Pasca Mubes XI KKSS, Referensi 5 Tahunan, Literatur Lisan Tanpa Batasan

0
101

Catatan Syahrir

Sejak ditemukan dan dipopulerkan aksara (Lontara)  suku Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja, eksistensinya, telah membuka ruang pengakuan cendekiawan dunia. Posisi itu kemudian, melahirkan konstanta keilmuan, jika “Bangsa” Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja memiliki kemampuan untuk melakukan perubahan dan kemajuan. Sebagai alasan pembenaran,  karena tidak semua suku, etnis dan komunitas, di dunia,  memiliki aksara dan bahasa tulis tersendiri. Dan di level konsistensinya, ketika suku, etnis, dan komunitas mempunyai bahasa dan aksara tulis, maka kemampuan internasionalisasi, baik individu maupun secara organisasi, selalu melahirkan rekayasa ilmiah, dan berkompentitif dalam pencapaian “high knowledge.” Korelasi faktual membuktikan konsepsinya, terdapat pada kecerdasan suku Bugis dan Makassar, dari ratusan  abad silam, telah mampu membuat Perahu Pinisi, tanpa melalui sekolah formal. 

Selain itu, masih terlalu banyak kemampuan ilmiah  dimiliki Suku Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja, termasuk filsafat.  Logisnya, diantara bahasa dari sejumlah ungkapan dari  filosuf Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja, banyak tidak tercatat, hanya diungkap dari lisan ke lisan dan diturunankan, lalu kemudian “melegenda” hingga generasi kegenerasi.  Rangkaian kecerdasan tersebut, ternilai sebagai referensi lisan tanpa batasan.

Dihubungkan dengan Musayawarah Besar (Mubes) Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan ( KKSS) ke 11 telah  terlaksana Di Solo – Jawa Tengah, merupakan representasi toleransi besar bagi sejumlah masyarakat yang leluhurnya berasal dari pulau Sulawesi.  

Di arena Mubes tersebut  bayangan momentumnya, adalah  terlaksana konferensi besar “Bangsa  Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja,  atau The international conference  of Etnic Sulawesi Selatan,” kemudian,  pesertanya datang dari berbagai nusantara – Indonesia dan dunia. Mengingat, KKSS memiliki perwakilan organisasi di hampir seluruh dunia,  Eropa, Amerika, Australia dan semenanjung Asia juga Asia Tenggara. Tapi realitanya, Mubes KKSS agak “mengecil” dari prediksi sebelumnya. 

Di perhelatan Mubes KKSS di Solo, sedikit terjadi sistemik. Peserta dan anggota serta simpatisan KKSS, seakan  di “paksa”  menunggu berjam jam lamanya. Misalnya, peserta datang dari jam 9.00 pagi, hingga malam jam 20.00 wib, baru terealisasi untuk item akomodasi. Kisahnya,  hotel Lor In, tempat terlaksananya acara Mubes,  kamarnya penuh, dan  berjejal. Hingga sebagian peserta harus rela, “tidur berdesak,” kadang melebihi kapasitas ruang kamar hotel. Termasuk atribut dan perlengkapan bagi peserta Mubes, untuk mendapatkannya juga “harus” menunggu hingga esok harinya, setelah “check in.”

Mubes KKSS, atau layak disebut Konferensi internasional  “Bangsa  Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja”  diperagakan, dan diadakan serta dilaksanakan sekali dalam 5 tahun. Adalah “referensi” Mubes di Solo,  dimohonkan agar  tidak  terulang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here