Marrakesh Maroko

0
669
- Advertisement -

Maroko menoreh sejarah di Piala Dunia 2022 yang lolos ke semi final. Serta merta orang ingin tahu tentang bangsa Afrika itu.

Kolom Mubha Kahar Muang

Jika ingin mengenal Maroko, datanglah ke Marrakesh. Kisah Maroko ada disana. Kota itu menyimpan riwayat sebuah bangsa yang dibangun di atas landasan peradaban Arab Afrika dengan nuansa Eropa yang kental. Sikap warga terbuka dan ramah terhadap pendatang namun tetap mengekspresikan diri sebagai pewaris peradaban Islam.

Orang Fenesialah, bangsa kuno yang pernah menguasai pesisir Laut Tengah, yang mendirikan koloni pertama di Maroko awal abad ke-6 Masehi. Setelah itu Maroko menjadi bagian dari Afrika Barat dan Kerajaan Kertago. Pada awal abad ke-8, berdiri kekhalifahan  Bani Umayyah di Maroko yang membawa bahasa Arab dan Islam.

Ekspansi Islam ke Maroko dimulai ketika Maroko ditaklukkan oleh Musa bin Nusayr al Walid I bin Abdul Malik, khalifah keenam Dinasti Umayyah, tahun 705-715 M. Tariq bin Ziyad, seorang jenderal yang diangkat oleh Musa bin Nusayr, kemudian memerintah Maroko. Musa bin Nusayr lalu menyeberangi selat antara Maroko dan Eropa dan mendarat di sebuah gunung yang lantas dikenal sebagai Jabal Tariq. Inilah yang dikemudian hari dikenal sebagai Gibraltar. Ekspansi Tariq berlanjut ke Spanyol (Andalusia) yang menjadi pintu gerbang masuknya Islam ke Eropa.

Maroko sebelumnya diperintah oleh delapan dinasti, mulai dari Dinasti Idrisid pada tahun 788, dan terakhir Dinasti Alouite pada 1912.

- Advertisement -

Maroko juga adalah negara pertama yang mengakui kedaulatan Amerika Serikat sebagai sebuah negara merdeka tahun 1776

Hubungan baik Maroko dengan Amerika sudah berlangsung lama. Ketika kapal-kapal dagang Amerika diserang oleh bajak laut di akhir 1777 Sultan Muhammad III dari Maroko menyatakan memberi perlindungan kepada semua kapal dagang Amerika yang melintas di Atlantik Utara. 
Hubungan yang baik antara Amerika dan Maroko tercatat dalam sebuah perjanjian persahabatan tahun 1786 dan menjadi perjanjian persahabatan tertua di Amerika.

Setelah era Dinasti Alouite berakhir tahun 1912, Maroko berada di bawah jajahan Perancis dan Spanyol di bagian selatan Maroko hingga tahun 1956.

Maroko merdeka pada 7 April 1956 dengan Rabat sebagai ibu kota negara. Maroko menerapkan sistem monarki semi konstitusional. Perdana menteri pemegang kekuasaan eksekutif pada pemerintahan, namun raja masih memiliki kekuasaan politik seperti militer, kebijakan luar negeri dan urusan agama.

Penduduk asli Maroko adalah suku Berber, suku asli Afrika Utara. Suku ini datang dari bagian timur Lembah Nil menyebar melalui Samudra Atlantik hingga Mesir, dari Laut Mediterania hingga Sungai Niger.

Istilah Berber sendiri berasal dari bahasa Arab untuk menyebut suku dari Afrika Utara tersebut. Bangsa Yunani kuno menyebut bangsa Berber sebagai bangsa Libya, bangsa Romawi menyebutnya Bangsa Mauri atau Bangsa Numidia. Pada abad pertengahan, Eropa menyebut bangsa Berber sebagai bangsa Moor. Suku inilah yang terbanyak mendiami Maroko.

Mengenal Maroko tidak lengkap jika kita tidak mengenal Sahara Barat.
Sahara Barat adalah territori yang disengketakan oleh dua entitas, Republik Demokratik Arab Sahrawi dan Maroko. Maroko mengklaim Sahara Barat adalah bagian dari wilayahnya. Namun klaim Maroko tidak ada satupun negara anggota PBB yang mendukung, sehingga desing peluru dan letusan senjata api sering menyalak di wilayah perbatasan antara Maroko dan Sahara Barat hingga saat ini.

Selanjutnya, melalui konferensi Berlin tahun 1884 Spanyol mendapatkan Sahara Barat sehingga dikenal dengan julukan Sahara Spanyol. Wilayah tersebut berbatasan dengan Maroko di sebelah utara, Aljazair di timur laut dan Mauritania di sebelah timur dan selatan.

Belakangan Spanyol, Mauritania dan Maroko diam-diam membuat kesepakatan membagi kawasan tersebut kepada Mauritania dan Maroko. Hal inilah yang membuat Polisario sebagai kelompok perlawanan masyarakat Sahara Barat yang berjuang untuk kemerdekaan Sahara Barat dan mendapat dukungan dari Al Jazair. Konflik berkepanjangan terjadi sejak tahun 1975 hingga saat ini. Semoga PBB segera mendapat penyelesaian terbaik untuk kedamaian kawasan tersebut.

Marrakesh berbeda dari kota-kota lain di Maroko. Casablanca misalnya,  telah lama menjadi kota turis. Kota ini menjadi sangat populer lewat film Casablanca yang dibintangi Ingrid Bergman pada tahun 1950-an. Sementara Marrakesh yang terletak kurang lebih 400 km dari Rabat, sebaliknya, seperti umumnya kota-kota modern di Timur Tengah, adalah perpaduan dunia modern dan dunia tradisi. Marrakesh kental menyimpan kekayaan lama berupa peninggalan bangsa Berber lewat arsitektur bernuansa Islam yang terawat dengan baik.

Bangunan-bangunan bersejarah umumnya berwarna merah hingga membuat kota terlihat merah. Karena itu Marrakesh dijuluki Madinatul Hamro, Kota Merah. Paduan arsitektur lama dan modern sangat khas mewarnai Marrakesh. Posisi geografisnya berada di lereng Pegunungan Atlas menghadap Atlantik, dan berada pada ketinggian dengan iklim sub-sahara yang relatif hangat sepanjang tahun, menjadikannya tempat liburan musim panas yang menarik turis dari Eropa.

Di tengah kota Marrakesh terdapat sebuah Benteng yang panjangnya kurang lebih lima belas kilometer. Benteng ini mulai dibangun tahun 1126 M oleh Ali Ibn Yusuf pada masa pemerintahan Dinasti Almoravide, tujuannya untuk menangkal serangan musuh. Tinggi gerbangnya 5-9 meter, terbuat dari tanah liat dan kapur campuran tabiah atau sejenis lumpur berwarnah merah sehingga benteng ini pun berwarna merah. Benteng ini memiliki empat belas pintu gerbang menuju kota tua Medina, kota yang bebas polusi. Kendaraan bermotor tidak diperkenankan memasuki kota tua tersebut, sehingga dijuluki kota bebas kendaraan bermotor terbesar di dunia.

Salah satu wisata menarik di Marrakesh adalah penyelenggaraan pesta di tenda-tenda di luar kota. Acara makan malam di hamparan tenda pada lapangan yang amat luas menikmati santap malam khas Berber. Para tamu disuguhi tontonan atraksi ketangkasan berkuda dengan senapan laras panjang dengan berbagai posisi yang cukup menarik seperti berpegang di samping kuda dengan satu tangan dan satu tangan memegang senjata laras panjang. Selain itu tak ketinggalan tari-tarian khas Arab tetapi sang penari dibuat jauh dari jarak pandang penonton hingga tampak yang menari bagai boneka Barbie saja. Ini menandakan kebiasaan lama yang merupakan tradisi dan budaya orang-orang Marrakesh tetap dipertahankan tetapi dikemas sedemikian rupa untuk menjadi suguhan menarik bagi para pengunjung.

Marrakesh adalah contoh menarik kota yang mempertahankan kekhasan tradisionalnya sambil mengadaptasi dunia modern. Warga Marrakesh berkomunikasi dalam tiga bahasa, Arab Maroko yang disebut Darija, Berber dan Prancis. Usaha keras Marrakesh menjadi kota penting dunia membuahkan hasil. Marrakesh kini jadi ikon Maroko setelah Casablanca yang terkenal itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here