S.Sinansari Ecip; Guru Jurnalistik yang Bersahaja

0
83

Oleh: Fiam Mustamin

DARI sebuah buku kecil penulis angkat dan membersihkannya dari rendaman banjir lumpur. Buku itu adalah : Hadji Kalla Saudagar Dari Mesjid ditulis oleh S. Sinansai Ecip.

Buku ini format ukurannya 13 cm lebar dan 20 cm tinggi jumlah halamannya memang kecil, 118 halaman yang ditulis kurang lebih sebulan tahun 2002 untuk persembahan ulang tahun NV Hadji Kalla ke 50.

Buku ini sudah tersimpan lama yang dibaca sepintas lalu yang menjadi salah satu buku referensi dalam menyokong dan mempromosikan HM Jusuf Kalla (Daeng Ucu) Capres Konvensi Partai Golkar dan Cawapres Pilpres pertama berpasangan dengan Capres SBY tahun 2004.

Penulis menangkap makna buku itu dari prolog pengantar penulisnya sebagai berikut;

Langka tetapi Nyata: Kelangkaan bukan berarti ketiadaan. Hadji Kalla dan Hadjah Athirah ada.

Keduanya dilahirkan untuk menjadi satu, seperti cangkir dan tutupnya. Karena menyatu mereka tidak sulit dalam bekerja bahu membahu.

Sosok sederhana yang kaya ini berangkat berbekal keberagamaan kuat. Segala gerak hidupnya, termasuk dalam berniaga, tidak hanya berpedoman pada agama tetapi juga berukur pada bulir bulirnya dan seterusnya.

ĎARI riwayat yang diuraikan dari kedua orangtua dan saudagar tulen itu; Hadji Kalla dan Hadjah Athirah menjadi tauladan yang berbasis pada agama dan budaya yang dipegang teguh.

Bukunya mesti lebih tebal dengan perjalanan panjang kehidupan kedua orang tua itu yang melahirkan tokoh bangsa yang dua kali terpilih menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia.

Guru Jurnalistik

DARI penampilan sehari harinya Sinansari yang penulis sapa Kak Ecip tak menampakkan diri bahwa beliau dalam hidupnya banyak berbagi pengetahuan ilmu jurnalistik kepada watawan muda di Makassar dan murid mahasiswanya di kampus Universitas Hasanuddin.

Sebagian wartawan dan penulis di tahun 1980 an pernah merasakan sentuhan ilmu jurnalistik dari Ecip, sebut misalnya Chadir Amin Daud, Syukriansjah Latif Pemimpin Redaksi surat kabar harian Fajar, Abun Sanda, wartawan Kompas.

Penulis sudah mengenal Kak Ecip sejak di Makassar, ke Jakarta di tahun 1980 an untuk menyelesaikan kuliah doktornya sembari menjadi Pemred harian Neraca.

Pemilik dan Pemimpin Umum koran ekonomi ini adalah bang Zulharmas yang penulis juga kenal dekat.

Penulis rutin tiap bulan mendatangi kerumah kost dan ke kantor koran Neraca di Kramat mengantarkan naskah artikel yang masih diketik manual.

Terkadang pula kak Ecip yang mengunjungi ke rumah kontrakan di Tebet.

Sepertinya beliau, paham bahwa honor tulisan-tulisan yang termuat itu dihimpun untuk membayar sewa kontrakan rumah dan beaya sekolah adik-adik.

Sayang tulisan tulisan di kolom opini Neraca itu tidak dokumentasi.

Sampai hari ini pun jarang yang tahu bahwa guru jurnalistik yang bersahaja dan sederhana ini adalah penyandang gelar doktor bidang komunikasi dan mengetahui banyak pelaku usaha Saudagar Bugis Makassar segenerasi Hadji Kalla antara lain : Beddu Solo, Sjamsuddin Daeng Mangawing, La Tanrang, La Tunrung, Muhammadong, H. Pattiwiri, Mampakaya Daeng Sijalling dan M. Sanusi.

Pada waktu itu dikenal pula Saudagar ternama di Jakarta ; Sidi Tado (tekstil dan lab) AM Dasaad (tekstil dan perdagangan) TD Perdede (tekstil) Achmad Bakrie (perdagangan dan industri pipa) dan Rahman Tamin (tekstil).

Dengan pengetahuannya itu bisa menjadi narasumber Pertemuan Saudagar Bugis Makassar yang digelar setiap usai Lebaran puasa di Makassar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here