Pung Sondo, Apa Mengenalnya Tanya Andi Wanua Tangke

0
510

Kolom Fiam Mustamin

TIDAK sekadar menjawabnya, tanya itu membuat keharuan sepanjang malam untuk menguraikan ingatan kenangan sekitar 60-an tahun silam.

Awalnya, saya yang bertanya ke Andi Wanua, apa mengenal Andi Wahidah Sulaiman, cucu turunan generasi ke-24 Puatta Manurengnge Latemmamala, Datu Pertama Soppeng.

- Advertisement -

Ibunya Andi Wahidah, Hj. Andi Temmusia binti Andi Panna Kepala Pesse bin La Oddo Petta Pa Bicara Soppeng, sepupu duakali Datu Galibe asal UkeE Pesse.

Saya memerlukan waktu untuk menenangkan hati dalam menguraikan jawaban Andi Wanua Tangke (AWT).

Apakah AWT sengaja mengajukan pertanyaan itu supaya saya bercerita. Apa sudah tahu sebelumnya tentang adanya hubungan keluarga, saya dengan Pung Sondo dan isterinya Petta Hali, wallahuallam.

Saya kala bocah dan besar di rumah kayu/katabang Pung Sondo (kantor BRI saat ini), bertetangga dengan sekerabat Pung Salemma dan Petta Tebu.

Di rumah terbilang besar itu, cukup luas kamarnya, ada sumur tembok (bujung atau serek) di tengah halaman yang cukup dalam, merupakan tumpuan kebutuhan air tiga keluarga besar itu.

Di rumah itulah saya dibesarkan dan sepermainan dengan Andi Nusu, Abdi Base dan Andi Coki. Pung Moni dan Pung Ampa lebih dewasa dan saat itu Andi Bekti belum lahir.

Kami seringkali bermain di saluran air, namanya sepe-sepe di belakang rumah dengan membawa bekal makan bersama setelah mandi.

Sebelumnya saya berumah di lahan bukit Latoppo seberang sungai tak jauh dari kediaman Pung Sondo di Watan Tajuncu. Saya sering menyaksikan Pung Sondo bercelana pendek mengalunkan sarung sedang menyandang sejata berjalan bersama tentara seperti akan operasi di masa gerembolan saat itu.

Pung Sondo dalam ingatan saya, sosok yang disegani, rambutnya ikal dan gagah.

Tengah Malam dari Soppeng ke Tajuncu

Di rumah jabatan Bupati Andi Made Alie, usai ramah tamah jamuan untuk rombongan kru dan artis film Senja di Pantai Losari yang akan shooting di permandian Ompo, saya dilarikan ke Tajuncu oleh Pung Beddurahman, ajudan Bupati Soppeng.

FIlm ini diproduksi tahun 1976 dan saya bertindak sebagai Pimpinan Produksi mewakili poduser Latif Makka, kerabat dekat Bupati Made Alie.

Pung Beddurahman tak lain adalah saudara sesusuan saya. Mempertemukan saya dengan Pung Sodo dan Petta Hali sepupu duakali ayah dan ibu saya.

Sungguh mengharukan perjumpaan itu yang sekian lama tepisah sekitar 10 tahunan.

Saya di Jakarta bersekokah dan bekerja serabutan di perfilman dan kewartawanan untuk beaya sekolah 4 orang adik yang tinggal sama ibu di Kampong Baru Tajuncu.

DI tahun 1980 an saya masih menemui kedua orangtua yang baik hati itu di Tajuncu. Seterusnya hanya mendengar kabar bila orangtua ini hijrah sekeluarga ke Kendari. Di Jakarta saya sempat bertemu dengan Petta Tebu dan Pung Moni.

Perjumpaan Terakhir

SEPERTI tak kuasa meneruskan ungkapan ini dengan orangtua yang sudah tiada ini. Saya ke Kendari mendampingi Datu Lolo Kuneng Bau Massepe dari KKSS untuk menyematkan gelar Kepanutan Bangsawan kepada Gubernur Ali Masi.

Penyematan itu dilakukan di bukit rumah jabatan dihadiri keluarga besar dari paguyuban KKSS. Dokter Ulla Nuchrawaty selaku Sekjen KKSS memberi sambutan.

Bersama Pung Moni dan suaminya saya menemui Petta Hali yang sedang berbaring. Saya langsung merangkulnya dan tak berkata apa-apa.

Tatapan dan air mata itu yang mengadukan rasa rindu dan sayang dari anak dengan ibunya. Suaranya tiada berubah seperti yang kukenali sejak kanak-kanak dan semakin melarutkkan keharuan saya.

Saya membatin, semoga Allah masih ada umur dapat berjumpa lagi dengan orang tua ini. Di hari itu juga saya datang mensiarahi pusara Pung Sondo.

Saya termenung beberapa saat dan berdoa untuk almarhum dan semua kerabat yang bermakam di situ, alfatiha … aamiim.

Saya kembali ke AWT dan memberi apresiasi atas ikhtiar kerja kerasnya untuk melestarikan peradaban identitas jati diri dengan membangun rumah antik La tangke dan menulis dan menerbitkan sejumlah buku tanda pengingat generasi.

Andi Mustari Pide pendiri Sao Mario berpesan: aja lalo nasalaiko tana mbo … artinya, jangan kehilangan jati diri yang bisa berbentuk tanah atau bangunan rumah …

Saya maknai pesan itu telah diterjemahkan Andi Wanua.

Kita rindukan di usia tua berada di tanah kelahiran hingga ajal menjemput. Nisan itu menjadi monumen abadi pengingat bagi anak cucu generasi.

Legolego Ciliwung 12 Maret 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here