Membudayakan Akal Sahat dalam Kontestasi Capres dan Cawapres 2024

0
400
- Advertisement -

Kolom Fiam Mustamin

MENGHITUNG hari saat pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang akan memimpin bangsa ini dalam lima tahun mendatang.

Harapan pertaruhan nasib masa depan rakyat di tangan pemimpin yang amanah yang melindungi dan memperjuangkan nasib masa depan  rakyat lebih dari 270 juta jiwa itu.

Hingga saat ini, sudah tergambarkan tiga  pasangan calon/paslon Presiden dan Wakil Presiden yaitu Anies Rasyid Baswedan dan Muhaimin iskandar, Ganjar Pranowo dan Mahfud MD dan Prabowo dan Gibran. 

Mereka bertiga adalah Paslon yang memiliki peluang yang sama dengan  pengalaman dari jejak kepemimpinan dan program keunggulannya dalam memimpin, melindungi dan mensejahterahkan kehidupan rakyat.

- Advertisement -

Memenangkan Capres dan Cawapres Secara bermartabat

PREDIKSInya siapakah bakal pemenang yang akan bertahta dengan petunjuk lembaga survei bahwa yang berkemungkinan itu adalah who get the heart and mind of the voter/ siapa yang akan merebut hati para pemilih. Termasuk dengan elektabilitas/kepopuleran paslon Capres dan Cawapres tersebut yang dipersepsikan akan melanjutkan kebijakan populis yang berpihak kepada mayoritas voter/ pemilik yang 6O persen wong cilik.

Menang Tidak Mengalahkan

BAGAIMANA laiknya dalam sebuah kompetisi untuk perebutan kemenangan dengan mengedepankan keunggulan taktis kecerdasan bukan semata dengan kekuatan material.

Dalam filosofi kepemimpinan leluhur Jawa dikenal  dengan Nguluk tanpa bala, Menang tanpa ngasorake, Sekti tanp aji aji, Sugih tanpa benda/ artinya : Berjuang tanpa perlu membawa massa, Menang tanpa merendahkan, Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan kekuatan dan Kaya tanpa didasari kebendaan ( Joko Widodo, Amanah Untuk Rakyat, 2019 ).

Orang-orang yang berakal sehat itu hidupnya penuh dengan optimisme dan berupaya untuk selalu menularkan kebaikan. 

Inilah penjabaran dari makna positive thingking.

Bagaimana menerapkan hal itu dalam kehidupan komunal masyarakat yang lebih luas ?

Semisal dalam Pemilu Pilpres  ini, bagi mereka yang berpaham tidak boleh tinggal diam saja, tapi perlu bertindaklah dengan apa yang diketahui seperti yang ditulis oleh

senior Mubha Kahar Muang Daeng Ngagi di  media online Trans Dimensi.

Menyoalkan kontestasi Pilpres 2024, begitu penting memilih orang yang akan dijadikan Tim Kampanye Pemenangan.

Mereka yang dipilih adalah orang yang terukur jejak langkahnya, bukan dengan orang yang penuh dengan konflik kontroversi kehidupannya dan  menyimpan dendam.

Sebagai suatu contoh soal yang sehat di saat Pilpres 2009, dimana Jusuf Kalla dan Wiranto menjadi peserta konsestasi Capres dan Cawapres 2009 dan Fahmi Idris menjadi Ketua Tim Kampanye Nasional Pemenangannya.

Pada suatu forum pembekalan Juru Kampanye  Bang Fahmi menegaskan kepada relawan untuk berkampanye dengan sehat bermartabat dan tidak menjelek-jelekan Capres dan Cawapres kompetitor lainnya.

Adakah hal ini dibudayakan dalam kontestasi Pilpres kali ini?

Tetua leluhur kita dari Timur mengatakan bahwa bila kebaikan yang ada dalam pikiranmu, maka kebaikan itu yang akan ditemui, demikian sebaliknya, bila keburukan yang ada dalam pikiranmu, maka ujungnya keburukan itu pula yang akan muncul.

Nauzubillah …

Legolego Ciliwung 8 November 2023

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here