Menyongsong Banjir dan Lumpur Penuh Keprihatinan

0
128

Oleh : Fiam Mustamin

Dua hal yang dihadapi rutinitas yang bermukim dekat dengan area yang dilalui Kali Ciliwung.

Banjir itu sendiri adalah sesuatu gejala alam yang sulit diprediksi bisa terjadi di mana-mana ketika hujan besar dengan volume air yang cukup besar yang meluap dari got saluran air. Lalu menggenangi perumahan sekitarnya. 

Air banjir ini tidak menyertakan tanah lumpur. Banjir dari luapan kali yang datang menggenangi areal perumahan  terkadang sampai ke plavon rumah.

Banjir besar semacam inilah yang membawa lumpur yang merusak apa saja yang digenanginya.

- Advertisement -

Tak terbilang risiko itu untuk prabot  rumah, buku-buku dan dokumen akan jadi puing sampah. Bahkan pintu dan jendela rumah perlu perbaikan.

Dampak Mental dan Kerugian Materi

Yang terdampak banjir tak bisa dianggap sepele. Bagi yang tidak pernah mengalaminya seperti yang penulis uraikan ini. 

Karena banjir orang bisa jadi jatuh sakit, meninggal dan miskin tak berdaya.

Penulis yang bermukim dekat dengan bantaran sungai Ciluwung, Condet, Jakarta Timur, menghitung limbah sendiri yang tak kurang dari satu ton setiap musim banjir besar.

Barang-barang itu dihasilkan dan dikumpulkan bertahap tahunan.

Pengalaman penulis ini sama dengan sekian banyak korban yang terdampak banjar.  Berapa besar kerugian materi yang dideritanya dan tidak bisa tergantikan dengan uang seperti buku-buku dan dokumen yang bernilai sejarah itu.

Flash Back Ke yang Baik

Fenomena alam tak mungkin  terhindarkan. Manusia adalah sebaik-baiknya makhluk ciptaan dengan akalnya.

Pernah ada pejabat gubernur Jakarta yang menempatkan banjir dan kemacetan lalu lintas menjadi fokus perhatiannya.  Banjir tetap kita songsong dengan antisipasinya.

Separti apa yang dilaporkan mengenai curah hujan di hulu Bogor dan status penyiagaan penjagaan bendungan untuk pengaturan air  di bendungan Katulalampa.

Banjir yang sampai di Jakarta ketinggiannya sebatas betis saja dan tidak membuat panik untuk mengungsikan barang-barang.

Gubernur itu bernama Basuki Cahaya Purnama alias Ahok.

Kesaksiaan Pebby Magdakena yang putranya direkrut menjadi pegawai untuk masalah banjir perlu disekolahkan empat bulan. Setiap saat mereka mengontrol kesiagaan dan kesiapan pompa-pompa air dan saluran  pembuangan air.

Kepada Gubernur  Anies Baswedan, yang penulis yakini tekad dan itikad untuk kemaslahatan warganya sebaiknya mengutus aparatnya untuk datang menemui Ahok bertanya sekitar rencana besar yang belum terealisasi, kita ber fastabiqul  khairat untuk kemaslahatan.

Penulis adalah budayawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here