Manusia Indonesia dalam Pembangunan Bangsa

0
450
Prof.Dr. Mashadi Said

Kolom Fiam Mustamin

KUALITAS manusia yang bagaimana yang diperlukan dalam mengisi kemerdekaan untuk pembangunan bangsa?

Kalimat pertanyaan ini, saya coba uraikan dari dua hal bacaan sebagai berikut : pertama, sastrawan dan wartawan Mochtar Lubis menulis buku   Manusia Indonesia, Sebuah Pertanggungan Jawaban, sebagai Orasi Kebudayaan di Taman Ismail Marzuki, 1981, 40 tahun silam.

- Advertisement -

Lalu kedua, Prof Dr Mashadi Said menulis buku Jati Diri Manusia Bugis dari naskah disertasinya, 2006, 5 tahun silam.

Apa yang dipetik dari dua narasi itu.

Di tengah kekuasaan otoriter Orde Baru, Mochtar Lubis tampil dengn suara lantang mengkritisi perilaku kekuasaan yang represif, terbungkamnya suara mimbar kampus dan independensi pers.

Mochtar Lubis juga adalah pemimpin surat khabar Indonesia Raya yang dibredel oleh pemerintahan rezim Orde Lama, Soekarno.

Situasi ini dialami oleh tokoh pers, intelektual pergerakan Rosihan Anwar, pemimpin surat kabar Pedoman dan BM Diah pemimpin surat kabar Merdeka.

Dalam kurun  waktu yang berbeda di era pemerintahan reformasi, tokoh pers pemimpin Kompas Grup, Jacob Oetama bersuara kritis dengan orasinya sebagai Doktor Honoris Causa bidang Komunikasi, Antara Jurnalisme Fakta dan Jurnalisme Makna, disematkan oleh Universitas Gajah Mada 17 April 2003.

Lalu tampil Mashadi Said dengan keresahannya melihat terjadinya pergeseran nilai budaya luhur yang semakin menjauh dari sumbunya yang dapat mengancam bagi keberlanjutan jati diri luhur bangsa secara umum.

Terjadinya pengaruh kehidupan Neo Klasik Modern yang lebih mengutamakan kehidupan material dan pragmatisme tak ada pendalaman untuk penciptaan inovasi (tiba masa tiba akal).

Manusia yang bermartabat tidak lagi dipandang dari segi tingkat keluhuran budi pekertinya, tapi lebih kepada kemampuan materi ekonominya tanpa mempedulikan dengan etika moral mendapatkannya.

Pandangan Mashadi ini berdasarkan analisis falsafi dari sistem moral sumber Lontara, referensi pustaka klasik Bugis.

Manusia Indonesia, Perspektif Manusia Bugis

MEMBICARAKAN manusia Indonesia dalam perspektif manusia Bugis merujuk kepada pemikiran dalam buku Mashadi yang membahas 5 hal utama tatanan nilai dalam kehidupan Bugis yaitu: 1. Tentang eksistensi manusia Bugis dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, 2. Pandangan dunia Bugis dalam kehidupan sehari hari, 3. Ciri pribadi dalam pengejawantahan makna hakikat Siri’ dan Pesse, 4. Pandangan dunia Bugis dengan etika di masyarakat, dan 5. Pandangan dunia Bugis dan teori moral secara universal.

Dengan itu semua dibahas secara mendalam berdasarkan Lontara dari aspek kehidupaan menjadi manusia sejati Bugis (Tau Tongeng) bukan rupa Tau Tau atau simbol/boneka.

Kemudian manusia sejati itu  diamanatkan menjadi pemimpin pemimpin kaum di lingkungan terkecil dari keluarga rumah tangga, lingkungan masyarskat dan seterusnya.

Indonesia  yang sudah  Merdeka 76 tahun 17 Agustus 1945 masih mengalami berbagai ancaman disentegrasi karena paham sempit mengenai keberagaman ras etnis dan agama dan kepercayaan, kebencian,  terorisme, kejahatan dan imperialisme penjajahan baru yang berbasis digital ( tulis budayawan watawan senior Zainal Bintang) serta penyalahgunaan narkoba dan lain sebagainya.

Kesemua itu memerlukan kebersamaan untuk menghadapinya dalam satu sikap pandangan dan tindakan kesatuan dalam kebangsaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Tulisan ini mengantar harapan, kiranya Prof Mashadi  tampil menyampaikan Orasi Kebangsaan: Manusia Indonesia Bugis dalam Kepeloporan dan Kepemimpinannya.

Seperti dicontohkan oleh tokoh leluhur berdarah Bugis Makassar dari masa pergerakan Kebangsaan Boedi Oetomo 1908, Dr Wahidin Sudiro husodo sampai  perjuangan Kemerdekaan dan mempertahankannya semisal pengorbanan 40 ribu jiwa rakyat di Sulawesi Selatan.

Generasi cucu turunan mereka tak menuntut balas jasa budi dari negara.

Di penutup tulisan ini, saya ingin berbagi sebuah sprit kolektivitas dari lagu : to love some body we are love you … yang dishare oleh rekan aktivis, praktisi hukum Nelson di grup Institut Lembang Sembilan.

Musik dan syair lagu itu sebuah kolaborasi dan movemen yang padu antara penyanyi, pemusik dan kerja kamera perekam.

Bagi kitapun yang menyaksikannya tidak diam pasif, tapi ikut terbawa dengan suasana gerakan yang ditampilkan  musik itu,  dahsyat.

Beranda Inspirasi Ciliwung 29 Mei 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here