Perjuangan Warga KKSS di Eropa Melawan Gempuran Pandemi Virus Korona

0
573

Laporan Asbar Atma, Wakil Sekjen BPP KKSS dari Budapest, Hungaria

PINISI.co.id- Setelah Covid-19 menyerang China, negara yang paling banyak terdampak virus korona baru adalah negara–negara di kawasan Eropa, bahkan WHO menyebutkan sebagai epicenter virus covid 19. Secara global, terdapat 242 ribu kasus infeksi dan hampir 10 ribu kematian hingga 20 Maret 2020.

Di Eropa, sudah ribuan yang terinfeksi dalam waktu singkat dan menyebar ke hampir semua negara di benua ini. Italia merupakan negara yang paling merasakan dampak penyebaran virus ini setelah China. Jumlah yang terinfeksi di Italia berada di urutan kedua setelah China bahkan yang meninggal hingga saat ini merupakan yang terbanyak melampaui jumlah yang meninggal di China.

Warga KKSS (Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan) yang berdomisili di beberapa negara Eropa mempunyai cerita tersendiri menghadapi pandemi virus korona baru atau Covid-19. Saya berkesempatan menghubungi beberapa dari mereka melalui pesan Whatsapp. Umumnya mereka baik-baik saja dan berharap semoga situasi yang dihadapi sekarang ini segera berlalu.

Negara Italia hingga kini masih berjibaku melawan Covid-19. Pemerintah Italia telah menerapkan lockdown — menutup secara total pergerakan warganya ke dalam dan keluar Italia.

Evayanti, warga asal Sulsel yang sudah menetap di Kota Lombardy, Italia menyampaikan bahwa mereka hanya bisa berdiam diri di rumah, keluarganya dalam keadaan baik saja, hanya bisa keluar membeli makanan ke supermarket. Semua perkantoran, restoran dan pertokoan ditutup, bahkan aparat sangat ketat menjaga dan menginspeksi kawasan perumahan. Namun, masih saja ada orang yang nekat keluar rumah.  
Demikian pula dengan Ibu Indah, warga KKSS di Swiss. Sejak diterapkannya lockdown, dia bersama suami dan anak-anaknya menahan diri di rumah, home schooling dan home office, walaupun memang belum totally lockdown tapi demi menjaga kesehatan dan keselamatan diri, lebih memilih berdiam diri di rumah, dan hingga saat ini belum ada laporan warga KKSS yang terinfeksi virus Korona di Swiss. “Semoga saja tidak ada yang terpapar,” harap Ibu Indah. 

Cerita yang sama juga datang dari Budapest Hungaria, Husnah warga asal Soppeng yang sudah puluhan tahun tinggal di Budapest, bercerita bahwa walaupun sudah diterapkan lockdown yang melarang warga negara lain masuk ke negara itu, namun keseharian warganya masih beraktifitas secara terbatas, mal dan restoran masih buka sampai pukul 3 sore, hanya apotik dan supermarket yang buka sampai malam. Semua kampus dan sekolah sudah diliburkan. Husnah yang bersuamikan warga negara Hungaria bersama anaknya juga lebih memilih tinggal di rumah, terkadang jalan-jalan ke taman dekat rumah untuk mengatasi rasa bosan dan menghirup udara segar serta berolahraga bersama anaknya.

Hungaria tergolong cepat mengambil tindakan lockdown sebelum virus menyebar lebih luas. 

Sebaliknya, di Belanda hingga saat ini memang belum menerapkan lockdown, hanya saja pergerakan orang sudah dibatasi. Herlina, pengurus KKSS (Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan) yang paling aktif di Belanda bercerita bahwa sebagian besar tempat banyak yang tutup, ditambah kekhawatiran yang tinggi untuk terinfeksi, dia dan warga KKSS lainnya lebih memilih berada di rumah apabila tidak ada yang sangat mendesak untuk keluar rumah. 

Semuanya tentu berharap agar pandemi virus korona baru ini segera berakhir dan aktifitas keseharian berjalan normal kembali seperti biasa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here