Satu Bumi, Satu Homo Sapiens, Satu Spiritualitas

0
242

Oleh: Aspar Paturusi

Judul : Spirituality of Happiness — Spiritualitas Baru Abad 21,
Narasi Ilmu Pengetahuan
Penulis : Denny JA
Penerbit : Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, xiii + 150 halaman
Tahun terbit : Juli 2020

Penjelajahan spiritual dan intelektual Denny JA sepanjang usia kreatifnya, yang tertuang dalam buku Spirituality of Happiness, membawa kita menjelajahi perjalanan kehidupan homo sapiens dari 200 ribu tahun yang lalu hingga sekarang.

Denny JA menghadirkan kepada kita proses evolusi homo sapiens, dalam menata kehidupan panjang sekian ratus ribu tahun. Dari hidup berburu, lalu menetap dan membuka lahan pertanian, hingga membangun peradaban.

Dari menyembah batu, binatang, dewa-dewa, sampai homo sapiens memiliki 4.300 agama, ratusan aliran filsafat, 6.500 kelompok bahasa, dan hidup bermasyarakat di bawah naungan 195 negara. Pada 2020 ini, homo sapiens mencapai populasi 7 miliar. Mereka berada di mana-mana dan bergerak ke mana-mana, memburu kehidupan bermakna dan bahagia.

Dalam pengantar bukunya, Denny JA menulis: “Saya pun berendam di pertemuan dua samudera, samudera spiritual dan samudera ilmu pengetahuan. Saya renungkan dan saya rangkum intisari dan pandangan hidup bahagia dan bermakna.”

Denny JA meringkas panduan spiritual baru dalam formula 3P+2S. Dengan formula ini semua homo sapiens, apapun identitas sosialnya, walau mereka terpilah dalam 4.300 agama, 195 negara, dan 6.500 kelompok bahasa, mereka dapat hidup bermakna dan bahagia sepanjang menerapkan mindset dan habit 3P+2S.

Yang dimaksud 3P adalah personal relationship, positivity, dan passion. Sedangkan 2S adalah small winning dan spiritual blue diamonds. Demikian prinsip spiritualitas baru yang merupakan narasi besar gelombang ketiga, setelah gelombang pertama (mitologi) dan gelombang kedua (wahyu, agama).


Denny JA menekankan bahwa pada gelombang ketiga, prinsip panduan hidup bermakna dan bahagia disusun berdasarkan riset ilmu pengetahuan. Spiritualitas baru ini tidak menggantikan agama, namun menjadi common denominator homo sapiens, walau mereka terpisah ke 195 negara, 4.300 agama, dan 6.500 kelompok bahasa.
Mereka bernaung dalam spirit: satu bumi, satu homo sapiens, satu spiritualitas.

Prinsip pertama dari spiritualitas baru itu adalah Personal Relationship. Hubungan personal yang akrab antara satu sama lain, saling mengasihi, saling menghormati, dan saling menumbuhkan pada seluruh lapisan masyarakat.

Prinsip kedua adalah positivity. Prinsip yang melihat sisi positif aneka peristiwa. Mencari hikmah dari setiap derita dan musibah. Bahwa dalam setiap peristiwa terkandung pesan dari Tuhan.

Prinsip ketiga, Passion yang juga dirumuskan berdasarkan hasil riset. Semua umat manusia apapun agama, jenis kelamin, status ekonomi, usia, asal negara, tinggi rendah jabatan, dapat mengalami suasana ekstase dan flow,.

Untuk hal ini Denny JA mengutip penyair sufi Jalaluddin Rumi: “Tenggelamlah dengan khusyuk pada apa yang kamu cintai” Atau, “Di manapun, kapanpun, apapun yang kamu lakukan, tumbuhkan kehangatan cinta.” Denny JA melanjutkan kutipannya: “Jika kau jalani sepenuh jiwa, sungai makna akan deras mengalirimu.”

Luar biasa persekutuan batin antara penyair dan mistikus Jalaluddin Rumi, 800 tahun lalu, dan penyair pelopor puisi esai Indonesia tahun 2020 ini. Dalam ulasan dan esai tentang perjalanan panjang evolusi kehidupan homo sapiens selama 200 ribu tahun, tentang hidup bahagia dan bermakna, tentang cinta antara sesama manusia, Denny JA selalu mengutip kalimat bijak dan puitis dari Rumi.

Tokoh masa lalu jadi hidup kembali di pena dan pemikiran Denny JA. Puisi Rumi menembus abad dan menjadi bingkai dari inti pemikiran dan pandangan falsafah Denny JA tentang homo sapiens.

Jalan pemikiran, renungan, dan pandangan falsafah Denny JA akhirnya bermuara pada kesimpulan, bahwa walau homo sapiens hidup dalam 4.300 agama, 6.500 kelompok bahasa, di 195 negara, pada intinya mereka berada dalam naungan common denominator: “satu bumi, satu homo sapiens, satu spiritualitas”.

“Hatimu diciptakan seluas samudera. Temukan panggilan hidupmu pada kedalaman yang tersembunyi,” kata Jalaluddin Rumi. Kalimat ini seiring dengan renungan Denny JA tentang prinsip keempat S untuk Sense of Progress dan Small Winning.

Suatu gerakan perjuangan untuk kebaikan. Untuk memberi pada hidup dan kehidupan. Menciptakan kemenangan kecil. Pada skala rumah tangga, misalnya, sampai kepada skala yang lebih luas, sesuai sumber daya setiap individu. Sense of Progress, menetapkan serangkaian capaian. Meraih rangkaian kemenangan kecil demi kemenangan kecil.


Denny JA berkisah tentang kapal San Jose, yang tenggelam di dasar samudera Karibia pada 300 tahun lalu, bersama harta karun yang “alang kepalang besar” –istilah Denny. Harta itu jika dirupiahkan akan senilai Rp 240 triliun.

Denny bertanya:”Jika samudera Karibia menyimpan harta karun yang begitu besar, harta karun apa yang disimpan oleh samudera spiritualitas?” Di samudera sana tersimpan emas, logam, dan perhiasan. Di samudera spiritualitas ada terpendam, serta memancarkan makna serta kebahagiaan autentik kepada umat manusia, yang diberikan oleh prinsip kesadaran melalui habit dan mindset.

Dikemukakan, kalau di samudera Karibia, Atlantik, ataupun Pasifik ada pemburu harta karun, juga di samudera spiritualitas ada pemburu harta karun sepanjang 200 ribu usia homo sapiens. Sejarah homo sapiens adalah juga sejarah pencarian makna hidup. Begitu banyak agama dan kepercayaan yang dilahirkan. Sebagian juga sudah terkubur lantaran tidak sesuai lagi dengan kesadaran zaman.

Harta karun apa yang diangkat oleh Denny JA dari samudera spiritualitas? Tiga harta karun yang dipilihnya, “tiga berlian biru.” Berlian biru dipilih karena itulah batu termahal yang ada di bumi.

Pertama, adalah The Golden Rule. Prinsip kebajikan, prinsip utama moralitas. Kebajikan mengandung nilai mulia yang sangat berharga. Harta, kekuasaan, pengetahuan, dan amal perbuatan menjadi berarti jika membawa kebajikan. Sebaliknya jika membawa keburukan dan kejahatan, akan berbahaya.

Kedua, adalah prinsip Power of Giving. Berikan apa yang bisa kita berikan pada orang lain, untuk membahagiakan orang lain, untuk menolong orang yang kurang beruntung. Harta karun ini ada pada semua agama besar. Kita membagi kebahagiaan dengan tulus ikhlas.

Ketiga, adalah prinsip The Oneness. Prinsip bahwa segala hal itu satu. Satu kesatuan yang utuh. Ada keterkaitan satu sama lain. Semua manusia itu satu. Di balik semua perbedaan identitas dan status, pada hakikatnya manusia itu satu. Dengan alam, lingkungan juga menyatu dalam diri manusia. Alam adalah bagian dari dirinya. Alam adalah keluarganya yang harus dia rawat, sebagaimana dia merawat kelaurganya.

Ketiga harta karun di samudera spiritual itu oleh Denny JA dinamakan “Spiritual Blue Diamonds”.

Tidak lupa Denny JA mengajak kita: “Mulailah. Terbanglah. Hijrah! Perjalanan panjang dilakukan dengan setapak pertama. Semua kita layak hidup bermakna, apapun agama, asal negara, identitas sosial kita.”

Lakukan kebajikan, hidupkan Power of Giving, tumbuhkan The Oneness, rasa satu dengan manusia lain, lingkungan sekitar, dan misteri alam semesta. Inilah tiga berlian biru, Spiritual Blue Diamonds, pilihan kesukaan Denny, yang diajarkan oleh semua agama besar.

Mari menyelami dan menikmati kedalaman, keindahan, dan misteri hidup, ajak Denny JA lagi. Seraya ia mengutip pesan indah dan bermakna dari penyair yang hidup 800 tahun silam, Jalaluddin Rumi: “Hidupkanlah cinta dalam segala tindakan. Maka samudera maha dalam mengalir ke dalam sukmamu: samudera kebahagiaan, samudera ekstasi.”
Cinta memang dahsyat. Begitulah. ***

Jakarta, Agustus 2020.

Aspar Paturusi adalah penyair, novelis, aktor, dan dramawan Sulawesi Selataxn.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here