Menemukan Peta Surga di Ujung Pena

0
234


Kolom Ruslan Ismail Mage

Buku ini telah menjawab segala kegundahan hatiku selama ini, ketidakmengertianku tentang arti kehidupan membuat tidak jarang selalu menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi padaku. Setelah sekian lama aku mencari solusi dan berbagi cerita kepada orang lain, tetap tidak kutemukan jawaban yang memuaskan hatiku. Namun setelah membaca buku “Ayat-Ayat Api (Kutemukan Cinta dalam Sedekahku)” karya bung Ruslan Ismail Mage, hatiku bergetar dan meneteskan air mata. Jawaban permasalahanku telah kutemukan, aku tersentak dan tersadar ternyata aku sangat berdosa kepada Tuhan yang telah menganggapnya tidak adil.

Hilang biarlah hilang, pergi biarlah pergi, anggaplah itu sedekah, ikhlas dan ikhlaskan semuanya karena pasti Tuhan akan menggantinya lebih dari itu. Buku ini telah memberiku kekuatan untuk bangkit dan menerima segala kenyataan dengan ikhlas. Cukuplah sudah air mata ini terbuang sia-sia karena ternyata ini bukanlah kesensaraan tapi kenikmatan. Tidak sepantasnya aku mendustakan nikmat Tuhan atas apa yang telah kuperoleh saat ini. Mungkin banyak orang mengatakan buku ini memberikan inspirasi, tapi bagiku tidak hanya itu karena buku ini telah memberikan kehidupan lagi.

Dua alinea di atas adalah testimoni pembaca buku Ayat-Ayat Api dari ujung pulau Sumatera, yang membuat hatiku sebagai penulis buku bergetar. Rasa syukur sebagai penulis lagi-lagi membuatku membatin berterimakasih kepada Tuhan, ketika habis pengajian bulanan di Mushola dekat rumah, seorang jamaah menjabat tangan sambil berterimakasih mengatakan “luar biasa, tulisan bapak membuat mataku basah membacanya di kantor”. Lebih luar biasanya lagi karena beberapa teman kantor yang membacanya langsung tersadar mengatakan “mulai bulan ini dan seterusnya saya akan menyisihkan gaji untuk ibuku di kampung”. Masyaallah tabarakallah, kataku membatin mengucap syukur karena gara-gara tulisanku banyak orang terinspirasi melakukan kebaikan dalam hidupnya.

Diriwayatkan, Rasulullah SAW berkata “umatku yang paling pertama masuk surga adalah Abu Bakar Ash-Shidiq”. Apa kelebihan yang dimiliki Abu Bakar, sampai Rasulullah SAW mengatakan “kalau seluruh iman orang Madina ditimbang, masih lebih berat iman Abu Bakar seorang diri”. Padahal disitu ada Umar bin Khattâb Radhiyallahu anhu, ada Utsmân bin Affân Radhiyallahu anhu, ada Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu anhu, dan ada beberapa sahabat lainnya.

Kelebihan Abu Bakar dibanding sahabat lainnya adalah Abu Bakar “penggerak utama perobahan”. Karena lisannya Umar, Usman, Ali, dan sahabat lainnya masuk Islam dan memperjuangkan Islam sampai akhir hayatnya. Karena itu dari sejak jaman nabi sampai akhir saman, siapa pun yang bersujud memohon ridha Tuhannya, amalnya akan mengalir juga ke Abu Bakar. Inilah yang disebut amalan abadi yang mengalir terus menerus ke penggerak utama perobahan. Begitu dahsyat amalnya seorang penggerak perubahan.

Berkaca dari hikayat Abu Bakar sebagai penghuni utama surga karena ia “penggerak utama perobahan”, maka sesungguhnya “penulis” juga adalah penggerak utama perobahan. Peradaban dibangun di muka bumi karena jasa penulis. Ilmu pengetahuan dan agama sampai ke tangan kita karena jasa penulis. Seorang penulis buku yang karyanya dibaca sampai ribuan orang, dan karena tulisan-tulisannya mampu menginspirasi pembacanya melakukan kebaikan dalam hidupnya. Kalau ada 1000 pembaca bukunya terinspirasi melakukan kebaikan, amal 1000 orang itu akan mengalir juga sampai penulis bukunya.

Artinya seorang penulis memiliki “amal abadi” yang terus mengalir dari pembaca bukunya. Sebutlah ada keluarga yang terdiri dari ayah dan ibu serta lima orang anaknya “rajin bersedekah” karena membaca buku, lalu buku itu dipinjamkan kepada sahabatnya, begitu seterusnya buku itu digilir dibaca beberapa sahabat lainnya. Semuanya tergerak hatinya untuk berbagi rejeki karena terinspirasi dari buku itu. Sesungguhnya amal semua pembaca buku itu terus mengalir juga sampai penulisnya. Ini yang saya sebut penulis memiliki amal abadi mengikuti pola MLM tanpa henti yang kemudian menuntun jalannya menuju taman-taman surgawi. Inilah yang dimaksud judul tulisan ini, “menemukan peta surga di ujung pena”.

Penulis : Akademisi dan Inspirator Kehidupan, Founder Sipil Institute Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here