Pemandangan Terindah di Lantai Delapan

0
437
- Advertisement -

Kolom Ruslan Ismail Mage

Entah kenapa butiran-butiran kristal menyeruak ingin membentuk anak sungai di pipiku yang sudah mulai keripuk di makan usia. Namun yang pasti pemandangan di depanku begitu indah, hatiku tiba-tiba bertasbih, jiwaku tahajud, pikiranku membisu, hingga seluruh panca indraku tafakur.

Selama satu abad lebih layar kehidupanku mengarungi lautan biru tak bertepi dipadu langit biru di atasnya tak berbatas, tidak jarang melihat pelangi indah yang konon menjadi jalan para Bidari turun mandi ke bumi. Namun keindahan pelangi sebagai lukisan semesta tidak mampu menandingi keindahan pemandangan yang kulihat dengan decak kagum. Pesonanya begitu syahdu membuatku teringat sang khalik.

Ya Allah ya Rabb sungguh indah pemandangan yang kulihat ini. Sungguh Mulia Engkau ya Rabb telah menyediakan taman-taman surgawi untuk hamba-hamba yang menjalani perintahMu. Di tengah dialog imajiner dengan batinku menyaksikan keindahan pemandangan di depanku, tiba-tiba aku teringat Salman Al-Farisi seorang pemuda miskin yang menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk menjaga dan merawat ibunya yang sudah sakit-sakitan.

- Advertisement -

Dalam merawat ibunya Salman Al-Farisi hanya sekali ia mengeluh, itu pun keluhannya disampaikan kepada Tuhannya, “Ya Allah ya Rabb, walau pun aku sudah bekerja keras siang dan malam baru cukup untuk tidak kelaparan esok harinya, lalu bagaimana mungkin aku bisa mewujudkan mimpi ibuku yang sedang lumpuh untuk mencium baitullah”.

Siang berganti malam, detik berganti menit terus berganti jam, Salman Al-Farisi terus menjalani kehidupan sambil berpikir bagaimana caranya bisa melukis senyum di wajah ibu dengan mewujudkan mimpinya. Salman Al-Farisi menyadari benar bahwa untuk membuat Tuhan tersenyum padanya maka dia harus melukis senyum di wajah ibunya.

Bakti ke ibunya yang tanpa batas, membuat Salman Al-Farisi menentukan sikap untuk menggendong ibunya yang lumpuh menuju tanah suci Mekkah. Bismillah, perjalanan yang munkin ratusan mil jauhnya dimulai. Salman Al-Farisi mulai menyulam waktu di tengah hamparan gurung pasir, teriknya panas matahari tidak membuat surut langkahnya, telapak kakinya yang memerah terkelupas menginjak pasir panas tidak memupus mimpi ibunya.

Waktu berlalu mengiringi langkah sang pemudah tangguh, dan Alhamdulillah Salman Alfarisi bisa sampai dengan selamat ke Masjidil Haram’ Mekah. Perjalanan yang paling membahagiakan bagi Salman Al-Farisi, karena disamping bisa mewujudkan mimpi ibunya mencium baitullah, ia juga bisa bertemu dengan Rasulullah. Mengetahui Salman Al-Farisi berjalan kaki menggendong ibunya dari kampung halamannya, Rasulullah meneteskan air mata. “Sungguh mulia engkau saudaraku, kata Rasulullah, namun kebaikan apa pun yang engkau lakukan belum sebanding dengan apa yang dilakukan ibumu”.

MasyaAllah, kataku membatin dan tiba-tiba mengingat kedua orang tua yang sudah bebaring di sisi Tuhannya. Mataku pun kembali basah mengenang saat menjaga ibu di rawat di Rumah Sakit hingga menghembuskan napas terakhirnya. Untuk menghibur diri, saya kembali menikmati pemandangan terindah di depanku. Beberapa anak seakan berlomba menggapai pintu surga. Dengan hati tulus, senyum ikhlas, terus menikmati rutinitasnya mengantar, menjaga, merawat ibunya atau bapaknya melakukan HD (Hemodialisis) cuci darah di lantai delapan Rumah Sakit Melia Cibubur.

Begitulah anak, cucu, isteri, suami dengan wajah familiar penuh semangat bersama para suster yang memiliki kekayaan hati bersatu padu merawat HD orang-orang yang disayangi. Dua kali seminggu bahkan ada tiga kali seminggu anak-anak pemburu surga tidak pernah jenuh dengan penuh kesabaran mengantar orang tua melakukan HD. Adakah pemandangan lebih indah di lantai delapan selain menyaksikan anak, cucu, isteri, suami para calon penghuni surga.

*****

Berbakti kepada orang tua telah diajarkan dan dicontohkan oleh umat islam terdahulu. Bahkan ketika seseorang berbakti kepada kedua orang tuanya, berarti telah berbakti pula kepada Allah dan Rasulnya. Selain Salman Al-Farisi, ada sahabat lain Rasulullah bernama Uwais Al-Qarni yang memberikan contoh bagaimana bakti anak kepada orang tuanya.

Uwais Al-Qarni seorang pemuda yang tidak dikenal, hidup miskin, dan memiliki penyakit kulit. Namun ia pemuda yang disebut oleh Rasulullah Saw sebagai pemuda yang terkenal di langit dan sangat dicintai oleh Allah Swt. Karena bakti yang tulus dan ikhlas kepada ibu, membuat nama Uwais Al-Qarni terkenal di langit, meski di bumi ia bukan siapa-siapa.

Saking terkenalnya Uwais Al-Qarni di langit membuat Rasulullah berseru kepada para sahabat, “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya. Dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi,” (HR. Ahmad). Untuk meyakinkan begitu pentingnya berbakti kepada orang tua dapat dilihat penjelaskan beberapa ayat dan hadits berikut.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Q.S. Al-Isra ayat 23).

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil”. (Q.S. Al Isra ayat 24).

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”. (Q.S. Lukman ayat 14).

“Ridho Allah SWT bergantung dari ridho kedua orang tua dan kemurkaan Allah SWT bergantung dari kemurkaan orang tua,” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban, Hakim).

Penulis : akademisi, inspirator dan penggerak, penulis buku-buku motivasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here