Memuliakan Padi (Sangiang Serri) untuk Ketahanan Pangan

0
302

Kolom Fiam Mustamin

Ia na ritu riaseng Sangiang Serri Anaqmu ritu mancaji ase” 

Artinya, itulah (Paduka) anakda disebut Sangiang Serri yang menjelma menjadi padi. 

Itulah jawaban Patotoe (Penentu Nasib) di istana langit Sao Kutta Rapeppage kepada putranya Batara Guru La Toge Singkiru Wira Palinge dan istrinya We Saung Riuq melaporkan putrinya We Odang Riuq yang meninggal usia tujuh hari kelahirannya. 

Kemudian tiga hari dari kematian putrinya itu Batara Guru mendatangi makam anaknya di tengah hutan lebat dan gunung tinggi yang dijumpainya di sekitar makam itu tumbuh pohon tanaman beraneka warna, kuning, hitam, putih, merah dan biru sebagaimana diceritakan dalam Sureq Galigo, sastra klasik prasejarah jaman Hindu (Prof. Dr. Fakhruddin Ambo Enre, Budidaya Padi, Jejak Warisan Sastra Dunia. 2003).

Cerita tentang tanaman padi/ase/pare begitu membekas dalam ingatan dari masa kecil yang oleh orangtua menyebutnya dengan nama kemuliaan “Sange Seri” yang dipercayai sebagai Dewi Padi.

Orang Bugis di kampung saya di Soppeng begitu meyakini bahwa tanaman padi ini memiliki kemuliaan sebagai tanaman kehidupan yang diturunkan / menurun untuk menjadi makanan / nutrisi bagi manusia di Bumi / Dunia (Ale Kawa). 

Disebut dalam Sureq Galigo bahwa alam semesta itu terdiri dari Dunia Atas (Boting Langiq) Dunia Tengah yaitu Bumi / Lino (Ale Kawah) dan Dunia Bawah Laut (Peretiwi / Buriq Liuq). 

Dari ketiga alam itu kemudian diciptakan manusia yang hidupnya di alam dunia tengah (Lino) sebagai titisan dari keturunan dewa. 

Semua penciptaan itu atas kehendak dari Dewata Seuwae (Allah Yang Maha Esa).

Bersamaan dengan itu, turunnya Tomanurung Dewa La Temmamala yang disepakati oleh para pemangku Wanua/Matoa sebagai Pemimpin/Datu pertama di Soppeng dengan ikatan ikrar pemufakatan dimana raja disebut sebagai pohon kayu dan rakyat sebagai daun kayu. Bila raja berlaku bijak untuk kaum akan dipanuti/diikuti seluruh kebijaksanaannya dan bila raja melanggar dari adat pemufakatan raja ditinggalkan. 

Begitulah sistem Demokrasi Pemerintahan pada umumnya di tanah Bugis (Adenami Napo Puang) hanya adat yang dipertuan. 

Selain padi, disebut pula dalam Sureq Galigo ada tanaman lain yang disebut Lame (ubi), Aladi (Keladi), Utti (Pisang), Teqbu (tebu), Wetteng (jewarut) dan Bata (Sorgum). 

Maddoja Bine (menjaga benih) 

Acara ritual ini bagi masyarakat Bugis dijadikan sebagai suatu perhelatan adat/adab penghormatan kepada Dewata Seuwae (Tuhan Yang Maha Esa) yang telah menurunkan tanaman padi menjadi makanan utama manusia. Prosesi Maddoja Bine ini dilakukan di malam hari dengan ritual pemukulan gendang, tari-tarian dan bunyi-bunyian yang dilakukan oleh kaum Bissu, pemandu upacara adat. 

Diteruskan dengan pembacaan Sureq Galigo episode: Sangean Seri yang prosesinya berlangsung semalam sampai fajar/pagi. Ada beberapa rangkaian upacara yang dilakukan oleh orangtua dulu yang dimulai dari Tudang Paddiuma/Tudang Sipulung warga untuk memusyawarahkan kapan waktu dimulai bertanam/turun ke sawah dengan berpedoman kepada Lontra Pappananrang/petunjuk hari dan bulan baik. 

Di acara itu juga dibicarakan mengenai kesiapan perhelatan (Parewa Tedong) kerbau, rakkala, babba, dan salaga. Tahap berikutnya adalah Mallukka Lappo/mengambil benih padi dari lumbung lalu diolah/dibuat terurai dari ikatannya dengan menggunakan gesekan kaki (Maddese) sampai padi tersebut terurai menjadi gabah. Setelah itu gabah dimasukkan ke dalam sebuah tempat namanya balesse untuk direndam kemudian diangkat dan disandarkan di tiang utama rumah (Posi Bola). 

Bersamaan dengan itu dilakukan prosesi adat (Maddoja Bine) dan dibacakan Sureq Galigo antara lain: Pauh Paunna La Galigo Dado Pallopi Lopie, Riulona Batara Guru, Galigona Meompalo Karella (Kucing berkulit belang tiga warna) yang dipercayai sebagai pengawal /penjaga dewi padi Sangiang Seri. 

Setelah itu di pagi hari benih diusung dan dipayungi dibawa kesawah untuk ditaburkan/ disemai disebut Mangampo Bine. 

Beberapa hari kemudian dilakukan pencabutan benih (Masisi Bine) dan seterusnya ditanam (Mataneng) disawah yang sudah disiapkan.

Dalam masa tiga bulan tiba saatnya panen (Maringgala) yang mana sebelum itu ketika padi sudah berbuah diadakan Mappasiri yaitu memercikkan air ke padi untuk menghindari serangan hama dan binatang perusak lainnya. Dikenal pula prosesi pelepasan secara simbolik replika hewan : Bojo (Kerang Sawah), Lojo (Lintah) dan Dongi (Burung Pipit) dilepaskan ke alam bebas. 

Dalam hal panen ini terkait tiga komponen yang berperan yaitu Paringgala (Yang Menuai), Pabbesse (Pengikat Padi Yang Sudah Dipanen) dan Palempa (Pengantar Padi ke rumah/Lumbung).

Di musim panen itu juga diadakan pengeringan lubang (Kalebbong) yang menyimpan ikan untuk jadi lauk di sawah atau dibawa pulang ke rumah. 

Begitulah tetuah kita tempo dulu melakukan cocok tanam yang begitu memperhatikan kualitas tanaman, memilah peruntukan konsumsi dan bibit. Hasil panen dibawa pulang dan disimpan ditempat khusus di bagian atas rumah (Bubungan/Rakkeang) ataupun disimpan di lumbung. 

Di akhir masa panen diadakan upacara kesyukuran/kegembiraan (Mappadendang) dengan beberapa orang yang menumbuk tempat pengolah padi (Palungeng) dengan pukulan/tumbukan yang berirama disertai dengan joget (Sere) oleh kaum lelaki. Perempuan tetap ditempat dengan pakaian baju bodo/baju tokko.

Di akhir panen masyarakat biasanya ada yang melakukan hajatan perkawinan, sunatan, naik rumah baru dan lain lain.

Ketahanan Pangan

Gambaran umum bahwa Ketahanan Pangan itu adalah ketersediaan pangan bagi kebutuhan masyarakat secara berkesinambungan. Dengan cara bagaimana mencapai itu? Para pakar pertanian sudah memetakan secara terukur teknologi mutakhir mulai dari sistem pertanian varitas tanaman dan pengolahannya sampai untuk dikonsumsi masyarakat. 

Penyebaran Dewi Padi

Sebagai gambaran dalam mitologi Sureq Galigo disebutkan bahwa Dewi Padi (Sangiang Seri) pada suatu masa ia bersedih melihat pengawalnya yang menjelma menjadi Mempallo Karella yang diperlakukan semena-mena dan disiksa karna mencuri ikan di rumah tuannya. Sangiang Seri beserta para pengikutnya dari padi-padian dan Mempallo Karella bersama-sama mendatangi beberapa daerah untuk mencari budi pekerti yang luhur (Pangampe Madeceng).

Disebutkan bahwa daerah-daerah yang dikunjungi itu mendapat sambutan baik antara lain : Langkemme, Lakessiq, Mangkutana, Labosong, Bulu Dua, Watu Watu dan Lisu. Dari situ perjalanan diteruskan ke : Mattabulo, Enrekan, Lamuru, Maiwa, Tempe, Tampangeng, Wage, Cenrana, Teteaji, Tancung dan Beru. Daerah-daerah yang disebutkan itu berada di wilayah Soppeng dan Barru (Soppeng Riaja). Tanaman padi di daerah tersebut tumbuh subur dan berkembang biak. 

Sikap Mappakiade (Mengadabkan)

Saya masih menyaksikan sikap para orangtua di kampung ketika akan memasak nasi. Pertama-tama mereka mensucikan diri dengan mencuci kaki, memakai pakaian sewajarnya dan penutup kepala (Bowong). Lalu duduk bersimpuh di depan penyimpanan beras (Pabbareseng) mengambil beras dengan takaran (Olak) yang diperlukan disimpan dibaskom lalu dicuci seperlunya dimasukkan kedalam wadah (Oring) dituangkan air yang takarannya dengan ukuran telunjuk tangan yang dicelupkan pada kedalaman beras seperti itu juga muatan air dipermukaan beras lalu dinaikkan diatas tungku kayu bakar. 

Selama menanak nasi itu, tidak meninggalkan tempat/dapur sampai nasi mendidih dan mematikan nyala api sampai dipastikan nasi sudah matang. 

Adab makan dengan bersikap santun : duduk, tidak mengobrol dan tidak menyisakan sebulir nasi dan lauk di piring. Nasi dan lauk yang dimasak di tungku kayu bakar begitu terasa aromanya disantap dengan lahap. 

Bila saya ke kampung di daerah pegunungan, saya masih menemukan suasana itu seperti terasa makan ala Dewa/Tomanurung, Wasukurilla. 

Beranda Inspirasi Ciliwung

15 Januari 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here