Musik Keroncong Tugu Cafrinho Gen Portugis Malaka

0
912
- Advertisement -

Kolom Fiam Mustamin

KERONCONG Tugu begitu dikenal dan akrab di Betawi, sama dengan musik Tanjidor dan Gambang Kromong.

Dari manakah muasal musik Keroncong Tugu itu?

Jawaban ini saya dapatkan dari bincang- bincang Ngobrol Kopi Malam yang diselenggarakan oleh Komunitas Sunda Kelapa Heritage, Jumat malam 29 Oktober 2021.

Sebuah grup pemerhati budaya Nusantara yang secara rutin setiap minggu menggelar forum dialog zoom meeting yang berpangkalan di Museum Bahari Sunda Kelapa Jakarta Utara.

- Advertisement -

Saya perlu berterima kasih kepada  Daeng Mansur Amin, penanggung jawab dialog ini yang mengundang untuk ikut bergabung.

Demikian pula kepada Jeng Sekar Chamdi yang memandu dialog ini  dengan penuh sentuhan keakraban  persahabatan.

Dialog ini diawali dengan prosesi adab menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, seperti halnya acara formal dengan semangat idealisme kebangsaan.

Dari penuturan narasumber Guide Quiko disapa Bang Edo, bahwa musik keroncong ini diciptakan oleh Komunitas dari turunan/gen Portugis yang ada di daerah kampung Tugu Batavia untuk membuat alat musik yang menyerupai gitar untuk hiburan bagi kalangan mereka.

Kemudian itulah yang kita kenal dengan Musik Keroncong Tugu, kata Edo, generasi ke empat penerus musik Keroncong Tugu ini.

Komunitas ini ini sudah berdiam di Batavia sejak kekalahan Portugis dari  Belanda sekitar tahun 1641 Masehi.

Sejak tahun 1511 bangsa Portugis penjelajah dunia menaklukkan kerajaan Malaka dan mendirikan Benteng yang diberi nama Fortalanze De Malaca.

Disebutkan oleh narasumber utama Joseph Sta Maria sebagsi Ketua APC/ Asian Portuquese Community, bahwa lebih 100 tahun Portugis menjadi imperium perdagangan rempah rempah di Nusantara Bagia Timur khususnya.

Polecy pemerintahan penaklukan  Portugis ini, bukan hanya penguasaan perdagangan tapi juga membolehkan   adanya asimilasi perkawinan campuran  dengan penduduk tempatan.

Karena itu dikenal adanya jejak genetis Portugis di beberapa daerah seperti di Flores Nusa Tenggara, Ambon Maluku,  Manado Sulut, Makassar Sulsel, Konawe Sutra, Kidung Kaltara, Aceh, Garut Jabar dan lain lain.

Penaklukan itu juga mewariskan integrasi budaya debgan adanya kawin kawin  itu bagian dari khasanah budaya bangsa.

Komunitas Portugis Aset Bangsa

MEREKA-mereka itu adalah putera bangsa yang berdarah/berketurunan Portugis.

Sama kedudukannya dengan paguyuban etnis lain seperti misalnya paguyuban Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) yang berada di seluruh nusantara/NKRI dan manca negara.

Mereka adalah warga yang berdomisili tetap atau merantau untuk bersama  membangun dan mensejahterahkan daerah tempatan domisilinya.

Mereka terikat secara emosional dengan budaya leluhurnya.

Jejak genetis perkawinan campuran asimilasi ini mewariskan peradabannya  dengan gen kecerdasan intelektual, seni budaya dan postur rupa wanita khususnya.

Di masa-masa sekitar abad ke 17 ada raja dan penguasa saat itu yang beristerikan dengan gen Potugis.

Dan untuk ke depannya diperlukan upaya pelestarian peradaban komunitas itu khususnya untuk regenerasi pelaku musik keroncong di seluruh komunitas yang ada di daerah seperti yang  disebutkan di atas.

Diperlukan adanya interaksi antar komunitas paguyuban daerah melalui forum dialog dan pagelaran budaya di setiap daerah misalnya pada momen Ulang Tahun Kota dan perayaan  Kemerdekaan Bangsa 17 Agustus 1945.

Beranda Inspirasi Ciliwung 30 Oktober 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here