Nasaruddin Umar: Titik Temu Islam dan Budaya Bugis

0
91

PINISI.co.id, Jakarta — Proses Islamisasi dalam kebudayaan dan tradisi orang Bugis adalah sejarah dan fakta. Artinya usaha mengislamkan ajaran, tradisi, dan kebudayaan orang Bugis adalah telah terjadi, rasional, dan tidak merusak Islam.

Hal itu dikatakan Prof. Dr. Nasaruddin Umar dalam bedah buku Islamisasi Bugis: Kajian Sastra Atas La Galigo Versi Bottinna I La Déwata sibawa I Wé Attaweq (BDA); karya Andi Muhammad Akhmar, di Auditorium Perpustakaan Nasional, Jakarta, Sabtu, 28 September 2019.

Menurut Imam Besar Masjid Istiqlal ini, para pelaut ulung dahulu atau pembuat kapal pinisi di Bulukumba, misalnya, ketika akan memulai berlayar atau membuat kapal, mereka terlebih dahulu mengadakan upacara ritual, menghormati dan mengajak laut sebagai sahabat agar mereka selamat berlayar dan sukses membuat perahu. Itu artinya bersahabat dengan alam, ciptaan Tuhan.

“Itu bukan musyrik atau bid’ah. Beberapa tradisi masyarakat di Sulawesi Selatan seperti tarekat Nadzabandiyah dan Maulidan di Cikoang adalah tradisi yang mengawinkan dua budaya, Islam dan budaya lokal. Agama Islam adalah agama rasional dan bisa beradaptasi dengan beragam budaya, termasuk budaya Bugis,” paparnya.

Dikatakan, konsep Dewata Sewwae (Tuhan yang Esa) adalah konsep yang mirip ajaran tauhid dalam Islam. Budaya Bugis termasuk budaya yang mudah ditemukan titik temunya dengan ajaran Islam. Makanya, tidak sulit para penyiar agama Islam awal mengislamkan para raja dan penduduk di Sulawesi Selatan.

Demikian pula, lanjut Nasaruddin, arsitektur dalam rumah Bugis itu perlu dikaji dan disajikan versi anak milenial. Jika tidak, khazanah dan budaya Bugis bisa hilang. Dalam sejarah diaspora (penjelajahan) orang Bugis ke seluruh penjuru dunia telah melahirkan keturunan orang Bugis dimana-mana, di hampir seluruh provinsi se-Nusantara dan di beberapa negara, Asean misalnya ada orang atau keturunan Bugis, di Filiphina atau Malaysia, kita sering mendengar atau membaca pengakuan pejabat tingginya, mengaku keturunan orang Bugis.

Lebih lanjut, Nasaruddin mengungkapkan, wacana pemindahan Ibukota Negara ke Kalimantan Timur patut mendapat perhatian dan peran dari kalangan akademisi dan budayawan asal Sulawesi Selatan. Pulau Kalimantan Timur itu berdekatan dengan Sulawesi Selatan. Budaya baru di Ibukota Negara yang baru adalah warna keindonesiaan. Budaya Sulawesi Selatan sebaiknya mengambil peran dominan untuk menghadirkan budaya baru untuk Indonesia yang lebih maju dan lebih baik. Budaya lokal sangat besar peranannya pada pembangunan di Ibukota Negara yang baru. Selama Islam solid, maka keutuhan dan keamanan NKRI tetap terjaga.

Pembicara lain, Nirwan Ahmad Arsuka, mengemukakan Ibukota Negara akan pindah ke Kalimantan itu sesuatu yang mungkin, termasuk pindah ke Botting Lagie’, seperti nama dalam epos La Galigo. La Galigo adalah adalah khazanah yang kaya dan menjadikan orang bersaudara dari berbagai latar belakang asal dan suku. Pengaruh La Galigo selain di Sulawesi Selatan juga menyeberang hingga Gorontalo misalnya. La Galigo adalah karya naskah sastra yang begitu kaya dan terdiri ribuan halaman.

“Ini perlu diformat ulang dan disebarkan ke pembaca pemula oleh anak-anak muda kreatif dalam bentuk “lagaligo-pedia.” Melalui Lagaligo-pedia, sejarah dan tokoh-tokoh dalam La Galigo dapat diperkenalkan secara berseri dan mudah dieakses oleh anak jaman now,” kunci Nirwan. (M. Saleh Mude)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here