Menghirup Pagi di Lolai, Toraja Utara, Surga Terakhir di Atas Awan

0
1061

PINISI.co,id- Sekiranya pandemi sudah lewat, terpikir untuk kita segera melepas penat untuk jalan-jalan setelah sekian lama terpenjara dalam rumah.

Pilihan yang paling mengasyikkan tentu ke Tana Toraja, khususnya ke Desa Lolai. Yakin, banyak di antara kita belum pernah ke Toraja. Mungkin, karena daerah ini bagian dari diri kita, sehingga ia terabaikan, padahal bagi orang luar, Toraja adalah kepingan surga yang masih tersisa di bumi.   

Kalau tak percaya pergilah ke sana.

Tana Toraja memang masih menjadi salah satu tempat yang wajib didatangi oleh turis dari dalam dan luar negeri. Namun, belakangan, muncul tempat wisata baru di area tersebut.

Pemandangan luar biasa yang menyejukkan mata bisa melihat matahari terbit di Desa Lolai, Batu Tumbung ini berada di kaki Gunung Sesean. Awan dan desa berada di satu garis lurus. Perjalanan untuk sampai ke Lolai bisa ditempuh 30 menit hingga sejam atau sekitar 20 kilometer dari Rantepao, ibukota Toraja Utara.

Pengunjung bisa mencoba bermalam di beberapa penginapan yang berbentuk rumah adat Toraja yaitu Tongkonan, sambil menikmati kopi Toraja – salah satu kopi premium dunia. Dengan awan yang berada di kaki Anda,  lambat laun sinar matahari sedikit menghangatkan udara yang dingin di sini.

Waktu terbaik ke kampung Lolai adalah pagi hari, akan lebih baik lagi jika Anda bermalam terlebih dulu sehingga bisa melihat panorama matahari terbit yang tidak Anda dapatkan di daerah lain. Kampung Lolai berada di ketinggian 1300 meter dari permukaan laut.

Tak ayal, para pengunjung juga dimanjakan pemandangan alam spektakuler dan matahari terbit di pagi hari.

Rumah Tongkonan milik warga kampung itu juga bisa disewa sebagai homestay wisatawan, sesuai kesepakatan dengan pemilik rumah. Belum ada tarif khusus yang diatur karena Kampung Lolai belum dikelola oleh pemerintah setempat.

Namun, pengunjung juga bisa mendirikan tenda di puncak Lolai dan bermalam di tempat jika tak ingin melewatkan suasana siang dan malam. Untuk wisatawan yang ingin menggunakan fasilitas elektronik, jangan khawatir. Meski berada di pelosok, aliran listrik sudah masuk di Lolai.

Umumnya para pecinta matahari terbit akan rela menunggu sejak pukul lima pagi menanti panorama pertemuan luar biasa antara matahari, awan, persawahan dan lereng bukit. Menyaksikan kota Rantepao dari kejauhan dan menikmati kehidupan warga yang bersahaja. Kala matahari meninggi, Anda bisa melakukan tracking, jalan-jalan, menyusuri kampung melewati persawahan sambil santai bercengkerama dengan kearifan lokal di sepanjang jalan.

Bentang persawahan hijau disana sangat menyejukkan mata. Terasa segar melihat lengkung sawah seakan-akan tidak ada habisnya dari atas ke bawah. Belum lagi latar belakang bukit-bukit yang kokoh dan juga putih kabut semakin memberikan efek magis untuk semakin mensyukuri ciptaan Tuhan ini.

Awal Dikenal

Kampung Lolai ditemukan secara kebetulan, tatkala dilakukan pemugaran rumah tongkonan. Sebenarnya, tempat ini sudah ada sejak lama. Awalnya, saat pemugaran banyak fotografer yang datang dan mereka mengunggah hasil foto keindahan Lolai ke media sosial.

Dari sana, wisata negeri di atas awan Lolai mulai dikenal publik. Bahkan, tim paralayang Provinsi Sulawesi Tengah menjadikan Lolai sebagai lokasi olahraga paralayang.

Sejak ramai diberitakan mengenai keindahannya, rata-rata terdapat 2.000 wisatawan mancanegara dan domestik yang berkunjung ke sana, sebelum pandemi Covid 19 menyergap semesta sampai hari ini. (Lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here