musuh-musuhnya. Serangan-serangan Besse sangat mematikan.

Selain Besse, di Bone masih ada lima perempuan yang pernah menjadi raja. Perempuan di daerah ini dianggap memiliki kemampuan setara dengan kaum pria.  Keenam raja ini adalah wanita-wanita pemberani, mengingat syarat untuk menjadi seorang raja harus mempunyai sifat-sifat kecerdasan, kejujuran, dan keberanian.

Pasukan Bainea

Tahun 1600-an,  Gowa mengandalkan I Fatimah Daeng Takontu Karaeng Campagaya, dijuluki Garuda dari Timur tersebab kegigihan dalam hal ilmu bela diri dan bertempur.  Heroisme Fatimah terpantik melihat arogansi Belanda. Itulah yang mendorong ia selalu menyertai ayahnya, Sultan Hasanuddin berperang bersama.

Selagi berusia tujuh tahun, perang Makassar (1666-1669) melawan VOC dan sekutunya pecah. Menanjak umur 23, ia memimpin salah satu regu dan memimpin sejumlah misi penyerangan VOC. Bahkan di masa tuanya Fatimah menjaga wilayah laut Kerajaan Mempawah di Kalimantan masa-masa akhir hidupnya.

Fatimah memimpin ratusan pasukan elit perempuan membantu Banten. Kembali ke Makassar, ia meneruskan perjuangannya melawan kompeni.

Perempuan tangguh lainnya adalah Opu Daeng Risadju dari Luwu.  Opu memimin Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) dan tidak mengindahkan saran agar berhenti berpolitik. Politik etis Opu tak lain untuk membebaskan rakyatnya dari penjahahan. Opu tidak akan menurunkan siri-nya hanya karena sebuah tekanan yang dinilai merugikan bangsanya.

Opu gigih memperjuangkan kemerdekaan, dan tak pernah gentar menantang Belanda kendatipun sudah berusia senja. Fisiknya yang mulai susut tapi semangat juangnya terus berkobar mengatasi anak-anak muda. Suaranya lantang, bicaranya berapi-api.

Di Enrekang, ada Pancai Tana Bungawali-E, Raja Endekan XI. Pancai mampu mengemban amanah sebagai seorang raja yang ramah, mencintai rakyat dan bijaksana. Pancai dikenal tegas, tak sedikitpun nyalinya ciut menghadapi penjajah. Ia juga adalah juru damai dan handal mengatasi konflik.

Pancai naik pitam menyaksikan orang asing  menyambangi Enrekang, dan mengekspresikan ketidaksukaannya. Ia lalu mengambil sikap untuk kontak senjata.

Tak ayal lagi, Pancai bersama panglimanya yang juga perempuan, menghalau pasukan Belanda melakukan penyerangan setelah Belanda balik ke Makate. Lebih dulu disiapkan benteng-benteng sebagai perisai. Pancai menyeru bahwa perjuangan melawan kolonialisme berarti perjuangan mempertahankan tanah air, melawan kezaliman, membela rakyat dan martabat keluarga.

“Tidak ada alasan lain kecuali melawan musuh sampai titik darah penghabisan,” raung Pancai seperti singa terluka.

Anjing Belanda

Dari Mandar, Singa Betina itu bernama Andi Depu Maraqdia Balanipa, yang memimpin rakyat mempertahankan kemerdekaan. Kisah heroiknya bermula pada 15 Januari 1946.  Puluhan tentara Belanda dengan senapan komplet mengepung Istana Balanipa, markas para pejuang republik di Mandar.

Para serdadu NICA bermaksud menurunkan bendera Merah-Putih yang tengah berkibar anggun di halaman istana. Belum sempat bule-bule ini mendekat, terdengar suara menggelegar memecah langit. “Hei anjing Belanda! Tau asuko! Kalau kalian berani tebaslah tiang bendera ini bersama dengan tubuh saya. Langkahi mayat saya sebelum kalian menurunkan Sang Saka ini, anjing!” Andi Depu menghardik tajam. Matanya menyala mengintai mangsa.

Dalam perang gerilya di Mandar, taktik ini amat merepotkan Belanda. Beberapa kali bentrokan pecah, namun Andi Depu selalu dapat meloloskan diri. Ketika banyak pria yang ngumpet mendengar desingan peluru, Andi Depu berdiri di garis depan, mengaum seperti singa.

Di Sinjai, Besse Langelo adalah Raja Bulo-Bulo ke-23. Raja perempuan bernyali singa ini berperang meladeni Belanda selama dua tahun, 1817-1819. Kerap pasukan Kompeni dibuat kocar-kacir, dan nyaris putus asa akibat kegigihan dan kelincahan Besse dalam serangan taktis. Pasukan Besse pantang menyerah dan menganggap Belanda sebagai musuh yang harus dimusnahkan dari muka bumi.

Perempuan-perempuan hebat dan perkasa seperti Fatimah, Besse, Andi Depu, Pancai, Opu adalah martir perjuangan. Sepanjang hidupnya ia mengisahkan sebuah epik  kepahlawanan.

Menjadi seekor singa sehari jauh lebih baik ketimbang menjadi domba seumur hidup.

Ketika wafat, dalam bahasa Bugis mereka disebut mate ri gollai, mati yang bergula; atau mate ni santangngi dalam ucapan Makassar. Mati syahid dalam Islam, sementara Chairil Anwar menyebut, sekali berarti lalu mati.

Sungguh sebuah kematian yang indah.

Bacaan: Ery Iswary, Perempuan Makassar, 2010, A. Rahman Rahim, Nilai-Nilai Utama Kebudayaan Bugis, 2011, PINISI No 06 Th.XXIV/April-Mei 2001, Pahlawan Nasional 2018: Kisah Andi Depu Bertempur demi Republik, https://tirto.id/c9E9

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here